Sejarah Singkat Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris
Nike Pamela, M. A.
“No book has appeared in as many languages and editions as has the Bible”
Mempelajari sejarah penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa merupakan suatu penelusuran sejarah yang menarik. Menurut American Bible Society, seluruh isi Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam 273 bahasa (berdasarkan data beberapa tahun silam), sedangkan terjemahan beberapa bagian Alkitab sudah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam 1412 bahasa tambahan. Bagaimana Alkitab dapat mencapai jumlah angka yang cukup fantastik tersebut?
Terbentuknya terjemahan-terjemahan Alkitab
Alkitab Perjanjian Lama (PL), yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Ibrani, kecuali beberapa bagian kecil yang ditulis dalam bahasa Aram, merupakan kumpulan dari tradisi oral (dari mulut ke mulut) dan tertulis yang berasal dari dari sekitar abad 12 SM. Tidak ada naskah asli (autografa) yang masih tersimpan hingga sekarang. Kumpulan naskah tulisan tersebut selanjutnya dikanonkan dan diterima sebagai sesuatu yang diilhamkan oleh Allah dari satu generasi ke generasi berikut oleh para juru tulis Alkitab.
Pembuangan bangsa Israel dan Yehuda ke Babel (sekitar abad ke-6 SM) merupakan pemicu awal munculnya berbagai terjemahan PL lainnya. Salah satunya contohnya adalah kemunculan Targum Aram, yaitu terjemahan PL ke dalam bahasa Aram. Hal ini disebabkan karena pada masa pembuangan, banyak orang Yahudi, utamanya yang lahir di pembuangan, yang tidak lagi dapat berbahasa Yahudi sedangkan bahasa sehari-hari yang dipakai di pembuangan adalah bahasa Aram.
Sekembalinya bangsa Yahudi dari pembuangan dan kekuasaan Persia atas bangsa Yahudi sudah beralih ke tangan bangsa Yunani melalui penaklukan yang dilakukan oleh Aleksander Agung, maka bahasa Yunani menjadi bahasa dominan saat itu. Kebutuhan pemahaman PL melalui terjemahan bahasa yang dipahami saat itu, yaitu Yunani, memicu munculnya Septuaginta, yaitu terjemahan PL dalam bahasa Yunani (lihat sejarah singkatnya pada beberapa terbitan warta Exodus yang lalu).
Alkitab Perjanjian Baru (PB) akhirnya juga berhasil dikanonkan dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani sekitar abad ke-4 M. Tahun 315 M, Bishop dari Aleksandria, Athanasius, memperkenalkan 27 kitab yang sekarang kita kenal dengan PB. Dengan demikian seluruh Alkitab, baik PL dan PB, masing-masing dapat dipahami orang pada jaman itu melalui penggunaan bahasa Yunani.
Terjemahan Latin Vulgata dan Supremacy Gereja Roma Katolik
Pergantian dominasi politik dari orang-orang Yunani ke tangan orang-orang Romawi juga berdampak pada dominasi bahasa yang dipakai saat itu. Walaupun pergantian bahasa itu tidak secepat pergantian pengaruh politiknya, namun pergeseran itu nampak jelas bergerak perlahan-lahan.
Latin Vulgata adalah terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin. Paus Damasus I (bertahta 366-384 M) adalah orang yang memerintahkan Jerome, sekretaris-nya, pada tahun 382 untuk membuat satu revisi dan terjemahan Alkitab bahasa Latin yang kelak akan dijadikan standar terjemahan resmi gereja saat itu (saat itu terdapat banyak sekali terjemahan Alkitab bahasa Latin). Ada beberapa kondisi (secara langsung maupun tidak langsung) yang memicu Paus Damasus I menyuruh Jerome untuk membuat satu standar terjemahan Alkitab Latin:
1. Banyaknya terjemahan Alkitab Latin yang beredar saat itu.
Kemunculan terjemahan-terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin bukan berawal dari Roma, melainkan dari Afrika Utara. Selama 2 abad pertama, gereja di Roma masih memakai bahasa Yunani, baik literatur-nya, nama-nama bishop-nya, maupun liturgi-nya. Versi-versi Alkitab Latin yang ditemukan di Afrika Utara (sekitar pertengahan abad 3 M) dapat ditermukan pada tulisan-tulisan Cyprian dan Tertulianus. Tetapi versi-versi ini terlihat sederhana, kasar dan berciri khas masing-masing provinsi dimana versi itu ditulis. Ketika gereja di Itali mulai menjadikan bahasa Latin sebagai bahasa resminya (kemungkinan sekitar akhir abad ke-3 M), ciri khas dari versi Alkitab Latin mereka yang berbau Afrika Utara, jelas tidak cocok jika dipakai di gereja Roma yang ciri khasnya lebih sopan. Maka mereka membuat versi Alkitab Latin sendiri yang disesuaikan dengan ciri khas provinsinya. Begitulah gambaran sekilas munculnya berbagai versi Alkitab Latin yang berciri khas masing-masing provinsi.
2. Munculnya bidat-bidat.
Selain karena faktor ketidaknyamanan dalam berkotbah dan melaksanakan liturgi dengan berbagai variasinya, gereja membutuhkan satu teks berotoritas melawan para bidat yang bermunculan saat itu. Adanya beberapa versi Alkitab Latin yang dalam beberapa bagian teksnya justru membela pendapat para bidat serta tidak adanya versi Alkitab stanbdar membuat gereja semakin sulit untuk membuktikan kebersalahan bidat-bidat itu. Apalagi, orang-orang Yahudi , dengan satu teks otoritasnya, malahan mentertawakan orang-orang Kristen yang bingung dengan bermacam-macam versi Alkitab mereka.
3. Perpisahan gereja Barat dan Timur
Ketika Kaisar Constantine memindahkan ibukota Roma ke kota Konstatinopel (kota yang dibangunnya sendiri dengan memberi nama sesuai dengan namanya) pada tahun 330, maka tindakan ini memicu perpisahan gereja-gereja di Barat dan Timur baik secara politik maupun urusan gerejawi. Gereja-gereja di Barat dan Timur masing-masing ingin memiliki standar teks Alkitab sendiri untuk mengklaim otoritas mereka masing-masing.
Maka mulailah Jerome melaksanakan tugasnya hingga tahun 405 dia berhasil menerjemahkan seluruh PL dan PB serta beberapa kitab Apokrifa. Hasil terjemahan Jerome ini diberi nama Latin Vulgata (versio vulgata) yang artinya adalah terjemahan yang diperuntukkan untuk umum.
Menjelang tahun 500 M, Alkitab telah diterjemahkan (tidak secara lengkap) ke dalam sekitar 500 bahasa. Namun satu abad berikutnya (sekitar 600 M), gereja Roma Katolik (selanjutnya disingkat RK) sebagai institusi yang mendapat klaim ‘gereja yang universal’ sekitar tahun 170 M, melarang pemakaian terjemahan-terjemahan Alkitab, kecuali terjemahan Latin Vulgata. Orang-orang yang memiliki terjemahan Alkitab selain Latin Vulgata akan mendapat hukuman mati.
Larangan ini berkenaan dengan hak istimewa yang dimiliki para rohaniwan gereja RK untuk mempelajari bahasa Latin. Dengan keistimewaan ini gereja memperoleh kekuasaan mutlak untuk membuat berbagai pengajaran gereja tanpa adanya keberatan dari kaum awam karena ketidakmampuan mereka untuk membaca Alkitab dalam bahasa Latin. Selain itu jika kaum awam dapat membaca Alkitab dalam bahasa yang mereka mengerti, maka pendapatan gereja akan berkurang. Hal ini berkenaan dengan proyek-proyek gereja, misalnya dengan menjual indulgensia, yaitu surat penghapusan dosa dan purgatory, yaitu melepaskan orang yang kita kasihi tetapi sudah meninggal dari purgatory (api penyucian).
Supremasi gereja RK dalam menyatakan otoritas Latin Vulgata mencapai puncaknya pada Konsili Trente pada 8 April 1546. Dalam Konsili ini ditetapkan, “But if any one receive not, as sacred and canonical, the said books entire with all their parts, as thay have been used to be read in the Catholic Church, and as they are contained in the old Latin Vulgate edition; and knowingly and deliberately contemn (condemn) the traditions aforesaid; let him be anathema” (Tetapi jika ada orang yang tidak menerima sebagai kitab-kitab yang suci dan kanonik, yaitu kitab-kitab yang disebutkan dengan bagian-bagiannya, sebagaimana yang dulunya dibaca oleh gereja Katolik dan yang terdapat dalam edisi Latin Vulgata, dengan sadar dan sengaja menghakimi tradisi-tradisi yang disebutkan sebelumnya; maka terkutuklah dia).
Tokoh-tokoh Penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Inggris dan Beberapa Versi Alkitab Terkenal
Walaupun larangan penerjemahan Alkitab tetap terus berlangsung disertai intimidasi hukuman mati bagi para penerjemah dan pembacanya, namun dalam providensia-Nya, Allah telah menetapkan orang-orang dan peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah jaman untuk menyebarkan Firman-Nya melalui terjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa.
Sejarah penerjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris dimulai pada periode yang dinamakan Anglo-Saxon (500-700 M). Gereja-gereja di Inggris yang ada dalam kekaisaran Roma sudah terbiasa mempergunakan Alkitab Latin (Latin Vulgata). Kebutuhan akan suatu terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris muncul bersamaan dengan penginjilan dan pertumbuhan gereja Anglo-Saxon pada abad ke-6 M.
Venerable Bede, seorang biarawan dari Jarrow, menceritakan tentang Caedmon, seorang gembala ternak, yang mendapat anugerah dari Allah yang memampukan dia untuk menyanyikan tema-tema Alakitab dalam bahasa Inggris. Tindakan Caedmon ini banyak ditiru orang-orang Inggris jaman itu untuk mempopulerkan ayat-ayat dalam Alkitab.
Setelah Caedmon, terjemahan Alkitab dimulai.
1. Aldheim (640-709) menerjemahan Mazmur sekitar tahun 700 M.
2. Bede sendiri (menurut tulisan muridnya, Cuthbert) menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Inggris sebelum Bede meninggal pada tahun 735 M.
3. Setelah menaklukkan tentara-tentara Denmark yang menyerbu kerajaannya, Alfred, raja Wesse (849-901) membantu perkembangan pendidikan dan agama, termasuk di dalamnya terjemahan Kitab Suci yang dilakukannya sendiri. Sebagaimana yang dilaporkannya sendiri, Alfred menerjemahkan Alkitab dari Latin ke Inggris kuno dengan sistim terjemahan kata perkata atau kadang arti perarti. Meskipun tulisannya masih diragukan, tradisi menyebutkan bahwa Alfred menerjemahkan Sepuluh Perintah Allah dan beberapa bagian dari Keluaran 21-23 bersamaaan dengan Kisah Para Rasul 15:23-29.
4. Aldred (sekitar 950-970) menambahkan terjemahan dalam bentuk Inggris Kuno. Salah satu contoh yang ditemukan adalah Doa Bapa kami:
Suae ðonne iuih gie bidde fader urer ðu arð ðu bist in heofnum + in heofnas; sie gehalgad noma ðin; to-cymeð ric ðin. sie willo ðin suae is in heofne J in eorðo. hlaf userne oferwistlic sel us to dæg. J forgef us scylda usra suae uoe forgefon scyldgum usum. J ne inlæd usih in costunge ah gefrig usich from yfle
5. Farman (seorang pendeta) sekitar tahun yang sama dengan Aldred menulis terjemahan Injil Matius
6. Sekitar tahun 990 muncul terjemahan keempat Injil (terkenal dengan nama Wessex Gospels). Salah satu contohnya adalah Doa Bapa kami (Mat. 6:9-31):
Fæder ure þu þe eart on heofonum, si þin nama gehalgod. To becume þin rice, gewurþe ðin willa, on eorðan swa swa on heofonum. Urne gedæghwamlican hlaf syle us todæg, and forgyf us ure gyltas, swa swa we forgyfað urum gyltendum. And ne gelæd þu us on costnunge, ac alys us of yfele. Soþlice
7. Abbot Ælfric : menerjemahkan hampir seluruh PL ke dalam bahasa Inggris Kuno.
Walaupun nama-nama mereka sering tidak dicatat sebagai tokoh-tokoh dalam sejarah penerjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris, mereka adalah para perintis penerjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.
Situasi gereja di Inggris pada abad ke-11-14
Selama lebih dari 300 tahun, tidak ada bentuk terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris. Salah satu alasan mendasarnya adalah penyerbuan Norman (Perancis) terhadap Inggris pada tahun 1066 yang salah satunya berakibat pada keterbatasan penggunaan bahasa Inggris. Bahasa Inggris hanya dipergunakan untuk dokumen-dokumen tertulis saja. Para bangsawan biasa menulis dalam bahasa Perancis yang dianggap sebagai bahasa elite, sedangkan bahasa yang dipergunakan untuk dokumen-dokumen resmi gereja adalah bahasa Latin. Bahasa Inggris sendiri hanya dipergunakan oleh kaum bawahan, seperti para petani. Jika ada orang yang menanyakan tentang kehendak Allah dalam Alkitab, kaum rohaniwan akan menampik pertanyaan tersebut. Karena selain mereka tidak tahu jawabannya (karena mereka hanya membaca terjemahan Alkitab bahasa Latin dan hanya membaca bagian-bagian tertentu yang dipergunakan dalam liturgi ibadah), mereka juga tidak memahami bahasa Latin dengan benar sehingga mereka tidak dapat memberi jawaban kepada kaum awam selain doa-doa bahasa Latin yang biasa dipakai dalam ibadah.
Pada pertengahan abad 14, yaitu tahun 1348, di Inggris terjadi wabah penyakit pes. Jumlah korban meninggal karena wabah pes ini cukup besar. Banyak kaum awam yang menderita karena sanak saudaranya atau kawannya yang meninggal. Peristiwa ini merupakan jalan yang dipakai gereja untuk lebih mempromosikan purgatori ketimbang menghibur orang-orang yang menderita saat itu karena kehilangan kerabat atau kawannya. Secara finansial, gereja mendapat banyak keuntungan dari peristiwa ini.
Di tengah situasi kebobrokan gereja yang sangat parah inilah muncul orang-orang yang dipakai Tuhan untuk membawa gereja-Nya kembali pada Alkitab.
John Wycliffe (1329-1384)
Manuskrip Alkitab (tulisan tangan) PB dalam bahasa Inggris yang pertama kali muncul diselesaikan pada tahun 1380-an oleh seorang teolog dari Oxford, John Wycliffe; sedangkan terjemahan PL-nya baru selesai pada tahun 1382. Di Eropa dia sangat terkenal karena sikapnya yang menentang banyak pengajaran dari gereja RK yang dipercayainya bertentangan dengan Alkitab, misalnya transubstansiasi dan keberadaan imam atau paus sebagai perantara antara manusia dengan Allah.
Dengan bantuan para pengikutnya (dikenal dengn ‘the Lollards’) dan asistennya (Purvey) dan para ahli tulis lainnya, Wycliffe berhasil menerjemahkan Alkitab dalam bentuk manuskrip ke dalam bahasa Inggris. Satu-satunya sumber terjemahan yang dipergunakan saat itu adalah Latin Vulgata.
Paus sangat marah dengan pengajaran dan terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris yang dibuat oleh Wycliffe. Beberapa pengikut Wycliffe (purvey dan Hereford) dimasukkan ke dalam penjara sedangkara beberapa rekannnya yang lain dibakar di tiang gantungan dengan Alkitab yang digantungkan di leher mereka. Orang-orang yang kedapatan sedang membaca Wycliffe Bible akan dikenakan denda baik berupa harta mereka ataupun nyawa mereka.
Kemarahan Paus terus berlangsung, bahkan 44 tahun setelah kematian John Wycliffe, Paus menyuruh penggalian ulang terhadap makan Wycliffe, meremukkan tulang-tulang mayatnya dan membakarnya. Abu remukan tulangnya itu dihanyutkan di aliran sungai Swift. Banyak yang mengatakan bahwa tindakan gereja yang menyebarkan abu tersebut ke sungai yang akhirnya mengalir ke berbagai tempat justru menggambarkan bagaimana penyebaran pengajaran Wycliffe.
Karena tindakan-tindakannya itu, John Wycliffe sering disebut sebagai ‘Father of English Bible’ dan ‘The Morning Star of Reformation.’
John Hus
Walaupun Wycliffe telah meninggal, salah seorang pengikutnya, John Hus, terus menggemakan pengajaran Wycliffe yang berusaha agar kaum awam juga mendapat kesempatan untuk membaca Alkitab dengan bahasa yang mereka pahami. Akhirnya Hus juga dibakar di kayu pancung pada tahun 1415 dengan manuskrip Wycliffe sebagai alat untuk membarakan apinya. Menjelang kematiannya, Hus berkata, “in 100 years, God will raise up a man whose calls for reform cannot be surpressed” (dalam 100 tahun, Allah akan membangkitkan seseorang yang panggilannya untuk mereformasi gereja tidak dapat dielakkan).
Johann Gutenberg
Sekitar tahun 1450-an Johann Gutenberg menciptakan penemuan mesin cetak. Hal yang paling menakjubkan adalah bahwa buku yang pertama kali dicetak dengan mesin cetak adalah Alkitab Latin Vulgata di Mainz, Jerman. Cetakannya terkenal dengan Gutenberg Bible.
Sumbangsih besar yang diberikan Gutenberg terhadap Alkitab tidak diimbangi dengan kehidupannya. Hal yang ironis adalah bahwa Gutenberg akhirnya menjadi korban bisnis kotor para rekannya yang menggiringnya pada kemiskinan hingga akhir hayatnya. Walaupun demikian, penemuannya merupakan sumbangsih besar dalam penyebaran Alkitab dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang singkat. Inilah salah satu faktor pendukung keberhasilan Reformasi.
Thomas Linacre
Sekitar tahun 1490-an, seorang dosen dari Oxford dan dokter pribadi Raja Henry ke-7 dan ke-8, Thomas Linacre, memutuskan untuk mempelajari bahasa Yunani. Setelah membaca kitab-kitab Injil dalam bahasa Yunani dan membandingkannya dengan Latin Vulgata, dia mendapati bahwa banyaknya kesalahan fatal dalam terjemahan Latin Vulgata dalam menggemakan pesan Injil. Dalam diarinya dia menuliska, “Either this (the original Greek) is not the Gospel… of we are not Christians.”
Setelah mengetahui banyaknya kesalahan Latin Vulgata, Linacre segera memberitahu rekannya, John Colet, seorang dosen dari Oxford juga.
John Colet
Setelah diberitahu Linacre tentang kesalahan-kesalahan Latin Vulgata, Colet terinspirasi untuk mengikuti jejak Linacre dan dia segera pergi ke Itali untuk mempelajari bahasa Yunani. Dia mengahbiskan waktu 2 tahun untuk mempelajarinya, dan sekembalinya ke Oxford, Colet membantu Linacre untuk membuat buku tata bahasa Yunani dalam bahasa Inggris. Karya Linacre dan Colet mempunyai kontribusi besar untuk membuka kesadaran kaum awam dalam memahami bahwa terjemahan latin Vulgata sangat tidak dapat dipercaya.
Pada 1496, John Colet mulai membaca Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris untuk keperluan para mahasiswanya di Oxford dan untuk kaum awam di St. Paul’s Cathedral di London. Orang-orang sangat ingin mendengar Firman Tuhan dalam bahasa yang mereka pahami sehingga dalam waktu 6 bulan ada sekitar 20.000 orang yang berkumpul di gereja sementara orang lainnya berusaha untuk masuk dalam gereja. Beruntunglah Colet karena dia memiliki rekan-rekan dari kalangan orang penting (Colet adalah anak walikota London) sehingga dia terbebas dari hukuman mati.
Erasmus
Seorang sarjana besar dan sekaligus murid dari Thomas Linacre, Erasmus of Rotterdam, sangat terbeban untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan Latin Vulgata. Salah satu dari banyak kesalahan yang dilakukan oleh Latin Vulgata adalah menuliskan Matius 3:1-2 dengan menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukan menyuruh orang-orang untuk bertobat (Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”), melainkan untuk melakukan pengakuan dosa kepada para pejabat gereja berwenang. Dan biasanya pejabat gereja akan menindaklanjutinya dengan menyarankan kaum awam untuk membeli surat penghapusan dosa (indulgensia).
Pada tahun 1516, dengan bantuan John Froben yang ahli dalam cetak-mencetak, Erasmus menerbitkan Perjanjian Baru yang memparalelkan bahasa Yunani dan Latin. Namun Alkitab bahasa Latin yang dipakai bukanlah Latin Vulgata, melainkan hasil terjemahannya sendiri dari teks Yunani yang lebih akurat dan bisa diandalkan. Hasilnya adalah karyanya merupakan teks Alkitab pertama dalam bahasa Latin (bukan Latin Vulgata) yang dicetak sepanjang abad tersebut.
William Tyndale
Tyndale adalah adalah seorang sarjana sejati yang sangat genius. Di tangannyalah predikat ‘orang yang pertama kali menerbitkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris’ disandang. Dia menguasai 8 bahasa, bahkan jika dia sedang mempergunakan salah satu bahsa tersebut, orang yakin bahwa dia adalah native speaker dari bahasa tersebut. Salah satu predikat yang disandangnya adalah “Architect of the English Language” (Arsitek bahasa Inggris) karena banyak frase yang diciptakannya dan masih dipergunakan hingga saat ini.
Di Oxford dia mempelajari bahasa Yunani, Ibrani dan Latin. Salah satu buku favoritnya adalah Yunani PB yang dicetak oleh Erasmus pada tahun 1516. Dengan mempelajari buku tersebut, dia mendapati bahwa gereja tidak mengajarkan apa yang tertulis dalam Alkitab. Pada akhir masa perkuliahannya di Oxford, Tyndale berhasil menyelesaikan terjemahan PB-nya dan dia hendak menerbitkannya. Tyndale sendiri harus melarikan diri dari Inggris menuju ke Jerman karena adanya rumor bahwa proyek terjemahan PB-nya masih terus berlangsung dan hal ini menyebabkan para petinggi gereja memburunya. Namun Allah menggagalkan usaha mereka karena pada tahun 1526-1527 terjamahan PB Tyndale menjadi edisi terjemahan bahasa Inggris yang dicetak untuk pertama kalinya.
Pada tahun 1526, beribu-ribu salinan cetakan PB Tyndale memasuki Inggris, yang disembunyikan di antara tumpukan barang-barang atau tong-tong berisi ikan dan di berbagai tempat yang hanya diketahui oleh para penyelundup. Antara tahun 1526-1528, paling sedikit ada 18.00 salinan PB Tyndale masuk ke Inggris. Ironisnya, pelanggaran terbesar cetakan PB Tyndale adalah orang-orang bawahan raja yang membeli semua cetakan PB tersebut dan selanjutnya membakarnya.
Para petinggi gereja dan kerajaan memburu salinan cetakan PB Tyndale tersebut. Gereja malah menyatakan bahwa terjemahan Tyndale tersebut mengandung banyak kesalahan. Mereka membakar salinan PB tersebut jika mereka berhasil menyita para masyarakat yang memilikinya. Bahkan orang yang didapati mempunyai salinan tersebut akan dihukum dengan cara dibakar. Namun semakin gencar perburuan itu dilakukan, semakin tinggi keingintahuan masyarakat akan salinan PB tersebut.
Pada Oktober 1536, Tyndale menjalani eksekusi hukuman mati dengan cara dicekik lalu dibakar. Dia dianggap sebagai bidat karena dalam tulisannya, Tyndale secara jelas menolak transubstansiasi dan berpegang pada konsep ‘pembenaran oleh iman.’ Kata-kata terakhirnya sebelum menjalani hukuman adalah ‘God, open the King of England’s eyes.’
Martin Luther
Hampir 100 tahun setelah kematian John Hus, ucapan terakhirnya menjadi kenyataan. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther menempelkan 95 dalil tentang pengajaran sesat dan kejahatan-kejahatan yang dilakukan gereja RK di pintu gerbang gereja Wittenberg, Jerman. Pada tahun yang sama, 7 orang dibakar di tiang pancung oleh gereja RK karena ‘kejahatan’ yang mereka lakukan, yaitu mengajarkan anak-anak mereka untuk mengucapkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Latin.
Walaupun Luther mendapatkan hukuman pengasingan oleh Diet of Worms pada tahun 1521, namun pada September 1522 dia berhasil menyelesaikan dan mencetak penerjemahan Alkitab Yunani-Latin milik Erasmus ke dalam bahasa Jerman. Proyeknya ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1516. Luther juga mencetak terjemahan Pentateukh pada tahun 1523 dan edisi lain PB dalam bahasa Jerman pada tahun 1529. Sekitar tahun 1530-an dia berhasil menerbitkan terjemahan seluruh isis Alkitab dalam bahasa Jerman.
Myles Coverdale (Coverdale Bible)
Myles Coverdale dan John Roger (Thomas Matthew) adalah dua orang yang menjadi murid Tyndale pada 6 tahun terakhir hidupnya. Mereka berdua tetap setia dengan komitmen Tyndale untuk menyebarluaskan terjemahan Alktab dalam bahasa Inggris agar mudah dipahami oleh orang awam. Coverdale menyelesaikan terjemahan PL dan berusaha menerbitkan terjemahan seluruh Alkitab PL dan PB dalam bahasa Inggris dengan mempergunakan terjemahan bahasa Jerman milik Luther dan bahasa Latin sebagai sumber terjemahannya. Pada 4 Oktober 1535 terbitlah Coverdale Bible sebagai Alkitab bahasa Inggris yang pertama kali menerbitkan PL dan PB.
John Rogers (Matthew-Tyndale Bible)
John Rogers meneruskan apa yang sudah dilakukan Coverdale dengan menerbitkan edisi kedua terjemahan bahasa Inggris PL dan PB yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan Yunani. Rogers menerbitkannya dengan memakai nama samaran Thomas Matthew (nama yang dianggap dipergunakan oleh Tyndale pada suatu saat tertentu). Karyanya ini merupakan gabungan karya Pentateuch Tyndale dan PB-nya edisi 1534-1535, Coverdale Bible dan beberapa bagian karya terjemahan Rogers sendiri. Karyanya ini terkenal dengan nama Matthew-Tyndale Bible.
Raja Henry VIII (Great Bible)
Ucapan Tyndale terakhir sebelum kematiannya tergenapi ketika raja Henry VIII mengijinkan dan sekaligus membiayai pencetakan Alkitab dalam Bahasa Inggris yang terkenal dengan Great Bible.
Apa yang mendasari tindakan atau motif raja Henry VIII mengijinkan dan membiayai penerbitan Alkitab bahasa Inggris setidaknya mengajarkan kepada kita tentang sesuatu yang menarik. Kadangkala Allah ‘memanfaatkan’ hal-hal buruk terjadi untuk mendatangkan suatu kebaikan.
Raja Inggris saat itu, Henry VIII (1491-1547) ingin menceraikan istrinya Catherine of Aragon. Mereka sudah memiliki 6 anak perempuan namun raja Henry menginginkan seorang putra sebagai penerusnya. Raja sedang jatuh cinta pada Anne Boleyn yang diharapkan akan memberikan seorang puta baginya. Keinginan raja tersebut sangat bertentangan dengan peraturan gereja KR yang tidak memperbolehkan terjadinya perceraian. Paus menolak keinginan raja untuk menikah lagi dengan Anne. Tetapi raja meresponi larangan Paus dengan menikahi Anne. Sebagai dukungan terhadap tindakannya tersebut, raja menyatakan Inggris terlepas dari kekuasaan Gereja RK dan selanjutnya meresmikan dirinya sendiri sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala gereja yang baru. Gereja yang baru tersebut terkenal dengan Anglican Church atau Church of England. Tindakannya yang bertentangan dengan gereja RK diwujudkan dengan membiayai pencetakan Alkitab dalam bahasa Inggris dan meresmikannya sebagai sesuatu yang legal.
Pada tahun 1539, uskup besar Canterbury, Thomas Cranmer, menyewa Miles Coverdale atas permintaan raja Henry VIII untuk menerbitkan ‘Great Bible. Great Bible menjadi ’Alkitab bahasa Inggris yang pertama kali diijinkan dipakai untuk keperluan umum.’ Cetakan Great Bible dibagikan ke setiap gereja, diikatkan di mimbar gereja dan bahkan disediakan seorang pembaca sehingga orang yang buta huruf sekalipun dapat mendengarkan Firman Allah dalam bahasa Inggris yang sangat jelas. Pemberian nama Great Bible disesuaikan dengan ukuran cetakan Alkitab tersebut, yaitu seukuran dengan mimbar besar gereja (sekitar 14 inci tingginya).
Setelah kematian raja Henry VII dan selanjutnya dilanjutkan dengan raja Edward VI, gema kemerdekaan masih tetap bergaung. Namun pengganti raja Edward, yaitu ratu Mary, merupakan penghalang terbesar bagi penerbitan Alkitab di Inggris. Dia berkeinginan mengembalikan Inggris ke pangkuan gereja RK. Pada tahun 1555, ratu Mary memerintahkan ekseskusi terhadap John “Thomas Matthew” dan Thomas Cranmer dengan cara dibakar. Tidak berhenti sampai di sana, ratu Mary meneruskan tindakan membakar orang-orang yang dianggapkan menjadi Protestan. Masa ini terkenal dengan Marian Exile dimana banyak orang melarikan diri dari Inggris untuk mendapatkan perlindungan dari hukuman ratu Mary.
Para Reformer dari Geneva (Geneva Bible)
Sekitar tahun 1550-an, gereja di Geneva (Switzerland) menampung orang-orang yang melarikan diri dari kejaran ratu Mary. Mereka bertemu di Geneva, dipimpin oleh Myles Coverdale dan John Foxe (penerbit buku Foxe’s Book of Martyr) dan juga Thomas Sampson dan William Whittingham. Dengan perlindungan dari John Calvin dan John Knox, gereja Geneva mengambil keputusan untuk membuat suatu Alkitab yang akan mengajar keluarga-keluarga mereka sementara mereka berada di pengasingan.
PB diselesaikan pada tahun 1557 dan seluruh Alkitab berhasil diterbitkan pada tahun 1560. Alkitab ini terkenal dengan nama Geneva Bible. Geneva Bible merupakan Alkitab yang pertama kalinya menambahkan ayat dan pasal-pasal. Setiap pasal ditambahi dengan referensi-referensi sehingga Geneva Bible juga merupakan Alkitab Inggris pertama yang juga berfungsi sebagai Study Bible.
Geneva Bible merupakan Alkitab yang dipilih untuk dipakai oleh orang-orang Kristen yang berbahasa Inggris selama lebih dari 100 tahun. Antara 1560-1644 sedikitnya ada 144 edisi Geneva Bible yang diterbitkan. Geneva Bible sendiri mempertahankan 90 % isi dari terjemahan milik Tyndale.
Geneva Bible juga merupakan Alkitab yang pertama kali dibawa ke Amerika dan menjadi Alkitab orang Puritan dan Pilgrims.
Ratu Elizabeth I (Bishop Bible)
Dengan berakhirnya pemerintahan berdarah ratu Mary, orang-orang yang dulunya melarikan diri dari Inggris mulai kembali. Gereja Anglican, di bawah ratu Elizabeth I, keberatan dengan pencetakan dan penyebaran Geneva Bible di Inggris. Penggunaan referensi tambahan dalam Geneva Bible dianggap bertentangan dengan ajaran gereja saat itu. Pada tahun 1568, suatu revisi dari Great Bible diterbitkan dengan nama Bishop Bible. Namun kemunculannya tidak mampu menggantikan kebesaran Geneva Bible.
Gereja Roma Katolik (Douay-Rheims Version)
Pada tahun 1582, gereja KR melonggarkan ketentuannya bahwa Alkitab hanya boleh ditulis dalam bahasa Latin. Mereka mengijinkan terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.
Dengan tetap mempergunakan Latin Vulgata sebagai satu-satunya sumber, gereja RK mulai menerbitkan Alkitab berbahasa Inggris. Karena terjemahan PB-nya dilakukan di Roman Catholic College di kota Rheims, maka hasil terjemahannya diberi nama Rheims New Testament; sedangkan terjemahan PL-nya dilakukan di suatu universitas di kota Douay pada tahun 1609 sehingga hasilnya diberi nama Douay Old Testament. Gabungan PL dan PB tersebut diberi nama Douay-Rheims Version.
Raja James I(King James Version)
Dengan kematian ratu Elizabeth I, pangeran James I dari Skotlandia menjadi raja Inggris dengan gelar King James I of England. Sekitar tahun 1604 para rohaniwan Protestan mulai mendekati raja baru ini dan menyatakan keinginan mereka akan suatu terjemahan baru yang akan menggantikan Bishop Bible. Mereka tahun bahwa Geneva Bible belum dapat digantikan oleh terjemahan lainnya, namun mereka agak keberatan dengan tambahan referensi yang ada dalam Geneva Bible.
Dengan persetujuan raja James I, mereka mengumpulkan 50 orang ahli dengan menggabungkan The Tyndale New Testament, Coverdale Bible, Matthews Bible, Great Bible, Geneva Bible dan juga Rheims New Testament. Revisi besar terhadap Bishop Bile mulai dilakukan. Dari tahun 1605-1606 para ahli kitab mulai mengadakan penelitian. Dari 1607-1609 karya-karya tersebut dikumpulkan. Tahun 1610 karya tersebut dimasukkan ke percetakan. Dan akhirnya pada tahun 1611 muncullah ‘The 1611 King James Bible’ yang berukuran sangat besar (sekitar 16 inci). Setahun berikutnya King James Bible diterbitkan dan diikatkan di setiap gereja di Inggris dalam ukuran normal dengan harapan agar King James Bible ini dapat dimiliki pula oleh orang awam.
King James Bible menjadi satu-satunya terjemahan yang paling diminati dan dianggap memiliki terjemahannya yang paling akurat. Selain itu King James Bible mencetak rekor dalam sejarah dunia sebagai satu-satunya buku yang paling banyak dicetak, yaitu sebanyak 1 miliar. Selama 250 tahun King James Bible mendominasi hingga akhirnya pada tahun 1881-1885 muncullah English Revised Version.
Para Penerjemah Alkitab di Amerika
Meskipun Alkitab pertama yang diterbitkan di Amerika ditulis dalam bahasa asli Algonquin Indian oleh John Eliot pada tahun 1663, namun Alkitab bahasa Inggris yang pertama kali diterbitkan di Amerika dicetak oleh Robert Aitken pada tahun 1782 yang merupakan versi King James. Alkitab milik Aitken ini merupakan satu-satunya Alkitab yang diresmikan oleh Kongres Amerika Serikat. Tahun 1808, anak perempuan Aitken, Jane Aitken, menjadi wanita pertama yang menerbitkan Alkitab.
Tahun 1791, Isaac Collins berusaha memperbaiki kualitas dan ukuran penyusunan American Bible dan selanjutnya menerbitkan Family Bible yang pertama kali diterbitkan di Amerika. Pada tahun yang sama Isaiah Thomas menerbitkan Illustrated Bible yang pertama kalinya diterbitkan di Amerika.
Noah Webster
Beberapa tahun setelah membuat kamus Bahasa Inggris yang sangat terkenal, Webster juga membuat terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris modern pada tahun 1833. Namun karena kekaguman orang-orang saat itu pada King James Version belum sirna, maka terjemahan Webster kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat.
English Revised Version (ERV)
Setelah lebih dari 250 tahun KJV menduduki posisi teratas sebagai versi yang paling digemari oleh orang-orang yang berbahasa Inggris, maka selama rentang waktu itu pula tidak ada pertimbangan untuk merevisi KJV tersebut. Namun sekitar tahun 1850-an, sebuah rapat Church of England di Canterbury berinisiatif untuk merevisinya. Para penterjemah setuju kalau mereka akan membuat sedikit mungkin perubahan. Untuk PL-nya, mereka tetap memakai Masoret Teks, sedangkan teks PB-nya jauh lebih baik dari KJV.
Tahun 1881 diterbitkanlah versi PB dari English Revised Version di Inggris. Sedangkan seluruh PL danPB baru diterbitkan tahun 1885. ESV ini, jika dilihat dari akurasi teksnya jauh lebih tepat dari KJV, namun dari sisi gaya irama dan alur, ESV kurang dapat mengalahkan gaya yang dimiliki oleh KJV.
ERV berhasil menarik simpati banyak orang sehingga posisi KJV mulai goyang. Salah satu keunikan lain yang dimiliki ESV adalah ketidakmunculan kitab-kitab Apokrifa sehingga jumlah kitab yang ada dalam ESV hanyalah 66 kitab. Perlu diketahui, bahwa sebelum tahun 1880-an, semua Alkitab (baik Protestan maupun Katolik) memasukkan 80 kitab: 66 kitab-kitab kanonik dan 14 kitab-kitab Apokrifa. Bahkan KJV 1611 selain memuat 14 kitab-kitab Apokrifa, juga memuat ancaman raja James I berupa denda uang yang banyak dan hukuman setahun mendekam di penjara yang ditujukan bagi siapa saja yang berani mencetak Alkitab tanpa disertai Apokrifa.
American Standard Version (ASV)
Orang-orang Amerika meresponi kemunculan ERV dengan menerbitkan versi yang hampir identik dengan ERV, yaitu American Standard Version (ASV) pada tahun 1901. Gereja-gereja Amerika menerima ASV dengan tangan terbuka, bahkan selama beberapa dekade dianggap sebagai versi Alkitab bahasa Inggris modern yang paling unggul. Pada tahun 1971, ASV direvisi dan akhirnya munculllah New American Standard Version Bible (NASV atau NASB atau NAS). Versi revisi ini dipandang oleh banyak sarjana Kristen Injili dan para penerjemah sebagai terjemahan yang paling akurat, diterjemahakan kata per kata dari bahasa aslinya, yaitu Ibrani dan Yunani. Namun walaupun banyak diterima di kalangan akademisi, namun ada pula yang mengkritiknya sebagai terjemahan yang terlalu literal (karena memang menekankan akurasi-nya) sehingga kurang mudah dipahami dalam percakapan bahasa Inggris.
New International Version (NIV)
Karena alasan terjemahannya yang terlalu literal, maka pada tahun 1973 muncullah New International Version (NIV). NIV menawarkan model terjemahan yang mempergunakan persamaan kata yang dinamis, tidak menekankan terjemahan kata per kata, tetapi frase per frase dan kemudahannya untuk dibaca atau dipahami. Namun ada pula yang mengkritiknya dengan menyebut NIV sebagai Nearly Inspired Version. Di tengah segala bentuk kritikan dan dukungan terhadap kemunculan NIV, NIV merupakan terjemahan Alkitab bahasa Inggris modern yang paling laku dijual (best selling) dibanding semua versi yang pernah diterbitkan.
New King James Version (NKJV)
Pada tahun 1982, Thomas Nelson Publisher menerbitkan New King James Version yang bertujuan untuk mempertahankan penyusunan kata mendasar dari KJV serta mengubah beberapa kata yang agak kurang jelas dan beberapa kata ganti yang berlaku pada jaman Ratu Elizabeth, misalnya thee, thy and thou.
English Standard Version (ESV)
Pada tahun 2002, muncul pemikiran untuk menjembatani jurang antara NIV (yang dianggap mudah dibaca) dengan NASB (yang menekankan akurasi katanya) dengan menerbitkan English Standard Version.
Bayangkan, jika tidak ada perkembangan penerjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris!!
Berikut adalah perbandingan kutipan dari Yohanes 3:16 dari berbagai terjemahan Alkitab bahasa Inggris kuno hingga modern:
• Anglo-Saxon Proto-English Manuscripts (995 AD): “God lufode middan-eard swa, dat he seade his an-cennedan sunu, dat nan ne forweorde de on hine gely ac habbe dat ece lif.”
• Wycliff (1380): “for god loued so the world; that he gaf his oon bigetun sone, that eche man that bileueth in him perisch not: but haue euerlastynge liif,”
• Tyndale (1534): “For God so loveth the worlde, that he hath geven his only sonne, that none that beleve in him, shuld perisshe: but shuld have everlastinge lyfe.”
• Great Bible (1539): “For God so loued the worlde, that he gaue his only begotten sonne, that whosoeuer beleueth in him, shulde not perisshe, but haue euerlasting lyfe.”
• Geneva (1560): “For God so loueth the world, that he hath geuen his only begotten Sonne: that none that beleue in him, should peryshe, but haue euerlasting lyfe.”
• Rheims (1582): “For so God loued the vvorld, that he gaue his only-begotten sonne: that euery one that beleeueth in him, perish not, but may haue life euerlasting”
• 1st Ed. King James (1611): “For God so loued the world, that he gaue his only begotten Sonne: that whosoeuer beleeueth in him, should not perish, but haue euerlasting life.”
• King James (1767): For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.
• Webster Bible (1833): For God so loved the world, that he gave his only-begotten Son, that whoever believeth in him, should not perish, but have everlasting life.
• American Standard Version (1901) : For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth on him should not perish, but have eternal life.
• New International Version (1984) : For God so loved the world that he gave his one and only Son, that whoever believes in him shall not perish but have eternal life.
• New King James Version (1982): For God so loved the world that He gave His only begotten Son, that whoever believes in Him should not perish but have everlasting life.