ONLY BY GRACE. Sepenggal kalimat itulah yang merangkumkan kehidupanku dari lahir hingga kini. Tulisan-tulisan yang ada di blogku ini memang bukan semua tulisanku. Tapi karena aku telah diberkati oleh tulisan-tulisan itu, maka aku pun ingin berbagi berkat. Selamat membaca! Semoga terberkati!

Mengapa Bertengkar?


MENGAPA BERTENGKAR?
(Yer 11:18-20;  Mzm 54;  Yak 3:13-4:3,7-8a;  Mrk 9:30-37)


Pendahuluan:

Bpk/Ibu yang dikasihi Tuhan, konon ceritanya tiga tahun pertama itu merupakan ujian bagi sebuah pernikahan. Tahun pertama pernikahan, katanya si istri yang banyak bicara, sang suami yang mendengarkan. Masuk tahun kedua, istri sudah capek bicara, maka gantian sang suami yang banyak bicara, si istri yang mendengarkan. Tahun ketiga, suami-istri banyak bicara, tetangga yang mendengarkan.

Pak Dahlan dan istrinya adalah pasangan suami istri yang rukun, mereka tidak pernah kelihatan bertengkar meskipun mereka sudah berumah tangga sekitar 60 tahun. Istrinya sangat penurut, apa-apa yang diminta dan disuruh oleh suaminya selalu dilaksanakan tanpa ada bantahan barang sedikitpun dari istrinya.

Pak Kasim, teman pak Dahlan semasa revolusi fisik menceritakan ihwal kenapa istrinya pak Dahlan begitu penurut. Pada tahun 1946 pak Dahlan hendak mengungsi bersama istrinya, kendaraan yang dipakai adalah delman yang pada waktu itu sudah terbilang mewah jika sebuah keluarga mempunyai delman. Baru beberapa kilometer berjalan kuda delman itu jatuh, mungkin karena kecapekan membawa beban yang sangat berat. Pak Dahlan bergegas turun untuk membantu kudanya berdiri kembali sambil berseru “satu!!!”.

Ketika beberapa saat kuda itu jalan, kuda tersebut jatuh kembali. Pak Dahlan bergegas turun membantu kudanya berdiri kembali sambil mengatakan “dua”. Kuda itupun jalan kembali. Istrinya keheranan. Ketika perjalanan dilanjutkan, kuda itu jatuh kembali. Pak Dahlan bergegas turun kembali sambil mengatakan “tiga” lalu pak Dahlan langsung mengeluarkan pistolnya lalu “DOR…DOR…DOR” kuda itu langsung mati.

Melihat hal itu istrinya langsung memarahi sambil memaki-maki pak Dahlan karena sudah menembak kuda satu-satunya sehingga mereka tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Belum habis marah sang istri, pak Dahlan langsung menyela dengan mengatakan, “Satu…..!!!” Maka jangan heran, kalau setelah peristiwa itu mereka tidak pernah bertengkar.

Tema kita hari ini adalah ”Mengapa Bertengkar?” Apakah konflik dan pertengkaran itu sama? Saya sependapat dengan Dr. Norman Wright, seorang konselor Kristen yang mengatakan bahwa konflik dan pertengkaran itu sebenarnya tidak sama. Ada banyak konflik yang ditangani dan diselesaikan dengan baik tanpa harus melalui pertengkaran.

Bp/Ibu yang dikasihi Tuhan, tidak jarang sumber konflik itu kadang berawal dari hal-hal yang kelihatannya sangat sepele. Contoh : yang seorang selalu memencet pasta gigi dari bawah, sedangkan yang lain selalu dari atas. Yang seorang selalu ingin agar suhu ruangan cukup hangat, sedangkan yang lain senang membuka jendela. Dalam rapat, ada orang yang senang bercerita/memberikan opini panjang lebar, sedangkan yang lain memberikan garis besarnya saja. Yang seorang cenderung aktif di malam hari, sedangkan yang lain di pagi hari. Yang seorang perlu kamar yang benar-benar gelap untuk tidur, sedangkan pasangannya ingin tidur dengan lampu menyala. Yang seorang terbiasa menggantung baju di mana saja ia mau, sedangkan yang lain menata baju dengan gantungan berdasarkan warna dan diberi jarak 1,5 cm antar gantungan biar kelihatan rapi.

Bpk/Ibu yang dikasihi Tuhan, setiap hubungan pasti tidak mungkin sama sekali lepas dari konflik. Konflik adalah bagian dari hidup bersama. Namun, seharusnya konflik tidak berubah menjadi racun yang mematikan. Konflik dapat menjadi racun yang secara perlahan melemahkan bahkan mematikan sendi-sendi kehidupan apabila konflik tersebut tidak terselesaikan dengan baik. Namun sebaliknya, konflik dapat menjadi bumbu dalam sebuah hubungan apabila diselesaikan dengan baik.

Jika konflik tidak ditangani dan diselesaikan dengan baik, maka akan timbul pertengkaran. Perbedaan pendapat seringkali diselesaikan dengan tuduhan, ancaman yang bermuatan emosi, ledakan-ledakan suara, kemarahan-kemarahan, wajah yang mengeras, muka merah, mata melotot dan mungkin kata-kata yang kasar. Dan jika dibiarkan maka bisa mengarah kepada tindakan/perilaku yang anarkis seperti : tindakan pemukulan, menggampar, menjambak, mendorong, menendang, dll.

Sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, pagi (sore) ini kita tidak akan membahas penyebab terjadinya pertengkaran. Tetapi lebih kepada bagaimana cara kita menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran.

Dari perikop yang tadi sudah kita baca, kita akan belajar sedikitnya dua cara menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran; yang pertama…

1. Bersikap Rendah Hati.

Dalam Mark 9:30-37, diceritakan bahwa para murid sedang bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Pertengkaran itu menunjukkan adanya ambisi dalam diri para murid untuk menjadi yang terbesar. Karena itulah maka mereka terdiam ketika Tuhan Yesus menanyakan apa yang mereka perdebatkan. Awalnya mereka diam, mungkin karena malu. Tuhan   Yesus kemudian mengajar mereka menggunakan anak kecil. Tuhan Yesus memakai anak itu sebagai simbol/gambaran tentang kerendahan hati, karena dibandingkan dengan orang dewasa, anak kecil adalah seseorang yang rendah hati.

Di samping itu penekanan bahwa kita harus menjadi seperti anak kecil dalam kerendahan hati, juga jelas terlihat dari perkataan Tuhan Yesus dalam ay. 35, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Dengan lain kata seorang pemimpin adalah seorang yang rendah hati dan bersedia melayani. Tuhan Yesuspun melayani dengan rendah hati, bukan untuk menjadi yang terbesar dan yang pertama, tetapi menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya. Sikap ini bertentangan dengan sikap para murid dan kebanyakan orang yang selalu ingin menjadi yang terbesar, yang mengakibatkan timbulnya banyak pertengkaran.

Bentuk kerendahan hati seperti apa yang dapat kita terapkan di dalam menghindari pertengkaran. Kerendahan hati itu dapat kita tunjukkan dengan sebuah prinsip: ”Jika kita salah, akuilah.” Di dalam tulisannya yang berjudul ”Cekcok tapi sebetulnya sudah cocok” Pdt. Andar Ismail mengatakan bahw sebenarnya, tiap orang mempunyai ’kunci rahasia” untuk menyelesaikan konflik. Namun kunci itu jarang kita gunakan. Kunci itu terdiri dari tiga kata: ”Saya minta maaf.” Tiga perkataan singkat itu bisa langsung meredakan suasana. Yang perlu adalah kesediaan salah satu pihak untuk mengambil prakasa mengucapkan tiga perkataan itu.

Memang dia bersalah, tetapi bukankah kita pun juga bisa salah? Kalau begitu, mengapa lidah kita begitu berat untuk mengucapkan tiga perkataan itu, ”Saya minta maaf.” Setiap kita harus belajar meminta maaf. Bahkan, orangtua pun harus bisa meminta maaf kepada anak jika orangtua khilaf atau bersalah. Oleh Rasul Paulus, saling memaafkan bahkan dicatat sebagai kesimpulan ciri hidup manusia baru (Ef. 4:17-22).

Jika kita dengan rendah hati mengakui bahwa kita salah, maka ketrampilan berkomunikasi kita akan jauh bertambah baik dan memperdalam hubungan kita dengan orang lain. Rasul Yakobus memberitahu kita untuk mengakui kesalahan satu sama lain dan saling mendoakan (Yak. 5:16). Salomo juga berkata, ”Siapa menyembunyikan pelanggaran/kesalahannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi” (Ams. 28:13)

Jika kita memang bersalah, maka marilah dengan rendah hati kita mengakuinya. Kita bisa mengatakan sesuatu seperti, ”Ya, saya memang bersalah. Maafkan perkataan/tindakan saya yang telah melukai perasaanmu. Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaikinya?”

Cara kedua untuk menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran adalah :

2. Hidup Menurut Hikmat Allah

Mengapa bertengkar? Pertengkaran tidak perlu terjadi jika kita belajar hidup sehari-hari dengan hikmat yang dari atas. Pertengkaran dapat dihindari jika kita memiliki hikmat dari atas. Makna kata ”dari atas” di sini adalah dari Allah, hal ini dapat kita lihat paralelnya dalam Yakobus 1:17: ”Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Hikmat dari Allah membawa cara berelasi yang baru dengan sesama, yaitu dengan kasih. Dalam Yak. 4:7-8 dipaparkan bahwa relasi yang baru ini merupakan hasil perjuangan untuk mengalahkan hikmat dari dunia, dari nafsu dan dari iblis. Hikmat dari Allah tampak dalam hidup sehari-hari yang diwarnai dengan cara hidup yang baik, hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan (ay. 13), pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, penuh dengan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik (v. 17).

Hikmat dari Allah tampak dalam hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan. Dalam bahasa Yunani kata kelemah-lembutan ini digunakan untuk seekor kuda yang telah dijinakkan sehingga kekuatannya dapat dikendalikan. Orang yang lemah lembut dapat mengendalikan perkataannya. Ketika terjadi konflik, orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan ini akan mengendalikan diri untuk tidak membesar-besarkan/melebih-lebihkan masalah (atau istilah anak sekarang; tidak lebay). Pada waktu terjadi konflik orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan ini akan menghindari perkataan, ”Kamu tidak pernah”, ”Kamu selalu”, ”Semua orang.” Misalnya: ”Kamu tidak pernah tetap waktu”, ”Kamu selalu berkata seperti itu”, ”Semua wanita memang cerewet”, ”Semua laki-laki memang seperti itu” (kecuali Meggy Z dan Basofi Soedirman, ”Tidak semua laki-laki…”), ”Semua orang berpendapat kamu memang begitu, dan saya juga.” Orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan akan mengungkapkan kebenaran, tetapi ia akan menyatakan dengan kasih dan tidak akan melebih-lebihkan. Sikap pendamai. Hikmat manusia membawa kepada persaingan, permusuhan dan pertengkaran, tetapi hikmat Allah membawa kepada perdamaian.

Sikap pendamai menunjuk pada orang yang tidak senang mencari gara-gara/permusuhan, tidak senang membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak senang mengadu domba, tetapi sebaliknya senang menda­maikan. Ketika terjadi konflik, sikap pendamai ini dapat kita wujudkan dengan cara berani mengambil langkah pertama untuk berdamai, tidak menunggu, tidak mencari siapa yang salah. Hikmat Allah menjadikan orang percaya menjadi peramah.

Peramah disini bukan hanya berarti murah senyum, tetapi “considerate” = mempertimbangkan perasaan orang lain. Ada sepasang suami istri yang ribut karena tidak peramah/tidak mempertimbangkan perasaan pasangannya.  Suami pulang dari kantor mengeluh kepada istrinya, “Kamu enak di rumah.  Tadi jalan macet, di kantor kena marah bos, dan AC kantor rusak.  Saya sangat lelah”.  Istrinya menjawab “Oh begitu, saya lebih capek dari kamu. Anak kita mencelupkan kucing ke toilet, karena mengurusnya, masakan jadi gosong, jadinya saya harus memasak dua kali, dan sementara itu, tadi hujan turun.  Jemuran menjadi basah kembali karena terlambat diangkat, saya harus mencucinya lagi”. Akhirnya suami istri ini menjadi bertengkar.  Masalahnya di “considerate”,   si istri dalam cerita tadi tidak perlu berkata kepada suami, saya lebih capek dari kamu.  Terima saja fakta bahwa mereka berdua kelelahan, dan mereka berdua sama-sama butuh untuk relaks dan istirahat. Di samping itu, orang yang ramah jika ada terlibat konflik akan fokus pada masalahnya dan bukan menyerang orangnya. Apalagi membawa-bawa saudara atau ipar.

Penurut artinya hikmat Allah menyebabkan orang-orang percaya dapat menyesuaikan diri, mudah untuk hidup dan bekerja sama dengan orang lain. Hikmat manusia menjadikan seseorang keras kepala, tetapi orang yang penurut bersedia mendengarkan pendapat/nasehat orang lain.

Penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik. Orang yang memiliki hikmat Allah akan penuh dengan belas kasihan. Orang yang dikuasai oleh belas kasihan tidak akan mendiamkan orang lain/ pasangannya ketika sedang terjadi konflik. Sebagian orang mencoba cara ’mendiamkan’ untuk menghindari pertengkaran. Memang ada pola tertentu yang berhasil dengan cara mendiamkan. Tetapi diam tidak pernah memberi hasil yang memuaskan dalam jangka waktu yang lama. Pepatah ”diam itu emas” dapat juga berarti pengecut. Orang yang penuh dengan belas kasihan, tidak akan bersembunyi di balik diam hanya karena takut menghadapi masalah yang ada.

Tidak memihak, ini berarti bahwa orang itu selalu bersikap adil, baik terhadap bawahan/pegawai, anak dsb. Tidak munafik artinya: tidak bermuka dua, tidak suka ber’sandiwara’. Dengan bersikap tidak memihak dan tidak munafik, maka kita telah menghindarkan diri dari konflik yang tidak perlu.

Penutup:

Ada dua orang bijak yang selama puluhan tahun tinggal bersama dengan damai. Tak pernah sekali pun mereka cekcok. Suatu hari, seorang dari mereka berkata, “Bagaimana kalau hari ini kita mencoba untuk bertengkar?” Yang lain setuju, “Baik, mari kita pertengkarkan sepotong roti ini.” Lalu mereka bersiap-siap memulai pertengkaran itu. Orang pertama berkata, “Roti ini punyaku. Ini milikku semua.” Orang bijak kedua menyahut, “Tidak apa-apa. Silakan saja ambil semua.” Pertengkaran itu pun gagal.

Mari kita gagalkan pertengkaran dengan bersikap rendah hati dan hidup menurut hikmat Allah. Amin.

Indah pada waktunhya


“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pkh.3:11)

Lazarus harus menunggu 4 hari di dalam kubur sebelum dibangkitkan Tuhan Yesus. Untuk segala
sesuatu ada waktunya dan Tuhan membuatnya indah pada waktunya.

Seorang wanita yang sedang hamil harus menunggu sekitar 9 bulan sampai bayi yang ada dalam kandungannya siap untuk dilahirkan. Untuk segala sesuatu ada waktunya dan Tuhan membuatnya indah pada waktunya.

Di Kitab Injil pernah dicatat bahwa seorang perempuan yang menderita pendarahan dan harus menunggu 12 tahun lamanya, sebelum akhirnya disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Untuk segala sesuatu ada waktunya dan Tuhan membuatnya indah pada waktunya.

Yusuf harus menunggu 13 tahun di penjara sebelum akhirnya diangkat menjadi penguasa di Mesir. Untuk segala sesuatu ada waktunya dan Tuhan membuatnya indah pada waktunya.

Yakub harus menunggu 14 tahun sebelum akhirnya mendapatkan Rachel. Untuk segala sesuatu ada waktunya dan Tuhan membuatnya indah pada waktunya.

Abraham harus menunggu 25 tahun sebelum akhirnya Ishak lahir. Untuk segala sesuatu ada
waktunya dan Tuhan membuatnya indah pada waktunya.

Nelson Mandela harus menunggu 27 tahun di penjara karena menentang politik apartheid sebelum akhirnya menjadi presiden Afrika Selatan. Usianya ketika dimasukkan ke dalam penjara sudah tidak muda, sudah 44 tahun. Untuk segala sesuatu ada waktunya dan Tuhan membuatnya indah pada waktunya.

Anda harus menunggu ……. untuk segala ada waktunya dan Tuhan membuat indah pada waktunya. “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12 )

Dampak Kematian Kristus


Dampak Kematian Kristus

Pendahuluan :
Peristiwa kematian yang dialami oleh umat manusia sebenarnya sesuatu yang sangat alamiah. Akan tetapi cara kematian Yesus Kristus di atas kayu salib sebenarnya merupakan salah satu bentuk kematian yang tragis dan menyedihkan dari kehidupan ini. Walau cara kematian Yesus Kristus merupakan salah satu kematian yang tragis dan menyedihkan, tetapi makna dan pengaruh kematian-Nya tidaklah sama dengan kematian semua umat manusia dari abad ke abad.
Peristiwa kematian Kristus membawa pengaruh serta transformasi/perubahan hidup yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia sepanjang abad. Makna kematian Kristus tidak sama dengan kematian para tokoh sejarah, para nabi, rasul-rasul atau orang-orang ternama kaliber dunia manapun. Sebab kematian Kristus di atas kayu salib dua ribu tahun yang lalu telah membawa suatu perubahan yang radikal terhadap makna dan arah perjalanan sejarah umat manusia.
Pertanyaannya sekarang adalah pengaruh serta perubahan apa saja yang diakibatkan oleh kematian Kristus?

1. KEMATIAN KRISTUS MEMBUKA JALAN KESELAMATAN
Di dalam Alkitab banyak diterangkan tentang salib Kristus. Alkitab berbicara tentang cara penyiksaan yang dipakai untuk menghukum Yesus. Alkitab juga menceritakan tentang dukacita Yesus menjelang kematian-Nya, tentang olok-olok yang dilakukan orang yang mengadili-Nya, dan segala penghinaan yang tiada taranya. Diceritakan juga tentang sorak-sorai orang-orang yang mengejek Yesus, dan mereka yang membuang undi untuk memperoleh bagian-bagian dari jubah-Nya. Alkitab menjelaskan mengenai penderitaan Yesus di kayu salib itu dalam satu kalimat: Ia disalibkan.”
Di dalam ay. 17 dikatakan: “Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota”. Orang yang disalib harus memikul salibnya menuju tempat penyaliban melalui rute yang dipilih sepanjang mungkin. Mengapa?
1. Untuk memperingati supaya orang lain tidak berbuat jahat.
2. Karena alasan belas kasihan. Rute / jalan yang panjang dipilih, supaya jika ada seseorang yang bisa memberi kesaksian membela dia, orang itu bisa maju ke depan dan melakukannya. Dalam hal itu, proses penyaliban itu dihentikan dan kasusnya diperiksa ulang. Betul-betul menyedihkan bahwa dalam kasus Kristus tidak ada seorangpun yang berani maju ke depan untuk membela Dia! Bagi Kristus yang baru saja dicambuki, pemikulan salib itu bukan hanya berat, tetapi juga sangat menyakitkan, karena kayu salib yang kasar itu mengenai pundakNya yang sudah hancur / penuh dengan luka cambuk.
Ada yang mengatakan bahwa dalam perjalanan memikul salib seringkali orang hukuman itu dicambuki di sepanjang jalan. Seringkali orang kriminil itu harus dicambuki dan didorong dengan tongkat sepanjang jalan, supaya ia tetap berdiri pada kakinya, pada waktu ia berjalan terhuyung-huyung menuju tempat penyaliban.
Hukuman salib juga merupakan suatu kehinaan / perendahan yang luar biasa, karena hukuman itu bukan hanya menunjukkan orang yang dihukum sebagai orang yang sangat jahat, tetapi juga sebagai budak. Roma pada umumnya menyimpan jenis hukuman ini untuk budak-budak dan mereka yang terbukti bersalah dalam kejahatan-kejahatan yang paling besar.
Salib adalah hukuman yang terkutuk. Rasul Paulus dalam Gal 3:13 berkata, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’ Mengapa Yesus harus mengalami kematian yang terkutuk?
• Karena kita sebagai orang berdosa terkutuk di hadapan Allah.
Gal 3:10 - “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’
• Karena Yesus mau menggantikan kita memikul kutuk tersebut.
Pada waktu Kristus mati di atas kayu salib, Ia telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat. Pada saat itu, Dia yang tidak berdosa (dan karenanya tidak layak menerima kutuk), telah menjadi kutuk karena kita (Gal 3:13a). Karena itu, kematian Kristus tidak bisa terjadi dengan cara penggal, rajam dsb, tetapi harus melalui cara yang terkutuk, yaitu penyaliban!
Kita harus mempertimbangkan, pada satu sisi, beban yang menakutkan dari murkaNya terhadap dosa, dan di sisi lain, kebaikanNya yang tak terhingga kepada kita. Tidak ada cara lain melalui mana kesalahan kita bisa disingkirkan dari pada dengan cara Anak Allah menjadi kutuk untuk kita. Karena Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, maka sekarang kita bisa diselamatkan dengan sangat mudah, yaitu hanya dengan iman / percaya kepada Kristus. Dengan percaya kepada Kristus, kita pindah dari keadaan ‘terkutuk’ menjadi keadaan ‘diberkati’ / ‘be blessed’ (Gal 3:9,14).
Kristus telah mengalami kutuk itu supaya semua yang lari kepada Dia bisa dibebaskan dari kutuk itu, dan supaya semua keadaan mereka bisa diberkati, dan salib mereka diubah menjadi berkat. Dengan demikian jelas bahwa semua ini dikontrol oleh Allah, sehingga terlaksanalah rencana Allah, yang memang sudah menetapkan Kristus sebagai penggenapan dari korban penghapus dosa.
Seorang pengkotbah besar bernama Billy Graham berkata: “Allah membuktikan kasih-Nya pada kayu salib. Ketika Kristus digantung, berdarah, dan mati, itulah saatnya Allah berkata kepada dunia “Aku mencintaimu”. Salib adalah bukti termulia dari kasih Allah. Salib menyingkapkan kasih terbesar di dalam dunia.” Melalui kematian-Nya Kristus membuka jalan keselamatan bagi kita yang mau percaya kepada-Nya. Kristus mati supaya kita beroleh hidup yang kekal/keselamatan.

2. KEMATIAN KRISTUS MEMBUKA JALAN PENGAMPUNAN
Dan Yesus disalib tidak di dalam gedung gereja di antara dua lilin, melainkan di atas kayu salib di antara dua penjahat. Di tempat yang dinamakan Tempat Tengkorak, atau yang dalam bahasa Ibrani adalah Golgota, atau Kalvari di dalam bahasa Latin itulah Yesus disalib di antara dua orang penjahat. Di dalam ay. 18 dikatakan, “…dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah” Pertanyaannya kita adalah mengapa Yohanes perlu mencatat bahwa Yesus ada di tengah-tengah? Apakah maksud pelatakan Yesus di tengah-tengah ini?
a) Peletakan Yesus di tengah-tengah ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah yang paling jahat dari ketiga orang yang disalib itu. Seakan-akan kehebatan dari hukuman itu belum cukup, Ia digantung di tengah-tengah di antara dua perampok, seakan-akan Ia bukan hanya layak untuk digolongkan dengan perampok-perampok yang lain, tetapi juga bahwa Ia adalah yang paling jahat dan paling menjijikkan dari mereka semua.
b) Peletakan Yesus di tengah-tengah ini menggenapi nubuat dalam Kitab Suci dalam Yesaya 53:9 dan 12, di mana dikatakab bahwa, ”…dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat,… ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak’.
Kalau kita membaca bagian kitab Injil yang lain, yakni Injil Lukas di sana diceritakan bahwa salah seorang penjahat yang disalib bersama Yesus itu menyadari akan dosa-dosa/kesalahannya dan akhirnya bertobat. Di sini kita melihat bahwa pertobatan dan pengampunan adalah mungkin bagi orang yang paling jahat/ bejat sekalipun, bahkan pada saat sudah dekat dengan kematian pun keselamatan masih bisa diharapkan.
Melalui kematian-Nya Kristus membuka jalan pengampunan bagi orang berdosa yang mau bertobat. Tidak peduli seberapa besar dosa kita, jika kita mau datang kepada Kristus dan bertobat, maka pengampunan Tuhan itu selalu terbuka bagi kita. Kesadaran bahwa kita telah diampuni ini, seharusnya juga memberikan inspirasi bagi kita untuk mengampuni orang-orang yang telah bersalah/berdosa kepada kita.

3. KEMATIAN KRISTUS MEMBUKA JALAN PENGHAPUASAN CEREMONIAL LAW (HUKUM YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPACARA KEAGAMAAN DI DALAM PERJANJIAN LAMA)
Dalam ayat 30 dikatakan, ”Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Apa yang dimaksud Tuhan Yesus dengan ‘Sudah selesai’ di sini?. Yang pertama, hal itu berarti sama seperti yang dalam Yohanes 4:34, bahwa Tuhan Yesus telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepada-Nya. ”Kata Yesus kepada mereka: ‘MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya”. Ini suatu teladan bagi kita dalam melakukan pelayanan. Artinya melayani Tuhan jangan setengah-setengah. Kita harus melayani sampai tuntas.
Yang kedua, kata-kata ‘Sudah selesai’ ini juga merupakan dasar penghapusan ‘ceremonial law’ (hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan). Semua kurban dari hukum Taurat harus sudah berhenti, karena keselamatan manusia telah disempurnakan / diselesaikan oleh satu kurban dari kematian Kristus. Sama seperti yang tertulis dalam Ibrani 9:27-28, ”Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang…”
Ceremonial law/hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan yang ada di dalam Perjanjian Lama yang sudah tidak berlaku sejak kematian dan kebangkitan Kristus. Bahwa ceremonial law tak berlaku lagi sejak kematian Yesus Kristus di atas kayu salib terlihat dari:
• Sobeknya tirai pemisah dalam Bait Allah, yang memisahkan Ruang Suci dan Ruang Maha Suci (Mat 27:51). Ini merupakan petunjuk bahwa Allah sudah menyingkirkan Bait Allah dengan semua imam, upacara dan hukum-hukumnya.
• Tidak ada lagi keharusan sunat dalam Perjanjian Baru (Gal 2:3-5, Gal 5:6, Gal 6:12-15), karena keharusan sunat juga merupakan salah satu dari ceremonial law.
• Penghapusan larangan makan darah dan B2. Dalam Kis 10:9-16. diceritakan di mana di dalam sebuah penglihatan Petrus disuruh menyembelih dan makan binatang-binatang yang tidak tahir, yang dalam Perjanjian Lama dilarang oleh hukum Taurat Musa. Hal ini menunjukkan bahwa melalui kematian Kristus maka ceremonial law telah dihapuskan. Sekalipun arti yang terutama dari penglihatan itu adalah: jangan menganggap orang non Yahudi sebagai orang najis, orang yang tidak bisa diselamatkan, orang yang tidak perlu diinjili, dsb, tetapi text ini juga bisa dijadikan dasar untuk berkata bahwa larangan makan binatang-binatang haram, yang termasuk dalam ceremonial law, dibatalkan, dan dengan demikian orang kristen boleh makan daging binatang apapun (yang bisa dimakan tentunya).
• Efesus 2:15 “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”.
Jadi, dalam persoalan hukum moral / moral law (seperti 10 Hukum Tuhan), maka berlaku kata-kata dalam Matius 5:17-19, yang menunjukkan bahwa hukum-hukum itu berlaku kekal. Tetapi dalam persoalan ceremonial law, berlaku Efesus 2:15, yang menunjukkan bahwa itu dihapuskan pada saat kematian Kristus.

The Second Coming


The Second Coming (II Tes. 3:1-15)

Pendahuluan:
Sdr. hari ini kita memasuki minggu adven yang ketiga, disimbolkan dengan tiga lilin yang dinyalakan. Kata “adven” berasal dari bahasa Latin “adventus” yang berarti kedatangan. Kata adven itu sendiri memilki tiga pengertian, yakni:
1. Masa empat minggu sebelum natal yang oleh orang Kristen tertentu diingat sebagai masa puasa dan doa.
2. Mengacu kepada kedatangan Kristus pada saat Ia menjadi manusia dalam hal ini kedatangan Kristus sebagai bayi. Adven ini juga sering disebut sebagai “inkarnasi Allah.” Saya menyebut kedua pengertian advent ini (1 dan 2) sebagai adven pertama.
3. Mengacu kepada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, bukan sebagai bayi lagi, melainkan sebagai Raja di atas segala raja. Adven ini sering disebut dengan “the second coming” dan saya menyebut pengertian adven ini sebagai adven kedua.
Adven dalam pengertian pertama dan kedua sudah terjadi, akan tetapi adven dalam pengertian yang ketiga, yaitu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya belum terjadi, akan tetapi pasti akan terjadi. Ada sebuah ungkapan yang menegaskan mengenai hal ini berbunyi: “Ready or not Jesus Coming” (Siap atau tidak kedatangan Tuhan Yesus untuk yang kedua kalinya itu adalah sesuatu yang pasti).
Akan tetapi seringkali muncul sikap yang salah di dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua itu, seperti halnya yang dilakukan oleh penganut sekte pondok nabi pimpinan Mangapin Sibuea di Bale Endah beberapa waktu yang lalu. Dan apa yang dilakukan oleh penganut sekte pondok nabi itu bukanlah yang pertama kali terjadi di dalam sejarah kekristenan. Sebelumnya sekte pondok nabi itu telah terjadi sedikitnya 7 kali penyimpangan terhadap ajaran kedatangan Kristus yang kedua (the second coming). Kebanyakan dari mereka ketika mengetahui bahwa Tuhan Yesus tidak datang seperti yang telah mereka ramalkan, akhirnya melakukan bunuh diri massal.
Nah, melalui surat Paulus kepada jemaat Tesalonika tadi, sedikitnya ada 3 (tiga ) sikap yang harus kita hindari di dalam menantikan kedatangan Kristus untuk yang kedua kalinya (masa adven kedua itu), yaitu:
1. Hidup dengan tidak tertib/hidup semau gue (ay. 11)
Di dalam suratnya yang pertama, Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus bahwa: “Hari Tuhan akan datang seperti pencuri di malam hari sehingga mereka harus berjaga-jaga” (1 Tes. 5:2, 6). Namun, pemberitaan Paulus tentang kedatangan Yesus yang kedua ini ternyata telah disalahtafsirkan oleh beberapa anggota jemaat Tesalonika. Ada di antara mereka yang telah berhenti bekerja dan meninggalkan usahanya. Mereka menantikan kedatangan Yesus kembali dengan suatu penantian yang disertai dengan luapan emosi yang tidak terkendali.
Melihat sikap yang salah ini, dalam suratnya yang pertama (1 Tes. 4:11), Paulus sebenarnya sudah memperingatkan mereka agar tetap tenang dan melanjutkan pekerjaan mereka. Akan tetapi rupanya mereka tidak mau bertobat, tidak mau mengindahkan peringatan Paulus, oleh karena itulah Paulus menyinggung kembali dalam bagian akhir suratnya yang kedua ini.
Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Tetapi kami berpesan kepadamu,…” Kata “kami berpesan” di dalam bahasa aslinya memakai kata yang lebih tegas yakni “paragello” yang berarti: “perintah.” Jadi kata “kami berpesan kepadamu’ lebih tepat kalau diterjemahkan dengan “kami memerintahkan kepadamu.” Dalam hal ini Paulus memakai istilah militer yang mengacu kepada perintah seorang komandan kepada prajuritnya.” Paulus mengibaratkan jemaat Tesalonika sebagai prajurit, dan jika prajurit tidak mentaati perintah komandannya, maka tidak mungkin ada ketertiban.
Kata “tidak tertib” di sini di dalam bahasa aslinya adalah “peripateo” yang artinya: “ceroboh” atau “keluar dari garis/barisan.” Kata ini merupakan istilah militer yang menunjuk kepada prajurit yang tidak mau mengikuti barisan dan ingin mengikuti jalannya sendiri.” Di dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali, Paulus mendapati bahwa ada beberapa anggota jemaat yang menanggapi dengan sikap yang salah, oleh Paulus mereka digambarkan sebagai prajurit yang telah keluar dari barisan. Sebagai prajurit mereka tidak mentaati perintah komandannya. Mereka ingin mengikuti jalannya sendiri, orang Jakarta bilang: “hidup semau gue.”
Sdr. sdr bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika para prajurit tidak lagi mau taat dan mengindahkan perintah komandannya, mereka bertindak semau gue. Saya jamin pasti akan terjadi kekacauan.

Aplikasi:
Demikian juga di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Sebagai orang Kristen, kita ini diibaratkan sebagai prajurit-prajurit Kristus. Pertanyaannya buat kita adalah: “Termasuk golongan prajurit yang mana kita ini?” Prajurit yang taat pada perintah komandan kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus? Atau prajurit yang bertindak semau gue, tidak mau dengar-dengaran dan tidak mau mengindahkan perintah komandan kita?.
Kapan kita telah menjadi prajurit yang semau gue? Yaitu ketika kita tidak lagi mengindahkan perintah dan larangan komandan kita yang sudah tertulis di dalam Alkitab. Jika kita hidup dan bertindak semau gue, maka sudah pasti hidup kita akan kacau. Segabai prajurit Kristus, mari kita bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri: “Sejauh mana ketaatan kita kepada Tuhan?” Sudahkah ketaatan kita kepada Tuhan, melebihi ketaatan kita kepada manusia? Sebagai prajurit Kristus, jangan sampai ketaatan kita kepada manusia melebihi ketaatan kita kepada Tuhan. Jika ini yang terjadi, maka dapat dipastikan bahwa yang terjadi adalah perpecahan dan kekacauan.

2. Hidup bermalas-malasan (ay. 11)
Dengan tegas Rasul Paulus berkata, “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Kata “tidak bekerja” di sini dalam bahasa aslinya adalah “ataktos” yang berarti “membolos” atau “tidak masuk kerja.” Seorang yang tidak mau bekerja, menurut Paulus sama dengan seorang karyawan yang membolos tidak masuk kerja.
Sdr. yang dipermasalahkan oleh Paulus di sini bukan soal “kesanggupan” seseorang untuk bekerja, melainkan “kemauan” seseorang untuk bekerja. Paulus tidak berkata, “jika seorang tidak sanggup bekerja, janganlah ia makan.” Akan tetapi Paulus berkata, “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Hal ini berarti bahwa mereka sebenarnya sanggup untuk bekerja, tetapi mereka malas, mereka tidak mau bekerja.

Ilustrasi:
Di hari pertama masuk kerja setelah lebaran kemarin, menteri Pendayagunaan Apartur negara, Feisal Tamin, melakukan “isdak” (inspeksi mendadak) ke kantor-kantor/instansi pemerintah. Dalam isdaknya tersebut, Tamin mendapati adanya PNS yang sudah masuk kerja, tetapi ada juga yang membolos kerja.
Para karyawan/PNS yang kedapatan membolos kerja ini tidak tahu bahwa Feizal Tamin akan datang mendadak hari itu. Demikian juga dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali nanti. Tuhan sendiri dalam Matius 24:44 mengatakan, “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Aplikasi:
Sdr. kita mungkin jarang sekali membolos kerja, karena takut gajinya dipotong. Tetapi bukankah tidak sedikit orang Kristen yang “membolos” tidak ke gereja pada hari Minggu. Hari Minggu yang seharusnya menjadi Holy-Day (Hari yang kudus), oleh beberapa orang Kristen justru dijadikan Holiday (Liburan keluarga). Menjelang hari Tuhan yang semakin mendekat ini, perlu bagi kita memperhatikan peringatan penulis kitab Ibrani dalam Ibrani 10:25, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”
Sdr, Bapa gereja Martin Luther pernah berkata, “Sekalipun saya tahu bahwa besok dunia akan hancur berkeping-keping, saya akan tetap bekerja dan membayar hutang-hutang saya” Di dalam menantikan adven yang kedua, yaitu “the second coming) firman Tuhan memerintahkan setiap kita agar tetap rajin bekerja. Bekerja, baik dalam arti berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga kita, maupun bekerja dalam arti yang lebih luas yaitu “bekerja bekerja bagi Tuhan”
Sebagai Majelis Jemaat, aktivis, maupun pengurus komisi, seandainya Tuhan mengadakan inspeksi mendadak, biarlah kita kedapatan sebagai pelayan Tuhan yang rajin bekerja, bukan sebaliknya kita justru kedapatan sebagai pelayan/hamba yang malas dan suka membolos.
Kelak ketika Tuan itu datang, Alkitab mengatakan bahwa DIA akan mengadakan perhitungan dengan kita hamba-hamba-Nya. Kalau kita kedapatan sebagai pelayan/hamba yang rajin bekerja, maka Tuan itu akan memuji dan berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Sebaliknya jika kita kedapatan sebagai pelayan/hamba malas, maka Tuan itu akan berkata, “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas” Tuhan sangat membenci kemalasan. Dan kemalasan adalah dosa. Bahkan para teolog memasukkan kemalasan itu sebagai salah satu dari tujuh dosa maut (The Seven Deadly Sins)

3. Sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (ay. 11)
Sdr. frase “sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna” di sini paralel dengan apa yang dikatakan Paulus dalam 1 Tim. 5:13, “Mereka membiasakan diri… meleter dan mencampuri soal orang lain” Dalam terjemahan BIS, frase “sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna” ini juga diterjemahkan dengan: “sibuk mencampuri urusan orang lain.”
Sdr. frase “sibuk mencampuri urusan orang lain” ini dapat kita lihat dari dua sisi, yakni: pertama, secara horizontal; di dalam hubungannya dengan sesama manusia, dan kedua, secara vertikal di dalam hubungannya dengan Tuhan.
Secara horizontal, di dalam hubungannya dengan sesama manusia. Sehubungan dengan hal ini, William Barclay seorang hamba Tuhan dari Skotlandia mengatakan bahwa: “Sifat yang selalu mencampuri urusan orang lain ini mungkin lebih besar dosanya daripada gosip” Lebih lanjut Barclay mengatakan bahwa: “di dalam gereja tidak ada yang lebih merusak daripada sifat yang selalu mencampuri urusan orang lain ini.”
Aplikasi:
Sdr. “sibuk” bukanlah merupakan sesuatu yang salah. Yang menjadi masalah adalah sibuk dengan apa? Kalau kita sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna; kita sibuk mencampuri urusan orang lain, ini jelas merupakan “kesibukan” yang salah dan merusak persekutuan kita dengan sesama. Saya percaya bahwa setiap kita tentu tidak suka jikalau ada orang lain yang ingin mencampuri urusan pribadi sdr. Nah, kalau kita tidak suka orang lain mencampuri urusan pribadi kita, sebaliknya kita ya juga jangan suka mencampuri urusan orang lain. Kita harus tahu batas-batasnya.
Kalau kita sibuk menghitung-hitung dan kemudian menetapkan tanggal kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali seperti yang dilakukan oleh Pdt. Mangapin Sibuea, tindakan ini jelas merupakan sikap “lancang” dan justru akan merusak hubungan kita dengan Tuhan. Saya mengatakan sikap yang “lancang” karena dalam Mat. 24:42, Tuhan Yesus sendiri sudah memperingatkan, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Bagian kita adalah berjaga-jaga dan bukan mencampuri urusan Allah, dengan mengitung-hitung dan menetapkan kapan Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya. Urusan mengenai kapan Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya adalah privacy Allah sendiri, jangan kita mencampuri urusan Allah. Sekali lagi, bagian kita adalah berjaga-jaga sedangkan soal kapan Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya itu adalah urusan Allah. Jangan dibalik.

Penutup:
Sdr. Selama masa penantian akan adven yang kedua, yakni kedatangan Kristus yang kedua (the second coming), maka akan ada dua kemungkinan, yaitu: Tuhan Yesus yang lebih dahulu datang atau kematian yang lebih dahulu datang menjemput kita. Kita sama-sama tidak tahu. Nah, selama masa penantian akan datangnya adven yang kedua itu, yaitu kedatangan Kristus yang kedua kali tersebut.
Oleh karena itu, mari kita hindari sikap hidup tidak tertib/hidup semau gue; sikap hidup bermalas-malasan baik di dalam bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, terlebih lagi ketika kita bekerja untuk Tuhan dan juga sifat suka mencampuri urusan orang lain, baik di dalam hubungannya dengan sesama, apalagi dengan Tuhan. Amin

Antara Yesus dan Yudas (Matius 26:14-25)


Antara Yesus dan Yudas
Mat. 26:14-25

Pendahuluan:
Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita tentang kisah tragis keluarga Basri dan Daeng Basse di Makassar. Seorang bocah berumur 5 meninggal terbaring lemas di samping ibunya yang juga sudah meninggal karena kelaparan. Mereka biasanya hanya makan sekali selama tiga hari. Jika pun makan, itu hanya bubur dan garam. Sungguh kontras, di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, ternyata masih ada orang yang meninggal karena kelaparan.
Kontras kehidupan pun ternyata juga kita jumpai di dalam perikop yang tadi kita baca. Kekontrasan antara kehidupan seorang Guru dengan murid-Nya. Kekontrasan hidup antara Yesus dan Yudas. Pagi ini kita akan belajar 3 (tiga) kekontrasan antara kehidupan Yesus dan Yudas supaya sebagai murid Kristus, kita puntidak mengulangi kesalahan yang sama.
1. Tuhan Yesus mempersiapkan dirinya untuk menggenapkan
rencana Allah; Yudas mempersiapkan diri untuk menggenapkan rencana Iblis (ay. 16, 18)
Dalam ayat 18-19, digambarkan dengan jelas bagaimana Tuhan Yesus mempersiapkan dirinya untuk menggenapkan rencana Allah dengan menjadi kurban penebusan dosa sebagai domba paskah. Dalam ay 18 Tuhan Yesus memerintahkan para murid untuk menemui ‘si Anu’ dalam versi lain (NIV) diterjemhakan dengan ‘a certain man’ (orang tertentu). Siapakah yang dimaksud dengan ’orang tertentu’ di sini? Dalam Mark 14:13 dan Luk 22:10 diceritakan lebih jelas tentang orang yang harus ditemui itu, yaitu seorang (laki-laki) yang memba¬wa kendi berisi air. Pada saat itu mengambil air adalah tugas orang perempuan. Jadi, pasti tak ada orang laki-laki lain yang membawa kendi berisi air. Karena itu mereka pasti tak akan salah orang.
Tuhan Yesus berkata supaya mereka pergi ke kota’ (bdk. Mark 14:16a). Yang dimaksud tentu adalah kota Yerusalem. Tetapi bukankah mereka sudah masuk kota Yerusalem? Bagaimana sekarang Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes untuk pergi ke Yerusalem lagi? Perlu diingat bahwa pada masa hari raya Yerusalem penuh sesak, sehingga sukar untuk mendapatkan tempat bermalam di sana. Mungkin karena itu Yesus dan murid-muridNya bermalam di Bukit Zaitun (bdk. Luk 21:37 Luk 22:39), yang terletak di sebelah timur Yerusalem.
Tuhan Yesus berkata, ‘waktuKu hampir tiba’ (bdk. Yoh 7:6,8,30 8:20 12:23 13:1 17:1). Semua ini menunjukkan bahwa dalam Rencana Allah, Allah bukan hanya menentukan peristiwanya, tetapi juga menentukan waktu / saat terjadinya peristiwa itu! Yesus adalah anak domba Paskah yang disembelih, menjadi korban penebusan bagi manusia yang berdosa yang mau percaya kepada-Nya (1Kor. 5:7).
Sementara Tuhan Yesus mempersiapkan diri untuk menggenapi rencana keselamatan Allah, Yudas pun sedang mempersiapkan diri untuk menggenapi rencana Iblis. Di antara para murid Tuhan Yesus, dapat dikatakan bahwa Yudas Iskariot memiliki tempat yang sangat unik. Karena hanyalah Yudas Iskariot sebelum Tuhan Yesus makan malam terakhir (the last supper) bersama para muridNya yang pergi bersekongkol dengan imam-imam kepala dengan berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” (Mat. 26:14).
Lalu imam-imam kepala membayar tiga puluh uang perak kepada Yudas agar dia menyerahkan Yesus untuk ditangkap. Dari kesaksian Injil tersebut, gereja perdana dan umat Kristen menyimpulkan Yudas Iskariot sebagai seorang murid yang tega mengkhianati Tuhan Yesus demi ambisi pribadinya untuk memperoleh uang yang banyak. Menurut Injil Lukas, uang yang diterima oleh Yudas Iskariot bukanlah motif satu-satunya untuk menyerahkan Yesus. Sebab menurut Injil Lukas, pengkhianatan Yudas Iskariot tersebut merupakan alat di tangan Iblis. Setelah Iblis gagal mencobai Tuhan Yesus di padang gurun ketika Ia berpuasa, maka disebutkan: “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari padaNya dan menunggu waktu yang baik” (Luk. 4:13, bdk. Ay. 16 ada kalimat yang parallel antara rencana Iblis dengan rencana Yudas).
Menjelang hari Paskah, Iblis kemudian menemukan saat yang baik itu. Itu sebabnya Iblis segera merasuki diri Yudas Iskariot (Luk. 22:3). Motif utama peran Yudas untuk menyerahkan Yesus adalah karena dia bersedia untuk menjadi alat di tangan Iblis. Walaupun demikian kesaksian Injil Matius dan Injil Lukas pada prinsipnya “satu nada”, yaitu mereka sepakat menyatakan bahwa Yudas Iskariot merupakan sosok pribadi yang berperilaku buruk yaitu seorang pengkhianat yang menyerahkan Tuhan Yesus kepada imam-imam kepala dengan kemungkinan motif serakah untuk memperoleh uang yang banyak, dan dan motif yang bersedia untuk dikuasai oleh rencana Iblis.

Aplikasi :
Hal apa yang sedang saudara rencanakan akhir-akhir ini? Apakah rencana itu menggenapi rencana Allah atau rencana iblis?

2. Tuhan Yesus mengasihi orang yang mengkhianati-Nya; Yudas
mengkhinati orang yang mengasihi-Nya (ay. 21-25)
Yudas mengkhianati Yesus tanpa setahu murid-murid yang lain. Tetapi ay 21-25 menunjukkan bahwa ia tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Yesus! Ini menunjukkan kemahatahuan dan sekaligus keilahian Yesus! Sekalipun Yesus tahu bahwa Yudas akan / sedang mengkhianatiNya, tetapi Yesus tetap mengasihi Yudas. Ini terlihat dari kesediaan Yesus membasuh kaki Yudas, kesediaan Yesus duduk persis di sebelah Yudas, kesediaan Yesus memperingati Yudas supaya bertobat (bagian ini jelas merupakan peringatan bagi Yudas).
Kata-kata ‘seorang di antara kamu’ (ay 21) menunjukkan adanya pengkhianatan oleh orang dalam (bdk. Kis 20:30 2Tim 1:15 4:9-16 1Yoh 2:18-19 3Yoh 9-10). Pengkhianatan oleh orang dalam ini: Dari sudut Tuhan Yesus, ini harus terjadi supaya Ia bisa menjadi Imam Besar yang merasakan pencobaan / penderitaan yang kita alami (bdk. Ibr 2:17-18 4:15). Dengan demikian, kalau kita dikhianati, Ia bisa lebih bersimpati / mengerti, dan juga bisa menolong kita! Dari sudut setan, ini ia lakukan karena ini merupakan hal yang sangat menyakitkan (bdk. ay 22: ‘hati yang sangat sedih’), dan mudah sekali meruntuhkan iman orang yang lain.

Aplikasi:
Kalau saudara dikhianati, datanglah kepada Yesus! Ia juga pernah dikhianati, dan karena itu Ia mengerti akan ‘sakit’ yang saudara rasakan dan Ia bisa menolong saudara! Kalau kita sudah tahu bahwa tujuan setan adalah untuk meruntuhkan iman kita, maka pada saat kita dikhianati (oleh teman, teman bisnis, pacar, suami / istri, anak, saudara kandung, saudara seiman di gereja dsb), maka janganlah saudara mewujudkan keinginan setan itu dengan menjadi patah semangat / mundur dari Tuhan. Sebaliknya, saudara justru harus berusaha untuk lebih dekat dengan Tuhan, lebih mengasihi Tuhan, dan terus berjuang untuk Tuhan!
Kita sering melihat diri Yudas sebagai satu-satunya pengkhianat yang pernah menjual diri Kristus. Padahal dia bukanlah satu-satunya. Yudas hanyalah salah satu dari para pengkhianat dalam kehidupan umat Kristen. Sebab kitapun juga sering berlaku dan bersikap seperti Yudas. Betapa banyak orang Kristen yang dikuasai oleh nafsu serakah dalam berbagai hal, yaitu serakah akan uang, serakah untuk menguasai milik orang lain, rakus makan, rakus seks, dan tidak mampu menguasai diri. Karena kita dikuasai oleh nafsu serakah (greedy), maka tak jarang pula kita mau menghalalkan cara untuk mencapai tujuan yang kita ingini. Sehingga akhirnya kita rela mengkhianati teman atau saudara agar kita dapat memperoleh keuntungan duniawi. Pernah diberitakan di salah satu surat kabar, seorang anak yang tega mengadukan dan berhasil memenjarakan ayah dan ibunya karena soal pembagian harta warisan.
Kita tidak dapat membayangkan kesedihan dan perasaan yang sangat terluka dari orang-tua yang dipenjarakan karena anaknya tersebut ingin memperoleh harta warisan yang lebih banyak dari pada saudara-saudaranya yang lain. Kita juga tidak dapat membayangkan pengkhianatan seorang suami dengan berselingkuh; atau tega menjual isterinya kepada seorang germo agar dia dapat memperoleh uang yang diingini. Kita juga dapat menyaksikan kasus seorang ayah yang sangat tega menjual anak gadisnya untuk dijadikan seorang pelacur agar dia dapat memperoleh penghasilan.
Atau orang tua yang tidak memiliki hati nurani “menjual” anak-anaknya untuk dijadikan pengemis di jalan. Jadi kita dapat melihat manifestasi pengkhianatan dan keserakahan “yudas” dalam berbagai bentuk atau cara yang selalu abadi dalam perjalanan kehidupan manusia. Sikap serakah dan rela mengkhianati kepada orang-orang yang sebenarnya sangat mencintai dan menghormati kita dapat terjadi dalam semua lingkup atau aras kehidupan ini; baik di rumah, tempat pekerjaan, hubungan antar teman maupun dalam kehidupan jemaat. Praktek serakah dan pengkhianatan tidak pernah mengenal tempat, umur, warna kulit dan kedudukan seseorang. Itu sebabnya di gerejapun juga dimungkinkan.
Dalam setiap motif yang didorong oleh keserakahan akan melahirkan pengkhianatan; dan kemudian pola pengkhianatan tersebut akan dilaksanakan secara licik dan politis. Bukankah Yudas Iskariot juga melakukan “modus operandi” yang sama, yaitu secara licik dia datang secara sembunyi menghadap imam-imam kepala dan mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Tuhan Yesus agar Dia ditangkap dan dibunuh?
Mengasihi orang yang mengasihi kita itu namanya hal yang wajar/manusiawi; mengkhianati orang yang mengasihi kita itu namanya kurang ajar/tidak manusiawi, tetapi mengasihi orang yang mengkhianati kita itu adalah ilahi.

3. Yesus memang adalah Guru dan Tuhan yang dapat diteladani (Yoh. 13:13), Yudas menyebut Yesus Guru tetapi tidak meniru guru-Nya (ay. 21-25)
Dalam ay. 25 ada perbedaan antara pertanyaan Yudas dan murid-murid yang lain: pertanyaan Yudas menggunakan kata ‘Rabi’ (Guru), tidak mengguna¬kan ‘Tuhan’ seperti pertanyaan murid-murid yang lain dalam ay 22. Hal itu menyiratkan pengenalan dan pengakuan Yudas atas diri Yesus. Yudas menyebut Yesus - Guru, tetapi ia tidak meniru/meneladaninya. Ia menyebut Yesus - Guru, tetapi ia tidak berlaku sebagai seorang murid yang mau mendengarkan nasehat gurunya. Sebagai murid, ia justru banyak kali menolak peringatan Gurunya (Mat. 26:21-26; Mrk. 14:18-21; Luk. 22:21-23; Yoh. 6:70-71; 13:10; 11, 18, 30). Di sini kita melihat adanya gap/jurang antara apa yang ia tahu/ ia sebut dengan kenyataan / realita yang ada.

Aplikasi:
Engkau menyebut Aku Jalan, namun engkau tidak mengikut Aku.
Engkau menyebut Aku Terang, namun engkau tidak melihat Aku.
Engkau menyebut Aku Guru, namun engkau tidak mendengarkan Aku.
Engkau menyebut Aku Tuhan, namun engkau tidak melayani Aku.
Engkau menyebut Aku Kebenaran, namun engkau tidak percaya kpd-Ku.

-AMIN-

Sejarah Singkat Penerjemahan Alkitab


Sejarah Singkat Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris
Nike Pamela, M. A.

“No book has appeared in as many languages and editions as has the Bible”
Mempelajari sejarah penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa merupakan suatu penelusuran sejarah yang menarik. Menurut American Bible Society, seluruh isi Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam 273 bahasa (berdasarkan data beberapa tahun silam), sedangkan terjemahan beberapa bagian Alkitab sudah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam 1412 bahasa tambahan. Bagaimana Alkitab dapat mencapai jumlah angka yang cukup fantastik tersebut?
Terbentuknya terjemahan-terjemahan Alkitab
Alkitab Perjanjian Lama (PL), yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Ibrani, kecuali beberapa bagian kecil yang ditulis dalam bahasa Aram, merupakan kumpulan dari tradisi oral (dari mulut ke mulut) dan tertulis yang berasal dari dari sekitar abad 12 SM. Tidak ada naskah asli (autografa) yang masih tersimpan hingga sekarang. Kumpulan naskah tulisan tersebut selanjutnya dikanonkan dan diterima sebagai sesuatu yang diilhamkan oleh Allah dari satu generasi ke generasi berikut oleh para juru tulis Alkitab.
Pembuangan bangsa Israel dan Yehuda ke Babel (sekitar abad ke-6 SM) merupakan pemicu awal munculnya berbagai terjemahan PL lainnya. Salah satunya contohnya adalah kemunculan Targum Aram, yaitu terjemahan PL ke dalam bahasa Aram. Hal ini disebabkan karena pada masa pembuangan, banyak orang Yahudi, utamanya yang lahir di pembuangan, yang tidak lagi dapat berbahasa Yahudi sedangkan bahasa sehari-hari yang dipakai di pembuangan adalah bahasa Aram.
Sekembalinya bangsa Yahudi dari pembuangan dan kekuasaan Persia atas bangsa Yahudi sudah beralih ke tangan bangsa Yunani melalui penaklukan yang dilakukan oleh Aleksander Agung, maka bahasa Yunani menjadi bahasa dominan saat itu. Kebutuhan pemahaman PL melalui terjemahan bahasa yang dipahami saat itu, yaitu Yunani, memicu munculnya Septuaginta, yaitu terjemahan PL dalam bahasa Yunani (lihat sejarah singkatnya pada beberapa terbitan warta Exodus yang lalu).
Alkitab Perjanjian Baru (PB) akhirnya juga berhasil dikanonkan dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani sekitar abad ke-4 M. Tahun 315 M, Bishop dari Aleksandria, Athanasius, memperkenalkan 27 kitab yang sekarang kita kenal dengan PB. Dengan demikian seluruh Alkitab, baik PL dan PB, masing-masing dapat dipahami orang pada jaman itu melalui penggunaan bahasa Yunani.
Terjemahan Latin Vulgata dan Supremacy Gereja Roma Katolik
Pergantian dominasi politik dari orang-orang Yunani ke tangan orang-orang Romawi juga berdampak pada dominasi bahasa yang dipakai saat itu. Walaupun pergantian bahasa itu tidak secepat pergantian pengaruh politiknya, namun pergeseran itu nampak jelas bergerak perlahan-lahan.
Latin Vulgata adalah terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin. Paus Damasus I (bertahta 366-384 M) adalah orang yang memerintahkan Jerome, sekretaris-nya, pada tahun 382 untuk membuat satu revisi dan terjemahan Alkitab bahasa Latin yang kelak akan dijadikan standar terjemahan resmi gereja saat itu (saat itu terdapat banyak sekali terjemahan Alkitab bahasa Latin). Ada beberapa kondisi (secara langsung maupun tidak langsung) yang memicu Paus Damasus I menyuruh Jerome untuk membuat satu standar terjemahan Alkitab Latin:
1. Banyaknya terjemahan Alkitab Latin yang beredar saat itu.
Kemunculan terjemahan-terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin bukan berawal dari Roma, melainkan dari Afrika Utara. Selama 2 abad pertama, gereja di Roma masih memakai bahasa Yunani, baik literatur-nya, nama-nama bishop-nya, maupun liturgi-nya. Versi-versi Alkitab Latin yang ditemukan di Afrika Utara (sekitar pertengahan abad 3 M) dapat ditermukan pada tulisan-tulisan Cyprian dan Tertulianus. Tetapi versi-versi ini terlihat sederhana, kasar dan berciri khas masing-masing provinsi dimana versi itu ditulis. Ketika gereja di Itali mulai menjadikan bahasa Latin sebagai bahasa resminya (kemungkinan sekitar akhir abad ke-3 M), ciri khas dari versi Alkitab Latin mereka yang berbau Afrika Utara, jelas tidak cocok jika dipakai di gereja Roma yang ciri khasnya lebih sopan. Maka mereka membuat versi Alkitab Latin sendiri yang disesuaikan dengan ciri khas provinsinya. Begitulah gambaran sekilas munculnya berbagai versi Alkitab Latin yang berciri khas masing-masing provinsi.
2. Munculnya bidat-bidat.
Selain karena faktor ketidaknyamanan dalam berkotbah dan melaksanakan liturgi dengan berbagai variasinya, gereja membutuhkan satu teks berotoritas melawan para bidat yang bermunculan saat itu. Adanya beberapa versi Alkitab Latin yang dalam beberapa bagian teksnya justru membela pendapat para bidat serta tidak adanya versi Alkitab stanbdar membuat gereja semakin sulit untuk membuktikan kebersalahan bidat-bidat itu. Apalagi, orang-orang Yahudi , dengan satu teks otoritasnya, malahan mentertawakan orang-orang Kristen yang bingung dengan bermacam-macam versi Alkitab mereka.
3. Perpisahan gereja Barat dan Timur
Ketika Kaisar Constantine memindahkan ibukota Roma ke kota Konstatinopel (kota yang dibangunnya sendiri dengan memberi nama sesuai dengan namanya) pada tahun 330, maka tindakan ini memicu perpisahan gereja-gereja di Barat dan Timur baik secara politik maupun urusan gerejawi. Gereja-gereja di Barat dan Timur masing-masing ingin memiliki standar teks Alkitab sendiri untuk mengklaim otoritas mereka masing-masing.
Maka mulailah Jerome melaksanakan tugasnya hingga tahun 405 dia berhasil menerjemahkan seluruh PL dan PB serta beberapa kitab Apokrifa. Hasil terjemahan Jerome ini diberi nama Latin Vulgata (versio vulgata) yang artinya adalah terjemahan yang diperuntukkan untuk umum.
Menjelang tahun 500 M, Alkitab telah diterjemahkan (tidak secara lengkap) ke dalam sekitar 500 bahasa. Namun satu abad berikutnya (sekitar 600 M), gereja Roma Katolik (selanjutnya disingkat RK) sebagai institusi yang mendapat klaim ‘gereja yang universal’ sekitar tahun 170 M, melarang pemakaian terjemahan-terjemahan Alkitab, kecuali terjemahan Latin Vulgata. Orang-orang yang memiliki terjemahan Alkitab selain Latin Vulgata akan mendapat hukuman mati.
Larangan ini berkenaan dengan hak istimewa yang dimiliki para rohaniwan gereja RK untuk mempelajari bahasa Latin. Dengan keistimewaan ini gereja memperoleh kekuasaan mutlak untuk membuat berbagai pengajaran gereja tanpa adanya keberatan dari kaum awam karena ketidakmampuan mereka untuk membaca Alkitab dalam bahasa Latin. Selain itu jika kaum awam dapat membaca Alkitab dalam bahasa yang mereka mengerti, maka pendapatan gereja akan berkurang. Hal ini berkenaan dengan proyek-proyek gereja, misalnya dengan menjual indulgensia, yaitu surat penghapusan dosa dan purgatory, yaitu melepaskan orang yang kita kasihi tetapi sudah meninggal dari purgatory (api penyucian).
Supremasi gereja RK dalam menyatakan otoritas Latin Vulgata mencapai puncaknya pada Konsili Trente pada 8 April 1546. Dalam Konsili ini ditetapkan, “But if any one receive not, as sacred and canonical, the said books entire with all their parts, as thay have been used to be read in the Catholic Church, and as they are contained in the old Latin Vulgate edition; and knowingly and deliberately contemn (condemn) the traditions aforesaid; let him be anathema” (Tetapi jika ada orang yang tidak menerima sebagai kitab-kitab yang suci dan kanonik, yaitu kitab-kitab yang disebutkan dengan bagian-bagiannya, sebagaimana yang dulunya dibaca oleh gereja Katolik dan yang terdapat dalam edisi Latin Vulgata, dengan sadar dan sengaja menghakimi tradisi-tradisi yang disebutkan sebelumnya; maka terkutuklah dia).
Tokoh-tokoh Penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Inggris dan Beberapa Versi Alkitab Terkenal
Walaupun larangan penerjemahan Alkitab tetap terus berlangsung disertai intimidasi hukuman mati bagi para penerjemah dan pembacanya, namun dalam providensia-Nya, Allah telah menetapkan orang-orang dan peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah jaman untuk menyebarkan Firman-Nya melalui terjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa.
Sejarah penerjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris dimulai pada periode yang dinamakan Anglo-Saxon (500-700 M). Gereja-gereja di Inggris yang ada dalam kekaisaran Roma sudah terbiasa mempergunakan Alkitab Latin (Latin Vulgata). Kebutuhan akan suatu terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris muncul bersamaan dengan penginjilan dan pertumbuhan gereja Anglo-Saxon pada abad ke-6 M.
Venerable Bede, seorang biarawan dari Jarrow, menceritakan tentang Caedmon, seorang gembala ternak, yang mendapat anugerah dari Allah yang memampukan dia untuk menyanyikan tema-tema Alakitab dalam bahasa Inggris. Tindakan Caedmon ini banyak ditiru orang-orang Inggris jaman itu untuk mempopulerkan ayat-ayat dalam Alkitab.
Setelah Caedmon, terjemahan Alkitab dimulai.
1. Aldheim (640-709) menerjemahan Mazmur sekitar tahun 700 M.
2. Bede sendiri (menurut tulisan muridnya, Cuthbert) menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Inggris sebelum Bede meninggal pada tahun 735 M.
3. Setelah menaklukkan tentara-tentara Denmark yang menyerbu kerajaannya, Alfred, raja Wesse (849-901) membantu perkembangan pendidikan dan agama, termasuk di dalamnya terjemahan Kitab Suci yang dilakukannya sendiri. Sebagaimana yang dilaporkannya sendiri, Alfred menerjemahkan Alkitab dari Latin ke Inggris kuno dengan sistim terjemahan kata perkata atau kadang arti perarti. Meskipun tulisannya masih diragukan, tradisi menyebutkan bahwa Alfred menerjemahkan Sepuluh Perintah Allah dan beberapa bagian dari Keluaran 21-23 bersamaaan dengan Kisah Para Rasul 15:23-29.
4. Aldred (sekitar 950-970) menambahkan terjemahan dalam bentuk Inggris Kuno. Salah satu contoh yang ditemukan adalah Doa Bapa kami:
Suae ðonne iuih gie bidde fader urer ðu arð ðu bist in heofnum + in heofnas; sie gehalgad noma ðin; to-cymeð ric ðin. sie willo ðin suae is in heofne J in eorðo. hlaf userne oferwistlic sel us to dæg. J forgef us scylda usra suae uoe forgefon scyldgum usum. J ne inlæd usih in costunge ah gefrig usich from yfle
5. Farman (seorang pendeta) sekitar tahun yang sama dengan Aldred menulis terjemahan Injil Matius
6. Sekitar tahun 990 muncul terjemahan keempat Injil (terkenal dengan nama Wessex Gospels). Salah satu contohnya adalah Doa Bapa kami (Mat. 6:9-31):
Fæder ure þu þe eart on heofonum, si þin nama gehalgod. To becume þin rice, gewurþe ðin willa, on eorðan swa swa on heofonum. Urne gedæghwamlican hlaf syle us todæg, and forgyf us ure gyltas, swa swa we forgyfað urum gyltendum. And ne gelæd þu us on costnunge, ac alys us of yfele. Soþlice
7. Abbot Ælfric : menerjemahkan hampir seluruh PL ke dalam bahasa Inggris Kuno.
Walaupun nama-nama mereka sering tidak dicatat sebagai tokoh-tokoh dalam sejarah penerjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris, mereka adalah para perintis penerjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.
Situasi gereja di Inggris pada abad ke-11-14
Selama lebih dari 300 tahun, tidak ada bentuk terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris. Salah satu alasan mendasarnya adalah penyerbuan Norman (Perancis) terhadap Inggris pada tahun 1066 yang salah satunya berakibat pada keterbatasan penggunaan bahasa Inggris. Bahasa Inggris hanya dipergunakan untuk dokumen-dokumen tertulis saja. Para bangsawan biasa menulis dalam bahasa Perancis yang dianggap sebagai bahasa elite, sedangkan bahasa yang dipergunakan untuk dokumen-dokumen resmi gereja adalah bahasa Latin. Bahasa Inggris sendiri hanya dipergunakan oleh kaum bawahan, seperti para petani. Jika ada orang yang menanyakan tentang kehendak Allah dalam Alkitab, kaum rohaniwan akan menampik pertanyaan tersebut. Karena selain mereka tidak tahu jawabannya (karena mereka hanya membaca terjemahan Alkitab bahasa Latin dan hanya membaca bagian-bagian tertentu yang dipergunakan dalam liturgi ibadah), mereka juga tidak memahami bahasa Latin dengan benar sehingga mereka tidak dapat memberi jawaban kepada kaum awam selain doa-doa bahasa Latin yang biasa dipakai dalam ibadah.
Pada pertengahan abad 14, yaitu tahun 1348, di Inggris terjadi wabah penyakit pes. Jumlah korban meninggal karena wabah pes ini cukup besar. Banyak kaum awam yang menderita karena sanak saudaranya atau kawannya yang meninggal. Peristiwa ini merupakan jalan yang dipakai gereja untuk lebih mempromosikan purgatori ketimbang menghibur orang-orang yang menderita saat itu karena kehilangan kerabat atau kawannya. Secara finansial, gereja mendapat banyak keuntungan dari peristiwa ini.
Di tengah situasi kebobrokan gereja yang sangat parah inilah muncul orang-orang yang dipakai Tuhan untuk membawa gereja-Nya kembali pada Alkitab.
John Wycliffe (1329-1384)
Manuskrip Alkitab (tulisan tangan) PB dalam bahasa Inggris yang pertama kali muncul diselesaikan pada tahun 1380-an oleh seorang teolog dari Oxford, John Wycliffe; sedangkan terjemahan PL-nya baru selesai pada tahun 1382. Di Eropa dia sangat terkenal karena sikapnya yang menentang banyak pengajaran dari gereja RK yang dipercayainya bertentangan dengan Alkitab, misalnya transubstansiasi dan keberadaan imam atau paus sebagai perantara antara manusia dengan Allah.
Dengan bantuan para pengikutnya (dikenal dengn ‘the Lollards’) dan asistennya (Purvey) dan para ahli tulis lainnya, Wycliffe berhasil menerjemahkan Alkitab dalam bentuk manuskrip ke dalam bahasa Inggris. Satu-satunya sumber terjemahan yang dipergunakan saat itu adalah Latin Vulgata.
Paus sangat marah dengan pengajaran dan terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris yang dibuat oleh Wycliffe. Beberapa pengikut Wycliffe (purvey dan Hereford) dimasukkan ke dalam penjara sedangkara beberapa rekannnya yang lain dibakar di tiang gantungan dengan Alkitab yang digantungkan di leher mereka. Orang-orang yang kedapatan sedang membaca Wycliffe Bible akan dikenakan denda baik berupa harta mereka ataupun nyawa mereka.
Kemarahan Paus terus berlangsung, bahkan 44 tahun setelah kematian John Wycliffe, Paus menyuruh penggalian ulang terhadap makan Wycliffe, meremukkan tulang-tulang mayatnya dan membakarnya. Abu remukan tulangnya itu dihanyutkan di aliran sungai Swift. Banyak yang mengatakan bahwa tindakan gereja yang menyebarkan abu tersebut ke sungai yang akhirnya mengalir ke berbagai tempat justru menggambarkan bagaimana penyebaran pengajaran Wycliffe.
Karena tindakan-tindakannya itu, John Wycliffe sering disebut sebagai ‘Father of English Bible’ dan ‘The Morning Star of Reformation.’

John Hus
Walaupun Wycliffe telah meninggal, salah seorang pengikutnya, John Hus, terus menggemakan pengajaran Wycliffe yang berusaha agar kaum awam juga mendapat kesempatan untuk membaca Alkitab dengan bahasa yang mereka pahami. Akhirnya Hus juga dibakar di kayu pancung pada tahun 1415 dengan manuskrip Wycliffe sebagai alat untuk membarakan apinya. Menjelang kematiannya, Hus berkata, “in 100 years, God will raise up a man whose calls for reform cannot be surpressed” (dalam 100 tahun, Allah akan membangkitkan seseorang yang panggilannya untuk mereformasi gereja tidak dapat dielakkan).

Johann Gutenberg
Sekitar tahun 1450-an Johann Gutenberg menciptakan penemuan mesin cetak. Hal yang paling menakjubkan adalah bahwa buku yang pertama kali dicetak dengan mesin cetak adalah Alkitab Latin Vulgata di Mainz, Jerman. Cetakannya terkenal dengan Gutenberg Bible.
Sumbangsih besar yang diberikan Gutenberg terhadap Alkitab tidak diimbangi dengan kehidupannya. Hal yang ironis adalah bahwa Gutenberg akhirnya menjadi korban bisnis kotor para rekannya yang menggiringnya pada kemiskinan hingga akhir hayatnya. Walaupun demikian, penemuannya merupakan sumbangsih besar dalam penyebaran Alkitab dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang singkat. Inilah salah satu faktor pendukung keberhasilan Reformasi.
Thomas Linacre
Sekitar tahun 1490-an, seorang dosen dari Oxford dan dokter pribadi Raja Henry ke-7 dan ke-8, Thomas Linacre, memutuskan untuk mempelajari bahasa Yunani. Setelah membaca kitab-kitab Injil dalam bahasa Yunani dan membandingkannya dengan Latin Vulgata, dia mendapati bahwa banyaknya kesalahan fatal dalam terjemahan Latin Vulgata dalam menggemakan pesan Injil. Dalam diarinya dia menuliska, “Either this (the original Greek) is not the Gospel… of we are not Christians.”
Setelah mengetahui banyaknya kesalahan Latin Vulgata, Linacre segera memberitahu rekannya, John Colet, seorang dosen dari Oxford juga.
John Colet
Setelah diberitahu Linacre tentang kesalahan-kesalahan Latin Vulgata, Colet terinspirasi untuk mengikuti jejak Linacre dan dia segera pergi ke Itali untuk mempelajari bahasa Yunani. Dia mengahbiskan waktu 2 tahun untuk mempelajarinya, dan sekembalinya ke Oxford, Colet membantu Linacre untuk membuat buku tata bahasa Yunani dalam bahasa Inggris. Karya Linacre dan Colet mempunyai kontribusi besar untuk membuka kesadaran kaum awam dalam memahami bahwa terjemahan latin Vulgata sangat tidak dapat dipercaya.
Pada 1496, John Colet mulai membaca Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris untuk keperluan para mahasiswanya di Oxford dan untuk kaum awam di St. Paul’s Cathedral di London. Orang-orang sangat ingin mendengar Firman Tuhan dalam bahasa yang mereka pahami sehingga dalam waktu 6 bulan ada sekitar 20.000 orang yang berkumpul di gereja sementara orang lainnya berusaha untuk masuk dalam gereja. Beruntunglah Colet karena dia memiliki rekan-rekan dari kalangan orang penting (Colet adalah anak walikota London) sehingga dia terbebas dari hukuman mati.
Erasmus
Seorang sarjana besar dan sekaligus murid dari Thomas Linacre, Erasmus of Rotterdam, sangat terbeban untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan Latin Vulgata. Salah satu dari banyak kesalahan yang dilakukan oleh Latin Vulgata adalah menuliskan Matius 3:1-2 dengan menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukan menyuruh orang-orang untuk bertobat (Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”), melainkan untuk melakukan pengakuan dosa kepada para pejabat gereja berwenang. Dan biasanya pejabat gereja akan menindaklanjutinya dengan menyarankan kaum awam untuk membeli surat penghapusan dosa (indulgensia).
Pada tahun 1516, dengan bantuan John Froben yang ahli dalam cetak-mencetak, Erasmus menerbitkan Perjanjian Baru yang memparalelkan bahasa Yunani dan Latin. Namun Alkitab bahasa Latin yang dipakai bukanlah Latin Vulgata, melainkan hasil terjemahannya sendiri dari teks Yunani yang lebih akurat dan bisa diandalkan. Hasilnya adalah karyanya merupakan teks Alkitab pertama dalam bahasa Latin (bukan Latin Vulgata) yang dicetak sepanjang abad tersebut.
William Tyndale
Tyndale adalah adalah seorang sarjana sejati yang sangat genius. Di tangannyalah predikat ‘orang yang pertama kali menerbitkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris’ disandang. Dia menguasai 8 bahasa, bahkan jika dia sedang mempergunakan salah satu bahsa tersebut, orang yakin bahwa dia adalah native speaker dari bahasa tersebut. Salah satu predikat yang disandangnya adalah “Architect of the English Language” (Arsitek bahasa Inggris) karena banyak frase yang diciptakannya dan masih dipergunakan hingga saat ini.
Di Oxford dia mempelajari bahasa Yunani, Ibrani dan Latin. Salah satu buku favoritnya adalah Yunani PB yang dicetak oleh Erasmus pada tahun 1516. Dengan mempelajari buku tersebut, dia mendapati bahwa gereja tidak mengajarkan apa yang tertulis dalam Alkitab. Pada akhir masa perkuliahannya di Oxford, Tyndale berhasil menyelesaikan terjemahan PB-nya dan dia hendak menerbitkannya. Tyndale sendiri harus melarikan diri dari Inggris menuju ke Jerman karena adanya rumor bahwa proyek terjemahan PB-nya masih terus berlangsung dan hal ini menyebabkan para petinggi gereja memburunya. Namun Allah menggagalkan usaha mereka karena pada tahun 1526-1527 terjamahan PB Tyndale menjadi edisi terjemahan bahasa Inggris yang dicetak untuk pertama kalinya.
Pada tahun 1526, beribu-ribu salinan cetakan PB Tyndale memasuki Inggris, yang disembunyikan di antara tumpukan barang-barang atau tong-tong berisi ikan dan di berbagai tempat yang hanya diketahui oleh para penyelundup. Antara tahun 1526-1528, paling sedikit ada 18.00 salinan PB Tyndale masuk ke Inggris. Ironisnya, pelanggaran terbesar cetakan PB Tyndale adalah orang-orang bawahan raja yang membeli semua cetakan PB tersebut dan selanjutnya membakarnya.
Para petinggi gereja dan kerajaan memburu salinan cetakan PB Tyndale tersebut. Gereja malah menyatakan bahwa terjemahan Tyndale tersebut mengandung banyak kesalahan. Mereka membakar salinan PB tersebut jika mereka berhasil menyita para masyarakat yang memilikinya. Bahkan orang yang didapati mempunyai salinan tersebut akan dihukum dengan cara dibakar. Namun semakin gencar perburuan itu dilakukan, semakin tinggi keingintahuan masyarakat akan salinan PB tersebut.
Pada Oktober 1536, Tyndale menjalani eksekusi hukuman mati dengan cara dicekik lalu dibakar. Dia dianggap sebagai bidat karena dalam tulisannya, Tyndale secara jelas menolak transubstansiasi dan berpegang pada konsep ‘pembenaran oleh iman.’ Kata-kata terakhirnya sebelum menjalani hukuman adalah ‘God, open the King of England’s eyes.’

Martin Luther

Hampir 100 tahun setelah kematian John Hus, ucapan terakhirnya menjadi kenyataan. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther menempelkan 95 dalil tentang pengajaran sesat dan kejahatan-kejahatan yang dilakukan gereja RK di pintu gerbang gereja Wittenberg, Jerman. Pada tahun yang sama, 7 orang dibakar di tiang pancung oleh gereja RK karena ‘kejahatan’ yang mereka lakukan, yaitu mengajarkan anak-anak mereka untuk mengucapkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Latin.
Walaupun Luther mendapatkan hukuman pengasingan oleh Diet of Worms pada tahun 1521, namun pada September 1522 dia berhasil menyelesaikan dan mencetak penerjemahan Alkitab Yunani-Latin milik Erasmus ke dalam bahasa Jerman. Proyeknya ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1516. Luther juga mencetak terjemahan Pentateukh pada tahun 1523 dan edisi lain PB dalam bahasa Jerman pada tahun 1529. Sekitar tahun 1530-an dia berhasil menerbitkan terjemahan seluruh isis Alkitab dalam bahasa Jerman.

Myles Coverdale (Coverdale Bible)

Myles Coverdale dan John Roger (Thomas Matthew) adalah dua orang yang menjadi murid Tyndale pada 6 tahun terakhir hidupnya. Mereka berdua tetap setia dengan komitmen Tyndale untuk menyebarluaskan terjemahan Alktab dalam bahasa Inggris agar mudah dipahami oleh orang awam. Coverdale menyelesaikan terjemahan PL dan berusaha menerbitkan terjemahan seluruh Alkitab PL dan PB dalam bahasa Inggris dengan mempergunakan terjemahan bahasa Jerman milik Luther dan bahasa Latin sebagai sumber terjemahannya. Pada 4 Oktober 1535 terbitlah Coverdale Bible sebagai Alkitab bahasa Inggris yang pertama kali menerbitkan PL dan PB.

John Rogers (Matthew-Tyndale Bible)

John Rogers meneruskan apa yang sudah dilakukan Coverdale dengan menerbitkan edisi kedua terjemahan bahasa Inggris PL dan PB yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan Yunani. Rogers menerbitkannya dengan memakai nama samaran Thomas Matthew (nama yang dianggap dipergunakan oleh Tyndale pada suatu saat tertentu). Karyanya ini merupakan gabungan karya Pentateuch Tyndale dan PB-nya edisi 1534-1535, Coverdale Bible dan beberapa bagian karya terjemahan Rogers sendiri. Karyanya ini terkenal dengan nama Matthew-Tyndale Bible.

Raja Henry VIII (Great Bible)

Ucapan Tyndale terakhir sebelum kematiannya tergenapi ketika raja Henry VIII mengijinkan dan sekaligus membiayai pencetakan Alkitab dalam Bahasa Inggris yang terkenal dengan Great Bible.
Apa yang mendasari tindakan atau motif raja Henry VIII mengijinkan dan membiayai penerbitan Alkitab bahasa Inggris setidaknya mengajarkan kepada kita tentang sesuatu yang menarik. Kadangkala Allah ‘memanfaatkan’ hal-hal buruk terjadi untuk mendatangkan suatu kebaikan.
Raja Inggris saat itu, Henry VIII (1491-1547) ingin menceraikan istrinya Catherine of Aragon. Mereka sudah memiliki 6 anak perempuan namun raja Henry menginginkan seorang putra sebagai penerusnya. Raja sedang jatuh cinta pada Anne Boleyn yang diharapkan akan memberikan seorang puta baginya. Keinginan raja tersebut sangat bertentangan dengan peraturan gereja KR yang tidak memperbolehkan terjadinya perceraian. Paus menolak keinginan raja untuk menikah lagi dengan Anne. Tetapi raja meresponi larangan Paus dengan menikahi Anne. Sebagai dukungan terhadap tindakannya tersebut, raja menyatakan Inggris terlepas dari kekuasaan Gereja RK dan selanjutnya meresmikan dirinya sendiri sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala gereja yang baru. Gereja yang baru tersebut terkenal dengan Anglican Church atau Church of England. Tindakannya yang bertentangan dengan gereja RK diwujudkan dengan membiayai pencetakan Alkitab dalam bahasa Inggris dan meresmikannya sebagai sesuatu yang legal.
Pada tahun 1539, uskup besar Canterbury, Thomas Cranmer, menyewa Miles Coverdale atas permintaan raja Henry VIII untuk menerbitkan ‘Great Bible. Great Bible menjadi ’Alkitab bahasa Inggris yang pertama kali diijinkan dipakai untuk keperluan umum.’ Cetakan Great Bible dibagikan ke setiap gereja, diikatkan di mimbar gereja dan bahkan disediakan seorang pembaca sehingga orang yang buta huruf sekalipun dapat mendengarkan Firman Allah dalam bahasa Inggris yang sangat jelas. Pemberian nama Great Bible disesuaikan dengan ukuran cetakan Alkitab tersebut, yaitu seukuran dengan mimbar besar gereja (sekitar 14 inci tingginya).
Setelah kematian raja Henry VII dan selanjutnya dilanjutkan dengan raja Edward VI, gema kemerdekaan masih tetap bergaung. Namun pengganti raja Edward, yaitu ratu Mary, merupakan penghalang terbesar bagi penerbitan Alkitab di Inggris. Dia berkeinginan mengembalikan Inggris ke pangkuan gereja RK. Pada tahun 1555, ratu Mary memerintahkan ekseskusi terhadap John “Thomas Matthew” dan Thomas Cranmer dengan cara dibakar. Tidak berhenti sampai di sana, ratu Mary meneruskan tindakan membakar orang-orang yang dianggapkan menjadi Protestan. Masa ini terkenal dengan Marian Exile dimana banyak orang melarikan diri dari Inggris untuk mendapatkan perlindungan dari hukuman ratu Mary.

Para Reformer dari Geneva (Geneva Bible)

Sekitar tahun 1550-an, gereja di Geneva (Switzerland) menampung orang-orang yang melarikan diri dari kejaran ratu Mary. Mereka bertemu di Geneva, dipimpin oleh Myles Coverdale dan John Foxe (penerbit buku Foxe’s Book of Martyr) dan juga Thomas Sampson dan William Whittingham. Dengan perlindungan dari John Calvin dan John Knox, gereja Geneva mengambil keputusan untuk membuat suatu Alkitab yang akan mengajar keluarga-keluarga mereka sementara mereka berada di pengasingan.
PB diselesaikan pada tahun 1557 dan seluruh Alkitab berhasil diterbitkan pada tahun 1560. Alkitab ini terkenal dengan nama Geneva Bible. Geneva Bible merupakan Alkitab yang pertama kalinya menambahkan ayat dan pasal-pasal. Setiap pasal ditambahi dengan referensi-referensi sehingga Geneva Bible juga merupakan Alkitab Inggris pertama yang juga berfungsi sebagai Study Bible.
Geneva Bible merupakan Alkitab yang dipilih untuk dipakai oleh orang-orang Kristen yang berbahasa Inggris selama lebih dari 100 tahun. Antara 1560-1644 sedikitnya ada 144 edisi Geneva Bible yang diterbitkan. Geneva Bible sendiri mempertahankan 90 % isi dari terjemahan milik Tyndale.
Geneva Bible juga merupakan Alkitab yang pertama kali dibawa ke Amerika dan menjadi Alkitab orang Puritan dan Pilgrims.

Ratu Elizabeth I (Bishop Bible)

Dengan berakhirnya pemerintahan berdarah ratu Mary, orang-orang yang dulunya melarikan diri dari Inggris mulai kembali. Gereja Anglican, di bawah ratu Elizabeth I, keberatan dengan pencetakan dan penyebaran Geneva Bible di Inggris. Penggunaan referensi tambahan dalam Geneva Bible dianggap bertentangan dengan ajaran gereja saat itu. Pada tahun 1568, suatu revisi dari Great Bible diterbitkan dengan nama Bishop Bible. Namun kemunculannya tidak mampu menggantikan kebesaran Geneva Bible.

Gereja Roma Katolik (Douay-Rheims Version)

Pada tahun 1582, gereja KR melonggarkan ketentuannya bahwa Alkitab hanya boleh ditulis dalam bahasa Latin. Mereka mengijinkan terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.
Dengan tetap mempergunakan Latin Vulgata sebagai satu-satunya sumber, gereja RK mulai menerbitkan Alkitab berbahasa Inggris. Karena terjemahan PB-nya dilakukan di Roman Catholic College di kota Rheims, maka hasil terjemahannya diberi nama Rheims New Testament; sedangkan terjemahan PL-nya dilakukan di suatu universitas di kota Douay pada tahun 1609 sehingga hasilnya diberi nama Douay Old Testament. Gabungan PL dan PB tersebut diberi nama Douay-Rheims Version.

Raja James I(King James Version)
Dengan kematian ratu Elizabeth I, pangeran James I dari Skotlandia menjadi raja Inggris dengan gelar King James I of England. Sekitar tahun 1604 para rohaniwan Protestan mulai mendekati raja baru ini dan menyatakan keinginan mereka akan suatu terjemahan baru yang akan menggantikan Bishop Bible. Mereka tahun bahwa Geneva Bible belum dapat digantikan oleh terjemahan lainnya, namun mereka agak keberatan dengan tambahan referensi yang ada dalam Geneva Bible.
Dengan persetujuan raja James I, mereka mengumpulkan 50 orang ahli dengan menggabungkan The Tyndale New Testament, Coverdale Bible, Matthews Bible, Great Bible, Geneva Bible dan juga Rheims New Testament. Revisi besar terhadap Bishop Bile mulai dilakukan. Dari tahun 1605-1606 para ahli kitab mulai mengadakan penelitian. Dari 1607-1609 karya-karya tersebut dikumpulkan. Tahun 1610 karya tersebut dimasukkan ke percetakan. Dan akhirnya pada tahun 1611 muncullah ‘The 1611 King James Bible’ yang berukuran sangat besar (sekitar 16 inci). Setahun berikutnya King James Bible diterbitkan dan diikatkan di setiap gereja di Inggris dalam ukuran normal dengan harapan agar King James Bible ini dapat dimiliki pula oleh orang awam.
King James Bible menjadi satu-satunya terjemahan yang paling diminati dan dianggap memiliki terjemahannya yang paling akurat. Selain itu King James Bible mencetak rekor dalam sejarah dunia sebagai satu-satunya buku yang paling banyak dicetak, yaitu sebanyak 1 miliar. Selama 250 tahun King James Bible mendominasi hingga akhirnya pada tahun 1881-1885 muncullah English Revised Version.

Para Penerjemah Alkitab di Amerika

Meskipun Alkitab pertama yang diterbitkan di Amerika ditulis dalam bahasa asli Algonquin Indian oleh John Eliot pada tahun 1663, namun Alkitab bahasa Inggris yang pertama kali diterbitkan di Amerika dicetak oleh Robert Aitken pada tahun 1782 yang merupakan versi King James. Alkitab milik Aitken ini merupakan satu-satunya Alkitab yang diresmikan oleh Kongres Amerika Serikat. Tahun 1808, anak perempuan Aitken, Jane Aitken, menjadi wanita pertama yang menerbitkan Alkitab.
Tahun 1791, Isaac Collins berusaha memperbaiki kualitas dan ukuran penyusunan American Bible dan selanjutnya menerbitkan Family Bible yang pertama kali diterbitkan di Amerika. Pada tahun yang sama Isaiah Thomas menerbitkan Illustrated Bible yang pertama kalinya diterbitkan di Amerika.

Noah Webster

Beberapa tahun setelah membuat kamus Bahasa Inggris yang sangat terkenal, Webster juga membuat terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris modern pada tahun 1833. Namun karena kekaguman orang-orang saat itu pada King James Version belum sirna, maka terjemahan Webster kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat.

English Revised Version (ERV)

Setelah lebih dari 250 tahun KJV menduduki posisi teratas sebagai versi yang paling digemari oleh orang-orang yang berbahasa Inggris, maka selama rentang waktu itu pula tidak ada pertimbangan untuk merevisi KJV tersebut. Namun sekitar tahun 1850-an, sebuah rapat Church of England di Canterbury berinisiatif untuk merevisinya. Para penterjemah setuju kalau mereka akan membuat sedikit mungkin perubahan. Untuk PL-nya, mereka tetap memakai Masoret Teks, sedangkan teks PB-nya jauh lebih baik dari KJV.
Tahun 1881 diterbitkanlah versi PB dari English Revised Version di Inggris. Sedangkan seluruh PL danPB baru diterbitkan tahun 1885. ESV ini, jika dilihat dari akurasi teksnya jauh lebih tepat dari KJV, namun dari sisi gaya irama dan alur, ESV kurang dapat mengalahkan gaya yang dimiliki oleh KJV.
ERV berhasil menarik simpati banyak orang sehingga posisi KJV mulai goyang. Salah satu keunikan lain yang dimiliki ESV adalah ketidakmunculan kitab-kitab Apokrifa sehingga jumlah kitab yang ada dalam ESV hanyalah 66 kitab. Perlu diketahui, bahwa sebelum tahun 1880-an, semua Alkitab (baik Protestan maupun Katolik) memasukkan 80 kitab: 66 kitab-kitab kanonik dan 14 kitab-kitab Apokrifa. Bahkan KJV 1611 selain memuat 14 kitab-kitab Apokrifa, juga memuat ancaman raja James I berupa denda uang yang banyak dan hukuman setahun mendekam di penjara yang ditujukan bagi siapa saja yang berani mencetak Alkitab tanpa disertai Apokrifa.

American Standard Version (ASV)

Orang-orang Amerika meresponi kemunculan ERV dengan menerbitkan versi yang hampir identik dengan ERV, yaitu American Standard Version (ASV) pada tahun 1901. Gereja-gereja Amerika menerima ASV dengan tangan terbuka, bahkan selama beberapa dekade dianggap sebagai versi Alkitab bahasa Inggris modern yang paling unggul. Pada tahun 1971, ASV direvisi dan akhirnya munculllah New American Standard Version Bible (NASV atau NASB atau NAS). Versi revisi ini dipandang oleh banyak sarjana Kristen Injili dan para penerjemah sebagai terjemahan yang paling akurat, diterjemahakan kata per kata dari bahasa aslinya, yaitu Ibrani dan Yunani. Namun walaupun banyak diterima di kalangan akademisi, namun ada pula yang mengkritiknya sebagai terjemahan yang terlalu literal (karena memang menekankan akurasi-nya) sehingga kurang mudah dipahami dalam percakapan bahasa Inggris.

New International Version (NIV)

Karena alasan terjemahannya yang terlalu literal, maka pada tahun 1973 muncullah New International Version (NIV). NIV menawarkan model terjemahan yang mempergunakan persamaan kata yang dinamis, tidak menekankan terjemahan kata per kata, tetapi frase per frase dan kemudahannya untuk dibaca atau dipahami. Namun ada pula yang mengkritiknya dengan menyebut NIV sebagai Nearly Inspired Version. Di tengah segala bentuk kritikan dan dukungan terhadap kemunculan NIV, NIV merupakan terjemahan Alkitab bahasa Inggris modern yang paling laku dijual (best selling) dibanding semua versi yang pernah diterbitkan.

New King James Version (NKJV)

Pada tahun 1982, Thomas Nelson Publisher menerbitkan New King James Version yang bertujuan untuk mempertahankan penyusunan kata mendasar dari KJV serta mengubah beberapa kata yang agak kurang jelas dan beberapa kata ganti yang berlaku pada jaman Ratu Elizabeth, misalnya thee, thy and thou.

English Standard Version (ESV)

Pada tahun 2002, muncul pemikiran untuk menjembatani jurang antara NIV (yang dianggap mudah dibaca) dengan NASB (yang menekankan akurasi katanya) dengan menerbitkan English Standard Version.

Bayangkan, jika tidak ada perkembangan penerjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris!!
Berikut adalah perbandingan kutipan dari Yohanes 3:16 dari berbagai terjemahan Alkitab bahasa Inggris kuno hingga modern:
• Anglo-Saxon Proto-English Manuscripts (995 AD): “God lufode middan-eard swa, dat he seade his an-cennedan sunu, dat nan ne forweorde de on hine gely ac habbe dat ece lif.”
• Wycliff (1380): “for god loued so the world; that he gaf his oon bigetun sone, that eche man that bileueth in him perisch not: but haue euerlastynge liif,”
• Tyndale (1534): “For God so loveth the worlde, that he hath geven his only sonne, that none that beleve in him, shuld perisshe: but shuld have everlastinge lyfe.”
• Great Bible (1539): “For God so loued the worlde, that he gaue his only begotten sonne, that whosoeuer beleueth in him, shulde not perisshe, but haue euerlasting lyfe.”
• Geneva (1560): “For God so loueth the world, that he hath geuen his only begotten Sonne: that none that beleue in him, should peryshe, but haue euerlasting lyfe.”
• Rheims (1582): “For so God loued the vvorld, that he gaue his only-begotten sonne: that euery one that beleeueth in him, perish not, but may haue life euerlasting”
• 1st Ed. King James (1611): “For God so loued the world, that he gaue his only begotten Sonne: that whosoeuer beleeueth in him, should not perish, but haue euerlasting life.”
• King James (1767): For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.
• Webster Bible (1833): For God so loved the world, that he gave his only-begotten Son, that whoever believeth in him, should not perish, but have everlasting life.
• American Standard Version (1901) : For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth on him should not perish, but have eternal life.
• New International Version (1984) : For God so loved the world that he gave his one and only Son, that whoever believes in him shall not perish but have eternal life.
• New King James Version (1982): For God so loved the world that He gave His only begotten Son, that whoever believes in Him should not perish but have everlasting life.

Saat Teduh-Quiet Time (Markus 1:35; Yohanes 15:5)


QUIET TIME
(Mrk. 1:35; Yoh. 15:5)

Pendahuluan :
Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, merupakan cabang/ranting yang menempel pada pokok Anggur yang benar. Ranting yang menempel pada pokok anggur akan mendapat aliran bahan makanan terus-menerus dan berbuah lebat.
Apa akibatnya bila ranting tersebut tidak menempel atau dipotong dari pokok anggurnya? Ranting tersebut akan layu, daunnya menguning dan kemudian mati kekeringan. Ranting yang menempel pada pokok anggur merupakan gambaran dari pentingnya hubungan pribadi kita dengan Tuhan setiap hari, yang biasa disebut dengan HPDT/Saat Teduh. Hubungan/ persekutuan ini akan memberikan makanan dan kekuatan bagi kita untuk bertumbuh dan berbuah di dalam kehidupan ini.
”Saat teduh” adalah waktu khusus yang disediakan bagi Tuhan setiap hari. Dalam waktu teduh ini kita berjumpa dengan Tuhan, berbicara dengan Tuhan dalam doa, membaca, merenungkan dan melakukan apa yang akan dikatakan/difirmankan Tuhan melalui firman-Nya. Saat teduh adalah persekutuan yang indah dengan Tuhan setiap hari dan merupakan penyerahan diri secara baru pada hari itu.
Bersaat teduh dengan Tuhan setiap hari mungkin merupakan aspek kehidupan Kristen yang paling banyak dipromosikan, namun paling sedikit dipraktekkan. Mengapa? Ada banyak faktor penyebab mengapa orang-orang tidak bersaat teduh secara rutin. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang beralasan tidak tahu cara membaca Alkitab dengan benar. Ada juga yang mengalami kesulitan dalam memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Dan sejumlah alasan lainnya.

1. Mengapa bersaat teduh?
Sedikitnya ada lima alasan mengapa kita perlu bersaat teduh? Alasan pertama adalah teladan Tuhan Yesus. Selama pelayanannya di muka bumi ini, Tuhan Yesus bangun pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, dan pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa (Mrk 1:35). Karena alasan tertentu, Tuhan Yesus merasa bahwa saat teduh itu lebih penting daripada satu atau dua jam untuk tidur, atau menyembuhkan atau berkhotbah. Jika Tuhan Yesus saja memerlukan saat teduh, apalagi kita.
Alasan kedua Tuhan merindukan persekutuan dengan kita. Ini adalah suatu hal yang luar biasa, bahwa pencipta langit dan bumi benar-benar menginginkan persekutuan dengan ciptaan-Nya. Raja alam semesta ini ingin menyatakan diri-Nya dan kasih-Nya kepada kita setiap hari.
Alasan ketiga, tanpa saat teduh yang teratur, kita tidak dapat bertumbuh dalam iman. Orang-orang saleh yang dipakai Tuhan dari abad ke abad, semuanya mempunyai saat teduh yang teratur. Misalnya: Daniel telah menjadi seorang perdana menteri di sebuah kerajaan besar, tetapi ”tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya” (Dan 6:11). Musa yang bertanggung jawab memimpin 2 juta orang Yahudi dalam perjalanan melewati padang gurun selama 40 tahun mendapatkan kebijaksanaan dan kekuatan melalui waktu yang diluangkan bersama Allah, sebagai saat pertemuan antara 2 orang bersahabat. Daud, seorang tokoh perang dan raja yang terkenal, senantiasa meluangkan waktu bersama Allah. Kitab Mazmur berisi catatan harian saat teduhnya bersama Allah.
Alasan keempat, saat teduh membuat kita peka. Mzm 25:14, ”TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya/maksud-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” Hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan akan menimbulkan kepekaan di dalam diri kita terhadap kehendak Tuhan. Kepekaan dan pemahaman akan kehendak Allah akan menghasilkan perubahan sikap dan karakter di dalam kehidupan kita.
Alasan kelima, karena Alkitab itu memiliki banyak manfaat yang penting di dalam kehidupan orang percaya. Dalam 2 Tim. 3:16, diungkapkan beberapa manfaat dari Alkitab, yaitu:
o Mengajar. Apa yang diajarkan oleh Alkitab? Tentu saja kita dapat belajar tentnng Allah yang menyatakan diri, karya dan kehendak-Nya sampai saat ini kepada umat manusia. Kita pun dapat belajar tentang respon manusia, baik yang positif maupun negatif, terhadap Allahnya.
o Menyatakan kesalahan Di dalam Alkitab terdapat kebenaran yang sifatnya universal dan kekal. Oleh karena itu, dengan membaca yang benar (Alkitab), maka kita dapat tahu apa yang salah. Saat teduh mengoreksi kehidupan kita.
o Memperbaiki kelakuan. Dengan mengetahui apa yang salah, maka kita diajak untuk memperbaiki kelakuan kita Tidak hanya kelakuan bahkan, tetapi juga pola pikir dan tutur kata kita juga.
o Mendidik orang dalam kebenaran. Ini adalah fungsi yang tidak kalah pentingnya. Sebagai orang percaya, kita diharapkan untuk setia pada kebenaran dan karenanya berupaya untuk hidup dalam kebenaran itu. Alkitab dapat menolong kita untuk mengenal kebenaran dan mendidik kita untuk setia pada kebenaran.

2. Waktu dalam bersaat teduh
Sebenarnya tidak ada waktu yang paling baik dalam bersaat teduh, karena pada dasarnya kita dapat membaca dan merenungkan Firman Tuhan kapan saja. Sekalipun demikian, pemilihan waktu yang tepat akan sangat menentukan proses saat teduh yang kita lakukan. Kalau begitu, kapan waktu yang tepat itu? Tentu itu tergantung dari diri kita masing-masing. Yang penting, ada suasana teduh dan tenang saat kita bersaat teduh. Suasana yang demikian akan sangat menolong kita untuk berkonsentrasi dan mendapat sesuatu dari Firman yang kita baca (bnd. Mat. 6:6).
Dalam Mrk. 1:35, dikisahkan tentang Tuhan Yesus yang berdoa pada pagi-pagi sekali sewaktu hari masih gelap. Tempat yang dipilih pun adalah tempat yang tenang. Di situlah Ia dapat berkonsentrasi dalam bersaat teduh untuk mendapatkan kekuatan spiritual guna melanjutkan karya-Nya di dunia.
Bukan berarti bahwa kita harus bersaat teduh pada pagi-pagi sekali, sama seperti Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus juga biasa berdoa pada malam hari (Mat. 14:23, ”Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ”). Oleh karena itu, yang penting bukan kapannya, tetapi waktu yang tepat; tepat karena ada suasana teduh dan tenang, tepat karena kita bisa dengan sungguh-sungguh membaca Alkitab untuk mencari tahu apa kehendak-Nya bagi kita, tepat karena kondisi fisik kita masih memungkinkan untuk berdoa kepada-Nya. Kalau waktu yang tepat itu adalah pagi hari, ya… lakukanlah pada pagi hari. Kalau waktu yang tepat itu adalah malam hari, sebelum tidur, ya… lakukanlah pada malam hari. Yang penting, kita tetap melakukan saat teduh di waktu yang tepat.

3. Tempat bersaat teduh
Sejalan dengan pembahasan di atas tentang waktu dalam bersaat teduh, maka tidak ada tempat yang paling baik dalam bersaat teduh. Dalam Alkitab, Tuhan Yesus berkali-kali berdoa di sebuah bukit, di tempat yang sunyi (bnd. Mat. 14:23; Mrk. b:46; Luk. 6:12). Mengapa bukit menjadi tempat favorit-Nya? Yang pasti, bukit dipilih bukan karena tempat itu lebih tinggi dan karenanya lebih dekat ke sorga atau dengan kata lain doanya lebih cepat didengar oleh Allah Bapa.
Tempat itu dipilih karena menyediakan suasana yang teduh dan tenang. Suasana itu adalah prasyarat bagi saat teduh yang baik dan berkualitas. Lagipula, dalam kesempatan yang lain, Tuhan Yesus menyuruh para pendengar-Nya untuk berdoa di kamar yang terkunci (Mat. 6:6). Di balik pengajaran itu, sebenarnya terkandung pemahaman bahwa saat teduh itu harus dilakukan dalam suasana yang teduh, tenang, serta bukan dalam semangat untuk memamerkan kepada orang lain bahwa diri kita adalah orang yang saleh, yang ditunjukkan dengan seringnya berdoa (bersaat teduh). Jadi, dapat dikatakan bahwa tempat yang baik dalam bersaat teduh adalah tempat yang menyediakan suasana teduh dan tenang. Oleh karena itu, kita tidak terikat pada kamar di rumah kita. Kita juga bisa bersaat teduh di villa saat retreat pribadi misalnya. Hal yang penting adalah bahwa tempat itu haruslah mendukung kita bersaat teduh secara berkualitas.

4. Langkah-langkah praktis dalam bersaat teduh
Sebenarnya, ada sejumlah langkah praktis untuk melakukan saat teduh, misalnya: diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Tetapi secara umum, bersaat teduh dapat dilakukan dengan langkah demikian:
a. Berdoalah. Sebelum kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan, diharapkan kita berdoa terlebih dahulu. Kita berdoa supaya Roh Kudus memberi penerangan kepada kita, sehingga bagian Alkitab yang kita baca sungguh-sungguh memberi arti dan makna bagi hidup kita. Kita pun dimampukan untuk memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Jadi, untuk memahami isi Alkitab diperlukan bantuan Allah sendiri, tidak bisa dan tidak boleh bergantung pada pengertian diri sendiri.
b. Bacalah. Saat ini, ada daftar bacaan harian yang diterbitkan oleh LAI selama setahun (biasanya juga dicantumkan dalam warta jemaat mingguan). Atau, kalau kita tidak mempunyainya, kita dapat memanfaatkan daftar bacaan yang tertera dalam buku renungan yang biasa kita pakai (spt: Saat Teduh, Renungan Harian, Santapan Harian, dsb). Dalam membaca Aikitab, tentu kita tidak boleh tergesa-gesa, sehingga kita tidak bisa menangkap maknanya. Membaca Alkitab tidak sama seperti membaca buku komik, yang dapat dibaca sekilas saja.
c. Renungkanlah. Seusai kita membaca Alkitab, ada baiknya kita merenungkan terlebih dahulu hal-hal di bawah ini. Ada baiknya kita tidak langsung membaca buku renungan yang kita punyai. Buku itu hanya menolong kita saja. Oleh karena itu, yang penting adalah proses pemaknaan secara pribadi terhadap teks Alkitab yang kita baca. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat menolong kita untuk merenungkan teks Alkitab itu secara pribadi, yaitu:
 Apa saja yang kubaca. ada peristiwa apa? Hal apa yang menarik? Siapa yang menjadi tokoh atau pusat berita? Adakah kaitan dengan ayat atau perikop sebelumnya?
 Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nas tadi. adakah janji terungkap di sana? Apakah Allah memberi peringatan dalam ayat itu? Adakah teladan yang bisa kita pelajari? Dst.
 Apa responku adakah hal-hal spesifik dalam hidupku kini yang disoroti oleh pesan Firman Tuhan tsb.? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?
d. Bandingkanlah hasil perenungan pribadi kita dengan buku renungan yang kita miliki. Kalau ternyata hasilnya berbeda, jangan kecil hati. Bukan berarti kita salah dalam memahami pesan Firman Tuhan. Perbedaan itu justru memperkaya pemahaman yang bisa kita dapat dari teks Alkitab yang dibaca.
e. Berdoalah kembali di akhir perenungan kita. Kita berdoa supaya pesan Firman Tuhan itu dapat terus kita ingat dan lakukan. Kita pun boleh mendoakan berbagai hal lainnya, spt: kegiatan di sepanjang hari yang akan kita lalui (kalau saat teduh dilakukan pagi hari); kegiatan yang sudah kita lakukan (pada malam hari); keluarga yang kita kasihi dsb.
f. Periksalah apakah kita sudah melakukan pesan Firman Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bersaat teduh di pagi hari, maka kita dapat memeriksa diri kita pada malam harinya. Jika kita bersaat teduh di malam hari, maka kita dapat memeriksa diri pada keesokan malamnya saat kita bersaat teduh kembali. Langkah ini menjadi penting, sebagai proses evaluasi diri dan juga mengingatkan kita untuk terus termotivasi melakukan dan memberlakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup: Clip ”Priority”
Apakah kita terlalu sibuk? Warren dan Ruth Myers di dalam bukunya yang berjudul ”How to Have A Quiet Time?” mengatakan, “Bila Allah benar-benar penting bagi kita, kita pasti akan menyediakan waktu bagi Dia. Kalau tidak, kita adalah orang Kristen yang gagal.” Langkah untuk memulai saat teduh adalah tindakan. Karena kita berada dekat dengan Tuhan sedekat yang kita sendiri pilih, bukan sedekat yang kita inginkan.” Cerah atau mendungnya kehidupan kita sepanjang hari itu, tergantung bagaimana kita mengawalinya. Oleh karena itu marilah kita mengawali hari-hari kita bersama dengan Tuhan di dalam saat teduh. Amin

Penginjil Robert Summer dalam bukunya yang berjudul, “The Wonder of the Word of God” menceritakan tentang seorang warga Kansas, korban ledakan. Ia tidak menyebutkan namanya. Hanya dikatakannya wajahnya rusak, matanya menjadi buta, dan kedua tangannya putus. Ia baru saja menjadi seorang Kristen. Kekecewaan terbesarnya adalah kondisinya tidak lagi memungkinkannya meneruskan kesukaannya membaca Alkitab.
Pada suatu hari, ia mendengar mengenai seorang wanita di Inggris yang dapat membaca huruf braille dengan memakai bibirnya. Dengan harapan dapat melakukan hal yang sama, dia memesan Alkitab dalam huruf braille. Tetapi ternyata dia mendapati bahwa syaraf pada ujung bibirnya pun tidak dapat berfungsi (tidak peka) lagi sebagaimana mestinya. Jadi, ia tidak dapat membedakan huruf-huruf braille itu. Dalam keputusasaan, ia terus mencoba dan mencoba. Hingga pada suatu hari, ketika ia sedang mencoba membaca huruf-huruf braille dengan bibirnya, lidahnya secara tidak sengaja menyentuh beberapa huruf. Betapa kaget dan senangnya dia, “Aku dapat membaca dengan lidahku.” Saat kisah ini diceritakan Summer, orang itu sudah 4 kali membaca seluruh Alkitab dengan menggunakan … lidahnya.

Kanonisasi


Kanonisasi
by: Inge Adriana

Sebagai umat yang terbiasa memahami Alkitab sebagai sumber iman, kita mungkin berharap menemukan titik berpijak yang kokoh di tengah kenyataan yang demikian berubah-ubah dalam penulisan, penyuntingan, dan penafsiran yang berlangsung dalam pembuatan Alkitab tersebut. Kita mungkin akan meyakinkan diri kita bahwa tidak semuanya berubah. Ada yang tetap, ada yang menjadi dasar atau fondasi yang terpancang sebagai pengajaran. Keyakinan ini menunjukkan ada saat di masa lalu ketika Alkitab menjadi satu kesatuan utuh. Jadi, pada masa lalu dalam sejarah, Allah melalui Gereja-Nya telah menetapkan kanon Alkitab secara utuh.
Kalau kita melihat Alkitab kita yang sekarang ini berisi 66 kitab, yang terdiri dari Perjanjian Lama 39 kitab dan Perjanjian Baru 27 kitab itu bukanlah suatu hal yang langsung jadi dengan sendirinya menjadi Alkitab. Dibutuhkan proses yang sangat panjang dalam pembentukan kanon ini. Banyak tantangan dan perdebatan yang terjadi.
Paper ini akan memaparkan sejarah kanon dan perkembangan yang berkenaan dengannya, untuk menambah wawasan, pengetahuan dan pemahaman yang baru. Selain itu diharapkan tulisan ini juga dapat memperkokoh dasar pengakuan para pembacanya akan kebenaran isi Alkitab.

Pengertian Kanon
Sebenarnya istilah kanon yang dikenakan untuk menyebut daftar kitab-kitab yang dianggap mempunyai otoritas untuk dijadikan asas kehidupan rohani sehari-hari, diambil dari perbendaharaan kata pada masa kekristenan. Namun ini tidak berarti bahwa ide dasar pemikiran yang terkandung di dalam kata tersebut baru muncul pada masa kekristenan.
Dalam bahasa Yunani, kanon berarti “tongkat yang lurus”. Secara metaforik,
kata kanon juga dapat dipakai dalam beberapa arti. Misalnya, kata kanon dapat
dimengerti sebagai ukuran atau standard. Dalam masa pra-Kristen (zaman Yunani) pengertian metafora ini sudah umum dipakai, misalnya untuk menggambarkan standar
dalam bidang seni, sastra / literatur, etika, dan lain-lain.
Perkembangan lain tentang penggunaan kata kanon ialah pemakaiannya untuk menyebut nama daftar, indeks, atau bahkan tabel. Dari pengunaan kata kanon dengan arti yang bervariasi tersebut, maka tidak mengherankan apabila akhirnya kata kanon juga dipakai untuk menyebut daftar kitab-kitab yang dianggap otoritatif oleh orang-orang Kristen. Sedangkan penerapan kata kanon kepada Kitab Suci seperti yang kita miliki sekarang ini tidak terbatas hanya pada pengertian daftar kitab-kitab saja, melainkan juga sekaligus mengakui dan mempercayai daftar kitab-kitab tersebut sebagai yang berwibawa untuk diberlakukan sebagai patokan kehidupan religius. Ini baru terjadi sekitar abad ke-4.

Latar Belakang Munculnya Kanonisasi
Kanonisasi – yang merupakan proses dimana kitab-kitab itu dikenali dan diakui memiliki otoritas firman Allah – benar-benar memakan waktu yang panjang. Proses ini tidak lepas dari kehidupan beriman orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen awal. Proses ini bermula dari adanya kebutuhan untuk mewariskan kehidupan iman kepada generasi-generasi berikutnya. Apa yang mereka percayai, yang semula disampaikan secara lisan melalui para nabi, dirasakan perlu untuk diabadikan dalam bentuk tulisan. Seiring dengan ini, orang-orang Kristen awal yang telah mengakui Yesus sebagai penggenap seluruh Injil Allah di dalam PL, juga terdorong untuk mengabadikan pengajaran-pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul-Nya di dalam bentuk tulisan. Bahkan lebih dari itu mereka juga percaya bahwa pengajaran-pengajaran Tuhan Yesus beserta para rasul-Nya juga mempunyai kewibawaan yang sama dengan Kitab Suci PL yang mereka percayai sebagai firman Allah itu. Demikianlah maka muncul apa yang disebut dengan naskah-
naskah tertulis baik yang tergolong di dalam PL maupun PB. Sekalipun demikian, pada
saat masing-masing kitab itu selesai ditulis, kitab-kitab tersebut belum disebut sebagai Kitab Suci seperti orang-orang Kristen sekarang menyebutnya. Walaupun tulisan-tulisan itu semula berdiri sendiri-sendiri dan juga untuk kepentingan hidup rohani bagi kalangan tertentu yang terbatas, namun lama kelamaan timbul kebutuhan untuk mengumpulkan dan menjadikan satu tulisan untuk digunakan bersama sebagai patokan hidup beriman. Hal seperti inilah yang telah mendorong terjadinya proses kanonisasi.
Dalam proses berikutnya, perkembangan kanon tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan komunitas yang mewarisi tulisan-tulisan tersebut, yaitu komunitas yang menjunjung tinggi tulisan-tulisan itu. Adanya penerimaan tradisi berotoritas oleh para pendengar firman memberi bentuk kepada tulisan-tulisan tersebut melalui proses historis teologis yang memilih, mengumpulkan dan menyusunnya.
Proses ini sendiri oleh Ryle diklasifikasikan menjadi tiga tahap, yaitu tahap formasi, tahap redaksi, dan tahap seleksi. Sedangkan beberapa tokoh yang lain menambahkan dua tahap yang lain yaitu tahap sirkulasi dan tahap pengumpulan. Dengan demikian maka seluruhnya mencakup lima tahap yaitu tahap formasi, tahap sirkulasi, tahap koleksi, tahap redaksi, dan tahap seleksi yang terarah kepada pengakuan sebagai kitab kanonik.

Persoalan dalam Kanonisasi
Sebagian besar materi yang sekarang terdapat dalam kitab khususnya PL, semula ada bentuk tradisi lisan. Bahkan pengajaran-pengajaran Tuhan Yesus pun yang menjadi sumber dan dasar bagi penulisan kitab-kitab PB juga semula ada dan tersimpan dalam bentuk tradisi lisan. Dalam waktu yang cukup lama berita-berita Alkitab itu beredar dalam bentuk tradisi lisan. Tidak mengherankan apabila dalam proses transmisi dapat terjadi beberapa modifikasi dari berita itu sendiri. Lagipula, tradisi-tradisi lisan yang akhirnya ditulis tidak selalu ditulis oleh sumber pertama berita itu. Kesulitan yang juga tidak sederhana terjadi dalam proses seleksi dari antara sekian banyak naskah Alkitab. Kesulitan yang terbesar adalah menentukan apakah kitab tertentu akan diakui atau tidak. Untuk hal ini tentu dibutuhkan adanya kriteria-kriteria tertentu sebagai patokan.

Kanonisasi Perjanjian Lama
Kapan kanon PL terbentuk tidak jelas. Di dalam tradisi Yahudi sendiri ada tiga penjelasan: Pada zaman Ezra (ca. 400 BC) , pada masa Sinagoga Agung di bawah dorongan Ezra (abad ke-4 SM), atau pada konsili para rabi di Jamnia (ca. 90-100 AD). Ketiga kemungkinan ini pun masih dipersoalkan oleh para pakar, sehingga Raymond E. Brown dan Raymond F. Collins mengusulkan akhir abad ke-2 sebagai waktu yang paling aman untuk penutupan kanon Yahudi.
Sehubungan dengan kitab-kitab yang harus dimasukkan ke dalam PL ada ketidaksepakatan yang sangat serius di antara Roma Katolik dengan Protestan. Roma Katolik mempertimbangkan bahwa kitab-kitab Apokrifa harus dimasukkan ke dalam kanon, sedangkan Protestanisme Historis tidak setuju. Menurut mereka kitab-kitab Apokrifa tidak bisa dimasukkan dalam kanon karena kitab-kitab Apokrifa ditulis setelah PL selesai semua dan sebelum Perjanjian Baru dimulai.
Perdebatan berkaitan dengan Apokrifa berpusat pada isu yang lebih luas berkenaan dengan apa yang dianggap sebagai kanon oleh masyarakat Yahudi. Ada bukti yang sangat kuat, dimana Apokrifa tidak termasuk di dalam kanon Palestina orang Yahudi. Di pihak lain, kelihatannya orang Yahudi yang hidup di Mesir mungkin memasukkan Apokrifa ke dalam kanon Alexandrian. Akhir-akhir ini ada bukti-bukti yang telah meragukan kenyataan itu. Beberapa kritikus Alkitab membantah bahwa gereja tidak memiliki Alkitab seperti itu sampai permulaan abad kelima. Tetapi ini merupakan suatu distorsi dari keseluruhan proses perkembangan pengkanonisasian.
Kriteria kanonisasi PL sendiri tidak pernah tertulis jelas. Empat kriteria berikut biasa dipakai untuk penentuan kanon PL:
• Kanonisitas dikaitkan dengan nubuat. Musa menerima Taurat dalam posisi sebagai dan boleh dikatakan ia bertanggung jawab atas kepengarangan kelima kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan. Kemudian Musa dipercaya menjadi prototipe dari nabi-nabi berikut (bdk. Ul. 18:17-19) yang menghasilkan koleksi kitab Nabi-nabi. Selain itu, dikenal juga penyair-penyair profetis seperti Daud dan Asaf, yang menghasilkan koleksi kitab Tulisan. Dalam PL memang nabi, imam dan raja, serta tokoh lain secara resmi menerima firman Allah untuk disampaikan kepada orang lain. Lalu tulisan-tulisan yang diilhami itu dikumpulkan dan disimpan oleh umat dari generasi ke generasi.
• Kanonisitas dikaitkan dengan konsep perjanjian. Apabila disederhanakan, bisa dikatakan bahwa Taurat mendirikan perjanjian Allah, Naratif Sejarah menggambarkan ketaatan dan ketidaktaatan Israel terhadap perjanjian, Kitab Nabi-Nabi memanggil umat supaya kembali kepada hubungan perjanjian yang semestinya, dan Literatur Hikmat memperluas tema ketaatan kepada perjanjian.
• PB meneguhkan kanon PL. Di seluruh PB terdapat lebih dari 250 kali kutipan PL. Yesus sendiri dalam pengajaran-Nya mengutip atau merujuk kepada PL sebagai firman Allah yang berotoritas sebanyak 31 kali. Jika Yesus saja tidak mempersoalkan otoritas PL sebagai firman Allah, umat Kristen lebih tidak pantas lagi mempersoalkannya. Apa yang cukup baik bagi Yesus cukup baik pula bagi umat-Nya. Pada intinya, pengajaran Yesus seharusnya tidak bertentangan dengan pengajaran PL.
• Pemakaian kitab-kitab dalam ibadah Israel seperti liturgi Bait Allah. Sebagai contoh, dalam kanon Yahudi dikenal megilloth, yakni sebuah kelompok kitab yang terdiri atas Kitab Rut, Kidung Agung, Pengkhotbah, Ratapan, dan Esther. Kelima kitab ini dibacakan pada hari-hari raya utama orang Yahudi sepanjang tahun.

Kanonisasi Perjanjian Baru
Perjanjian Baru ditulis sekitab tahun 50–100 M, dan di dalam kitab-kitab PB ini terdapat banyak ucapan-ucapan berotoritas atau berwibawa, seperti ucapan-ucapan Yesus ataupun ucapan-ucapan rasul yang memiliki bobot besar yang dijamin oleh Tuhan Yesus (Mat 10:40). Namun diperkirakan bahwa parohan pertama abad kedua merupakan titik awal tertentu dari kanonisasi yang kemudian prosesnya diintensifkan pada pertengahan abad ke-2 M.
Proses kanonisasi terjadi disebabkan oleh kondisi sosial dan relasi internal Gereja. Semula kanon tidak dirasakan sebagai kebutuhan hingga sampai pada masa dimana penggandaan manuskrip begitu mahal sementara pertemuan-pertemuan umum orang Kristen mengalami kesulitan oleh karena jatuhnya Yerusalem. Pada waktu itu Gereja tersebar di mana-mana, dan akibatnya sirkulasi dari beberapa kitab PB menjadi tergantung pada hubungan dengan bentuk yang terbatas dari kekristenan. Segala sesuatu terus berubah hingga ketika para rasul mulai banyak yang meninggal, barulah dirasakan bahwa otoritas pengajaran rasul mulai terancam hilang, dan ini mendorong pembentukkan kanon dari kitab-kitab dan surat-surat pengajaran tersebut yang ditentukan oleh Gereja. Selain itu, kanon PB dibentuk bukan karena keinginan yang kuat untuk mempunyai daftar yang diumumkan, tetapi karena situasi tidak tetap dari kekristenan purba yang mengizinkan kelompok-kelompok tertentu untuk menyimpang dari kebiasaan normal dengan cara yang tidak dapat diterima. Gereja Purba mentolerir banyak variasi, tetapi guru-guru seperti Marcion dan Valentinus rupanya pada kenyataannya membajak Alkitab Kristen yang baru muncul untuk kepentingan mereka sendiri. Bentuk ideal dari memoar rasuli di tangan mereka berubah menjadi risalah-risalah yang bersifat khusus dari bidat, yang sama-sama
bergantung atas inspirasi penulisannya meupun atas tradisi Kitab Suci Yahudi dan Gereja
yang mantap.
Sebagian orang Kristen merasa terganggu dengan kenyataan adanya proses penyeleksian di dalam sejarah. Mereka diganggu dengan pertanyaan, bagaimana mereka dapat mengetahui bahwa kitab-kitab yang dimasukkan ke dalam kanon PB merupakan kitab-kitab yang tepat untuk dimasukkan ke dalam kanon? Teologi tradisi dari Roma Katolik menjawab pertanyaan ini dengan mengacu pada ketidakbersalahan gereja. Gereja dipandang sebagai badan yang “menciptakan” kanon. Ini berarti gereja memiliki otoritas yang sama dengan firman Tuhan. Berbeda dengan Protestanisme Klasik menyangkal bahwa gereja tanpa salah dan gereja sebagai pencipta kanon.
Meskipun Protestan percaya bahwa Allah memberikan pemeliharaan secara khusus untuk memastikan kitab-kitab yang tepat yang dimasukkan ke dalam kanon, namun ini tidak berarti Dia menyatakan bahwa gereja adalah suatu badan yang tidak dapat salah. Protestan juga mengingatkan Roma Katolik bahwa gereja tidak menciptakan kanon. Gereja hanya mengenali, mengakui, menerima dan menundukkan diri pada kanon firman Tuhan. Istilah yang digunakan oleh gereja dalam konsili adalah recipimus, yang berarti “kami menerima”.
Oleh karena inilah kemudian muncul kebutuhan untuk mengumpulkan data dan menyatukan kitab-kitab kanonikal dan menkonfirmasikannya sebagai kanon Alkitab, yang menjadi dasar dan standar iman kepercayaan dan perbuatan umat Kristen.
Tahap-tahap perkembangan Kanon Perjanjian Baru:
1. Ke-27 kitab PB ditulis antara tahun 45 dan 95, disalin dengan tangan, diedarkan
dan dipakai di dalam jemaat-jemaat. Surat-surat uskup Clement dari Roma sekitar tahun 96 M, dan surat-surat Ignatius pada permulaan abad ke-2 sudah menyebut semua surat Rasul Paulus. Selain itu Papias, uskup Hilapolis menyerang bidat, selain mengutip dari Injil Yohanes, juga menyinggung Injil Matius dan Injil Markus. Kemudian Justinus Martyr di dalam tulisannya Apologetika Kristen mengakui keberadaan keempat Injil yang telah diakui secara umum oleh gereja.
2. Pada pertengahan abad ke-2, kitab-kitab PB dipakai dalam jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran Romawi. Kebanyakan kitab diakui sebagai tulisan-tulisan rasuli, walaupun belum terdapat suatu keputusan resmi mengenai status mereka juga kitab-kitab non-kanonik masih dipakai dalam jemaat-jemaat. Kitab-kitab yang dianggap kanonik mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Latin (akhir abad ke-2). Kemudian komentar-komentar tentang kitab-kitab ini mulai dikarang.
3. Kanon Marcion ditulis pada pertengahan abad ke-2, terdiri dari: Injil Lukas, Kisah
Rasul, Galatia, 1-2 Korintus, Roma (sebagian ditolak oleh Marcion), 1-2
Tesalonika, Efesus, Kolose, Filipi, Filemon. Kanon Marcion ini ditolak oleh gereja.
4. Kanon Muratorius adalah kanon tertua yang kita miliki sebagai naskah. Kitab-
kitab yang disebut di dalam kanon Muratorius: Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Rasul, semua surat Paulus, I dan II Yohanes, Yudas, Wahyu Yohanes dan Wahyu Petrus (disebut bahwa Wahyu Petrus tidak diakui oleh semua gereja) dan dua kitab Apokrifa lainnya, yaitu Hikmat Sulaiman dan Pastor/Gembala oleh Hermas. Susunan-susunan yang serupa terdapat juga dalam karangan-karangan Ireneus (175-202), Tertianus (150-220) dan Clement dari Alexandria (150-215).
5. Sejak abad ke-3 kitab-kitab kanonik ini disebut PB. Pada abad ke-3 dan ke-4 masih
terdapat keragu-raguan tentang kitab-kitab berikutnya: Yakobus, 2 Petrus, 2-3
Yohanes, Yudas dan Wahyu Yohanes. Ahli sejarah Eusebius (265-339) menyebut di
dalam buku Sejarah Gereja bahwa sebagian jemaat masih juga mengakui Kisah Rasul
Paulus, Didache dan Hermas.
6. Perkembangan sejarah kanon berakhir di dalam gereja bagian Timur dengan sepucuk
surat yang ditulis oleh Athanasius yang dibacakan di semua jemaat pada Paskah. Dalam surat Athanasius tersebut semua buku PL dan PB disebut sebagai kitab-kitab kanonik. Athanasius pulalah yang pertama kali pada tahun 367 mengindentifikasikan kedua puluh tujuh kitab PB sebagai kitab kanonik.
7. Perkembangan sejarah kanon belum selesai di bagian barat dari kekaisaran Romawi. Kanon Mommsenianus ini juga disebut sebagai Cheltenham List karena kanon ini ditemukan oleh Th. Mommsen di Cheltenham-Inggris pada tahun 1885, yang ditulis pada tahun 359 tidak menyebut kitab Ibrani, Yakobus,Yudas. Semua kitab PB disebut dan juga beberapa kitab-kitab Apokrifa PL.
8. Perkembangan sejarah kanon di daerah barat kekaisaran Romawi berakhir dengan
keputusan Sidang Sinode di Roma (382). Sinode di bawah pimpinan Damasus mendaftarkan semua kitab PL dan PB. Keputusan ini ditegaskan kembali oleh Sinode di Hippo Regius (Afrika Utara) pada tahun 393 dan sidang Sinode di Kartago pada tahun 397 dan 419 dimana dihadiri oleh Agustinus.
9. Prinsip yang paling pokok dalam penilaian Alkitab ialah apakah suatu kitab ditulis oleh seorang rasul atau seorang murid dari seorang rasul (misalnya Yohanes, Markus, Petrus, Lukas, Paulus). Kitab-kitab Apokrifa tidak pernah diterima sebagai kitab-kitab kanonik baik oleh agama Yahudi maupun oleh gereja mula-mula. Kitab-kitab ini juga tidak dikutip di dalam kitab-kitab PL dan PB. Gereja-gereja Reformed menolak inspirasi, otoritas dan kegunaan kitab-kitab Apokrifa (Westminster Confession 1647).

Kriteria kanon PB itu sendiri biasanya berkisar pada empat hal, yakni:
• Daftar-daftar yang dibuat para tokoh Gereja. Walaupun demikian daftar-daftar ini tidak seragam satu sama lain dan tidak lengkap, sehingga juga tidak bersifat mutlak.
• Kriteria kerasulan. Hal ini berarti bahwa semua tulisan PB berkaitan langsung atau tidak dengan rasul atau berasal dari zaman rasul pada abad pertama. Ini tidak berarti bahwa pengarang kitab PB harus salah satu dari rasul-rasul. Matius, Yohanes, Petrus, Paulus tergolong rasul. Pengarang PB yang bukan rasul tapi berhubungan erat dengan rasul diantaranya adalah Markus (dikaitkan dengan Petrus), Lukas (dikaitkan dengan Paulus). Ada juga penulis PB yang mengakui kitab lain, yang kemudian masuk ke dalam kanon PB, seperti Petrus mengakui tulisan Paulus, Timotius mengutip Luk. 10:7.
• Kriteria ortodoksi kanon. Ini berarti bahwa teologi dan etika dari kitab-kitab PB secara keseluruhan terpadu. Sekalipun ada perbedaan tekanan dari kitab yang satu dengan kitab yang lain, namun tidak ada kontradiksi yang esensial.
• Kriteria kekatolikan. Ini berarti kitab-kitab PB terpelihara, karena terbukti bermanfaat bagi mayoritas jemaat sejak awal sampai sekarang. Contohnya: seandainya surat Paulus kepada jemaat Korintus sebelum surat 1Korintus ditemukan (1 Kor. 5:9), surat itu bisa dinilai tidak memenuhi kriteria kekatolikan. Pada masa lampau, surat itu terbukti tidak relevan dengan jemaat di luar Korintus. Selama hampir dua ribu tahun surat itu tidak pernah memiliki otoritas atas jemaat, jadi itu tidak layak untuk sebuah status kanon.

Ketertutupan Kanon dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini
Kanon PL ditutup secara sah pada akhir tahun 90 melalui sidang oleh para ahli Taurat Jamnia. Mereka mendiskusikan, menetapkan dan memproklamirkan secara resmi Kitab Perjanjian Lama yang kita pakai sekarang. Kemudian pada pertengahan abad ke-2 muncul kitab-kitab Apokrifa. Pada waktu itu kitab-kitab kanonik sudah sedemikian diterima oleh Gereja dan Bapa-Bapa Gereja sehingga kitab-kitab Apokrifa ini tidak sampai menggantikan kitab-kitab kanonik. Pembicaraan resmi mengenai kanon oleh para utusan gereja dalam Konsili baru terjadi pada akhir abad keempat.
Sejak tahun 397 M, gereja Kristen menganggap kanon sudah selesai dan harus ditutup. Itu sebabnya kita tidak dapat mengharap ada kitab lagi untuk ditemukan atau ditulis yang akan membuka kanon lagi dan menambah 66 kitab ini. Bahkan jika satu surat Paulus ditemukan lagi, tidak akan menjadi anggota kanon. Memang Paulus sudah menulis banyak surat selama hidupnya selain yang sudah ada dalam PB, namun gereja tidak memasukkannya ke dalam kanon. Buku-buku yang agak belakangan sekarang dari bidat-bidat, yang ditempatkan di samping Alkitab tidaklah diilhami dan tidak bisa menjadi bagian
dari kanon Alkitab.
Ada sebagian ahli Alkitab berpendapat bahwa penutupan kanon secara gerejawi pada abad 4-5 secara teologis bisa dipersoalkan, namun secara praktis memang harus
begitu. Alasan penutupan kanon secara teologis sulit dibenarkan karena penetapan
Gereja tidak boleh absolut dan bersaing dengan wahyu firman Allah itu sendiri. Argumentasi ini tampaknya mau menghindar dari dualisme otoritas ilahi dalam kehidupan bergereja. Menanggapi hal ini, Yonky Karman memberikan pertanyaan balik, “Kalau bukan gereja yang menetapkan bahwa kanon Kitab Suci sudah tertutup, institusi apalagi yang berhak?” Menurut Karman, tidak ada masalah dengan penetapan kanon secara institusional. Juga tidak ada masalah dengan penetapan kanon melalaui proses sejarah yang di dalamnya bahkan terlibat unsur manusiawi. Penutupan kanon oleh Gereja sebagai Tubuh Kristus memiliki landasan teologis.
Penutupan kanon perlu demi implikasi praktis, kalau tidak, wahyu ilahi akan terus bertambah tanpa batas. Bisa saja seorang tokoh gereja mengklaim telah memperoleh wahyu dari Allah. Kejadian seperti ini bisa berulang pada tokoh lain dan proses penambahan wahyu tidak akan pernah selesai. Wahyu yang baru bisa menambah, mengoreksi, bahkan bisa mengganti wahyu yang lama. Selanjutnya mudah diduga, mengikuti kecenderungan manusia untuk menjadikan dirinya absolut, mengklaim kemurnian wahyunya.
Metzger berpendapat bahwa kita dapat saja mengatakan kanon memang mungkin dapat direvisi, tetapi ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kanon perlu direvisi. Pembentukan kanon telah melewati ratusan tahun dalam sejarah Gereja, melewati proses yang lama dan bertahap. Semua dokumen Alkitab yang sekarang ini sudah sangat kuat melewati pengujian. Gereja telah menerima kanon Perjanjian Baru, sama seperti Sinagoge telah menerima Kanon Ibrani dulu. Singkatnya, kanon tidak bisa dibuat lagi, dengan alasan sederhana bahwa sejarah tidak bisa diulang lagi.
Penulis setuju bahwa kanon yang terbuka juga mempunyai implikasi tertentu bagi gereja dan kegiatan penafsiran Alkitab pada zaman ini. Dengan kanon tertutup saja, perbedaan penafsiran sulit dihindari. Hasilnya adalah denominasi-denominasi dalam Kristen Protestan semakin banyak dan kemungkinan perpecahan jauh lebih banyak. Jemaat akan lebih bingung dengan kondisi kanon terbuka ketimbang kanon tertutup.
Ketertutupan kanon adalah perlu demi kegiatan tafsir Alkitab. Objek dari tafsir adalah teks-teks dalam kanon. Teks-teks di luar kanon diperhatikan sejauh itu membantu pemahaman teks-teks kanonik, dengan catatan bahwa teks-teks di luar kanon tidak diperlakukan sejajar dengan teks-teks kanonik.

Kesimpulan dan Penutup
Dari pemaparan di atas, penulis menyimpulkan beberapa hal yaitu:
• Sejarah perkembangan kanon.
Memahami bagaimana proses yang menjadikan catatan-catatan tersebut berfungsi sebagai bentuk sah Alkitab yang kita kenal sekarang, akan menambah keyakinan kita betapa ajaibnya kenyataan ini. Kurun waktu yang ditelannya untuk membuat catatan-catatan tersebut menjadi buku lengkap seperti sekarang ini pun merupakan hal yang ajaib pula. Ratusan tahun dibutuhkan, dan tidak sedikit tenaga yang telah tercurah untuk menemukan dan merakit catatan-catatan tersebut. Belum lagi hambatan yang harus dihadapi para ‘editor’ karena berbagai faktor, diantaranya faktor politik tempat dan zaman para editor itu hidup. Kemasan yang sah inilah yang diberi legitimasi dan kemudian mempunyai wibawa.
Mempelajari ini semua memperlihatkan kepada kita betapa hebatnya karya Allah dalam memberikan firman-Nya, dalam mengilhami para penulisnya, serta karya Allah melalui Gereja-Nya sepanjang perjalanan sejarah sehingga sekarang ini kita dapat mempunyai Alkitab. Alkitab inilah yang membawa kita pada pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya. Pengetahuan dan pemahaman akan sejarah dan permasalahan kanon ini hendaknya dapat membuat kita semakin yakin akan kebenaran Alkitab.

• Ketertutupan kanon
Bagi penulis hal ini sangat diperlukan karena jikalau kanon masih terbuka, maka akan banyak tokoh-tokoh yang terus berusaha mengubah, baik menambah ataupun mengurangi, sehingga kita tidak mempunyai patokan yang pasti terhadap Alkitab. Ini akan mempengaruhi keyakinan sebagian besar orang akan otoritas Alkitab, baik dari kalangan Kristen maupun kalangan orang-orang non-Kristen. Belum lagi adanya fenomena di kalangan hamba-hamba Tuhan tertentu, terutama di kalangan Karismatik yang mengklaim/ mengaku bahwa dirinya mendapat wahyu khusus atau langsung dari Tuhan Yesus.
Dengan adanya ketertutupan kanon, maka pengakuan/klaim mereka tidak dapat diterima begitu saja. Oleh karena itu kita harus kembali kepada kanon Alkitab PL dan PB seperti yang sekarang ini.

Daftar Pustaka

Beckwith, R. The Old Testament Canon of The New Testament Chuch. London: SPCK,
1985.

Bernhard, Lohse. Pengantar Sejarah Dogma Kristen. Jakarta: Gunung Mulia, 2001.
Blommendaal, J. Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: Gunung Mulia, 1991.
Childs, Brevard. S. Introduction to the Old Testament as Scripture. Philadelphia: Fortress, 1979.

Chilton, Bruce. Studi Perjanjian Baru Bagi Pemula. Jakarta: Gunung Mulia, 1994.
Metzger, Bruce M. The Canon of The New Testament. Oxford: Clarendon, 1987.
Harris, R. Laird. Inspiration and Canonicity Of The Bible. Grand Rapids: Zondervan,
1969.

Jeffry, Arthur. “Text And Ancient Versions of The Old Testament.” The Interpreter’s
Bible Vol. I. Nashville: Abingdon, 1978.

Karman, Yonky. “Kanon dan Tafsir Alkitab.” Forum Biblika 11 (2000).
Klein, William W. Introduction to Biblical Interpretation. Dallas: Word, 1993.
Kuhl, Dietrich. Gereja Mula-Mula: Sejarah Gereja Jilid I. Batu: YPPII, 1998.
Lasor,W. S. Pengantar Perjanjian Lama Jilid 1. Jakarta: Gunung Mulia, 1993.
Ord, David Robert . Apakah Alkitab Benar? (Jakarta: Gunung Mulia, 1997
Oswalt, John N. “Canonical Criticism: A Review from A Conservative Viewpint.” JETS
30/3 (1987).

Ryrie, Charles C., “Kanon.” Teologi Dasar Vol. I. Yogyakarta: ANDI, 1991.
Sanders, J. Canon and Community: A Guide to Canonical Criticism. Philadelphia:
Fortress, 1984.

Sproul, R. C. Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen (Malang: SAAT, 1997
Tenney, Merril C. Survei Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 1995.
Tridarmanto, Yusak. “Sejarah dan Pengakuan Kanonisasi Secara Umum.” Forum Biblika
2/1 (April 1992).

Westcott, Brooke Foss. A General Survey on the History of the Canon of the New
Testament. Grand Rapids: Baker, 1980.

Kristus Hakim Yang Adil


KRISTUS, HAKIM YANG ADIL
(Yes. 11:1-10 ; Maz. 72:1-7, 18-19; Rom. 15:4-13 ; Mat. 3:1-12)

Hari ini kita memasuki minggu adven yang kedua, disimbolkan dengan dua lilin yang dinyalakan. Kata “adven” berasal dari bahasa Latin “adventus” yang berarti kedatangan. Kata adven itu sendiri memilki tiga pengertian, yakni:
1. Masa empat minggu sebelum natal yang oleh orang Kristen tertentu diingat sebagai masa puasa dan doa.
2. Mengacu kepada kedatangan Kristus pada saat Ia menjadi manusia dalam hal ini kedatangan Kristus sebagai bayi. Adven ini juga sering disebut sebagai “inkarnasi Allah.”
3. Mengacu kepada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, bukan sebagai bayi lagi, melainkan sebagai Hakim. Sebagai Hakim, Yesus Kristus akan menghakimi dengan adil.
Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang akan dilakukan Kristus kelak sebagai Hakim yang adil? Dari perikop yang tadi kita baca, sedikitnya ada dua hal yang akan dilakukan Kristus pada hari penghakiman kelak?
1. Sebagai hakim yang adil, Kristus kelak akan menghakimi semua orang, tak terkecuali kita orang-orang percaya (v. 7-11).
Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa setelah dia akan segera muncul seorang yang lebih berkuasa dari padanya. Orang yang dimaksudkan oleh Yohanes Pembaptis sangatlah jelas, yaitu Dialah Yesus dari Nazaret di Galilea (Mat. 3:13). Yohanes Pembaptis sadar betul siapakah diri dan batas tugasnya. Ia menegaskan bahwa Yesus yang akan datang kemudian lebih berkuasa untuk menghakimi dan menghukum. Yohanes juga menegaskan bahwa setiap orang tidak akan luput dari pengadilan Allah (7). Yohanes Pembaptis sendiri menyatakan bahwa dia tidak layak melepaskan kasut-Nya. Yohanes Pembaptis mengakui di depan umum bahwa dia hanya dapat membaptis mereka dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi hanya Kristus saja yang mampu membaptis umat manusia dengan Roh Kudus dan dengan api. Hanya Kristus saja yang mampu memerankan sebagai seorang hakim yang ditentukan oleh Allah untuk mengadili umat manusia.
Pemberitaan Yohanes Pembaptis tentang diri Kristus bahwa Dialah yang memiliki segala kuasa dan memiliki wewenang untuk membaptis umat percaya dengan Roh Kudus dan api sebenarnya didasarkan kepada nubuat nabi Yesaya. Di Yes. 11:2 diuraikan sifat/karakter utama Kristus, sang Mesias yaitu: seluruh hidupNya dikuasai oleh Roh Tuhan, memiliki roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan. Dengan karakter tersebut, sang Mesias akan mampu menghakimi seluruh umat manusia dengan penuh keadilan. Dia menjadi pembela bagi orang-orang yang lemah dan tertindas. Pada sisi lain sang Mesias akan bersikap tegas kepada orang-orang fasik, sehingga dengan kuasa firmanNya sang Messias disebutkan: “ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik” (Yes. 11:4). Gambaran karakter sang Messias yang bernada “keras” tersebut perlu dipahami dalam peran utamaNya sebagai Hakim Allah. Nubuat nabi Yesaya tersebut secara khusus menunjuk kepada diri Tuhan Yesus. Dalam hal ini Yohanes Pembaptis juga menegaskan bahwa hanya Messias saja yang berhak dan memiliki wewenang untuk membaptis dengan Roh Kudus dan api. Jadi Kristus telah ditentukan oleh Allah menjadi Juru-selamat, sekaligus Dia menjadi Hakim Allah yang akan mengadili umat manusia kelak pada akhir zaman. Kebenaran bahwa Kristus akan menghakimi semua umat manusia, termasuk kita orang-orang percaya juga ditegaskan oleh Rasul Petrus dalam suratnya pasal 1 Petrus 4:17-18. 17 Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? 18 Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Pertanyaannya sekarang adalah apa yang harus kita lakukan selama menantikan hari penghakiman tersebut? Dalam ayat 19 Rasul Petrus berkata, ” Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”
2. Sebagai hakim yang adil, Kristus akan memisahkan orang yang percaya dan dan orang yang tidak percaya (v. 12).
Yohanes Pembaptis berkata: “Alat penampi sudah di tanganNya. Ia akan membersihkan tempat pengirikanNya dan mengumpulkan gandumNya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakarNya dalam api yang tidak terpadamkan” (Mat. 3:12). Peran Kristus sebagai Hakim Allah di akhir zaman digambarkan seperti seorang yang menampi bulir-bulir gandum dengan alat penampi, agar dia dapat memisahkan dan membuang kulit-kulit/sekam gandum. Lalu dia akan mengumpulkan bulir-bulir gandum ke tempatnya, sedang sekam gandum itu akan dibakarnya.
Sebagai penampi Kristus akan memisahkan “yang benar” dengan “yang tidak benar”, memisahkan “yang kudus” dengan “yang fasik”, memisahkan kambing dengan domba, sehingga kepada mereka yang benar di hadapan Allah akan dikaruniai keselamatan sedangkan bagi mereka yang jahat dan fasik akan dibinasakan.
Kita harus memilih antara menerima atau menolak Kristus. Ketika kita diperhadapkan dengan Kristus, maka kita diperhadapkan dengan suatu pilihan yang tak bisa terelakkan. Kita harus memilih untuk menerima atau menolak-Nya. Dan pilihan itu sangat menentukan bagaimana kelanjutan hidup kita kelak. Kita akan dipisahkan satu dari lainnya oleh jawaban dalam pemilihan itu. Kita akan dipisahkan satu dari lainnya oleh keputusan yang kita ambil di hadapan Yesus: menerima atau menolak Yesus.
Pertanyaaannya sekarang adalah: Jika pemisahan kelak dilakukan, sebenarnya siapakah kita? Kambing atau domba? Domba sungguhan atau jangan-jangan serigala yang berbulu domba? Apakah semua orang yang ke gereja, itu sudah pasti menunjukkan bahwa dia adalah domba. Apakah semua yang melayani, mereka semua adalah domba? Bagaimana kita bisa mengenali mereka?
Dalam Matius 7:20-23 Tuhan Yesus berkata, ”Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. 21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Di dalam khotbahnya, Yohanes Pembaptis berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 3:1-2). Makna kedatangan Kerajaan Sorga di sini mengacu pada suatu peristiwa di mana Kristus akan menghakimi umat manusia. Sehingga sebelum Kerajaan Sorga tersebut datang, maka manusia harus segera bertobat dengan menanggalkan kehidupan lamanya. Yohanes menegaskan bahwa Kristus akan menghakimi dengan adil. Status kita sebagai anak-anak Abrahan/umat pilihan Allah, tidak akan meloloskan kita dari penghakiman itu, melainkan dari buah-buah pertobatan yang kita hasilkan.
Kelak ketika Kristus datang kembali di dalam adven yang kedua sebagai Hakim, Ia akan menghakimi semua orang bukan karena bukan berdasarkan status keturunannya, melainkan dilihat dari buah pertobatan yang dihasilkan. Buah pertobatan tersebut kita hasilkan ketika kita membiarkan diri kita terus-menerus dipimpin oleh Roh Kudus. Buah pertobatan tersebut sering kita sebut dengan nama buah Roh yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Sudahkah buah Roh tersebut nyata di dalam kehidupan kita berkeluarga, bergereja dan bermasyarakat? Kiranya Tuhan menolong kita. Amin

Hidup Berjaga-jaga (Markus 13:32-37)


HIDUP BERJAGA-JAGA
(Mrk. 13:32-37)

Pendahuluan:
Sdr. hari ini kita memasuki minggu adven yang pertama, disimbolkan dengan satu lilin yang dinyalakan. Kata “adven” berasal dari bahasa Latin “adventus” yang berarti kedatangan. Kata adven itu sendiri memilki tiga pengertian, yakni:
1. Masa empat minggu sebelum natal yang oleh orang Kristen tertentu diingat sebagai masa puasa dan doa.
2. Mengacu kepada kedatangan Kristus pada saat Ia menjadi manusia dalam hal ini kedatangan Kristus sebagai bayi. Adven ini juga sering disebut sebagai “inkarnasi Allah.” Saya menyebut kedua pengertian advent ini (1 dan 2) sebagai adven pertama.
3. Mengacu kepada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, bukan sebagai bayi lagi, melainkan sebagai Raja di atas segala raja. Adven ini sering disebut dengan “the second coming” dan saya menyebut pengertian adven ini sebagai adven kedua.
Adven dalam pengertian pertama dan kedua sudah terjadi, akan tetapi adven dalam pengertian yang ketiga, yaitu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya belum terjadi, akan tetapi pasti akan terjadi. Ada sebuah ungkapan yang menegaskan mengenai hal ini berbunyi: “Ready or not Jesus Coming” (Siap atau tidak kedatangan Tuhan Yesus untuk yang kedua kalinya itu adalah sesuatu yang pasti).
Bagaimanakah sikap yang benar di dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk yang kedua kalinya (masa adven kedua itu), yaitu:
1. Kita tidak boleh berspekulasi dengan menghitung-hitung hari kedatangan Tuhan Yesus (ay. 32)
Di internet saat ini tengah dibanjiri tulisan yang membahas prediksi suku Maya yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala tentang kiamat yang bakal terjadi pada 21 Desember 2012. Pada manuskrip peninggalan suku yang dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan ini, disebutkan pada tanggal di atas akan muncul gelombang galaksi yang besar sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka bumi ini.
Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui dasar perhitungannya, menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 1975.
Dijelaskan, Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, badai Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik.
5 tahun yang lalu sekte pondok nabi pimpinan Pdt. Mangapin Sibuea di Bale Endah mengatakan bahwa 10 Nopember 2003 adalah awal kiamat. Dia juga mengatakan bahwa selama 3 tahun terhitung tgl 10 Nop 2003 – 11 Mei 2007 Nabi Musa dan Elia akan melaksanakan tugasnya untuk menguatkan anak-anak Tuhan yang tertinggal supaya tidak menghujat Tuhan Yesus. Dia menambahkan bahwa 11 Mei 2007 adalah peristiwa di mana manusia sudah tidak ada lagi. (Sekarang 30 Nopember 2008, kenyataannya kita masih ada)
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh penganut sekte pondok nabi itu bukanlah yang pertama kali terjadi di dalam sejarah kekristenan. Sebelumnya sekte pondok nabi itu telah terjadi sedikitnya 7 kali penyimpangan terhadap ajaran kedatangan Kristus yang kedua (the second coming). Kebanyakan dari mereka ketika mengetahui bahwa Tuhan Yesus tidak datang seperti yang telah mereka ramalkan, akhirnya melakukan bunuh diri massal. Selain Sibuea, banyak pemimpin sekte-sekte lain yang juga “gagal” meramalkan kapan kiamat dunia datang. Beberapa di antara mereka adalah:
JIM JONES - Pemimpin sekte Peoples Temple begitu memukau sekitar 900 orang pengikutnya untuk berdiam di Guyana, Amerika Selatan. Di tahun 1975 mereka berkumpul di sana untuk “menjemput” kiamat dengan cara minum sari buah yang dituang dalam sebuah tong dan sudah diberi racun cyanida dan obat bius. Dari korban-korban yang selamat dari acara bunuh diri masal itu, diketahui giliran pertama ialah bayi-bayi yang dicekoki, lalu anak-anak dan akhirnya para jemaat. Yang menolak minum, ditembak mati oleh para pengawal Jim Jones. Jim Jones sendiri ditemukan tewas dengan sebutir peluru di kepalanya. Tidak diketahui siapa yang menembaknya atau ia memang sengaja bunuh diri.
DAVID KORESH - Tahun 1993, sekitar 130 pengikut David Koresh, pemimpin sekte “Ranting Daud” berkumpul di sebuah ranch Apocalypse, Texas. Mereka berkumpul mendengarkan David Koresh berkhotbah dan bersama-sama menantikan datangnya kiamat dan siap “terangkat” ke surga pada hari pengangkatan. Tetapi, saat yang ditunggu tak muncul. Sebaliknya yang muncul adalah petugas FBI yang mau menangkap David Koresh dengan tuduhan kepemilikan senjata secara ilegal. Setelah dikepung selama 51 hari dan berkali-kali dibujuk, David bersama jemaatnya tak mau menyerah. Akhirnya FBI menyerang. 75 orang pengikut David bunuh diri dengan menusuk dan menembak diri sendiri, tertembak, bahkan akibat gas di dalam benteng yang telah mereka bangun.
JOSEPH KIBWETERE - mantan imam Katholik di Uganda meramalkan kiamat akan terjadi pada tanggal 31 Desember 1999. Untuk menanti datangnya hari kiamat, jemaatnya disuruh menjual seluruh harta kekayaan mereka. Ketika tiba tanggal yang ditentukan, kiamat tak muncul juga. Joseph meralat 31 Desember 2000. Gilanya, sebelum tanggal tersebut tiba, dia menyuruh seluruh jemaatnya berkumpul di sebuah bangunan gereja. Setelah semua jemaat berkumpul di dalam, pintu serta jendela gereja ditutup dan Joseph membakar gereja tersebut. Akibatnya, ketika api padam, pihak keamanan menemukan 330 tengkorak manusia dalam keadaan gosong di antara puing-puing.
Oleh karena itu, kita tidak boleh berspekulasi dengan menghitung-hitung dan kemudian menetapkan tanggal kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali seperti yang dilakukan oleh Pdt. Mangapin Sibuea dan beberapa pemimpin sekte yang lain, tindakan ini jelas merupakan sikap “lancang” dan justru akan merusak hubungan kita dengan Tuhan.
Saya mengatakan sikap yang “lancang” karena Tuhan Yesus sendiri dalam Markus 13:32 tadi berkata, ”Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.”
Frase ”Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu…” dalam ay. 32 oleh Tuhan Yesus ditegaskan lagi dalam ayat 33b “…Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba” dan dalam perumpamaan tentang tuan dan hamba dalam ayat 35, :…sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang…”
Perkataan Tuhan Yesus ini dirumuskan dengan dua cara: (1) Kontras yang tajam: Tidak ada yang tahu, selain Bapa”; (2) Pentahapan urutan: Tidak ada yang tahu…, baik kita manusia, baik para malaikat maupun Anak Allah.
Mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya di dalam hatinya, bagaimana mungkin Anak Allah-Yesus juga tidak tahu akan hari kedatangannya? Ada beberapa penafsiran/penjelasan yang salah tentang ayat ini:
(1) Ajaran Arianisme, yang diajarkan oleh Arius, mengajar¬kan bahwa ayat ini membuktikan bahwa Yesus bukan sungguh sungguh Allah. Ajaran ini menimbulkan perdebatan seru di dalam gereja saat itu (tahun 320 M), yang akhirnya menyebabkan terja¬dinya Konsili Nicea, yang mengecam ajaran tersebut dan melahirkan Pengakuan Iman Nicea, yang kalau dibanding¬kan dengan 12 Pengakuan Iman Rasuli, terlihat sangat menonjolkan keilahian Yesus.
(2) Saksi Yehovah, yang merupakan ‘keturunan’ dari Arianisme, mengatakan bahwa ay 36 ini menunjukkan bahwa Bapa itu mahatahu, sedangkan Yesus tidak, dan karena itu jelas membuktikan bahwa Yesus lebih rendah / kecil dari Bapa.
(3) Yesus hanya berpura pura tidak tahu, tapi sebetulnya Ia tahu. Ajaran ini salah, karena sekalipun ajaran ini mempertahankan kemahatahuan dan keilahian Yesus, tetapi menjadikanNya seorang pendusta!
(4) Teori Kenosis (bdk. Fil 2:5 8): pada saat inkarnasi Yesus mengosongkan diri, dalam arti mengesampingkan seluruh atau sebagian sifat sifat ilahiNya, supaya bisa menjadi manusia yang terbatas. Karena itu, tidak aneh kalau ay 36 menunjukkan Ia tidak maha tahu. Sifat mahatahu termasuk sifat ilahi yang Ia kesampingkan pada saat inkarnasi. Menghadapi teori ini, kita harus ingat bahwa Allah tidak bisa berubah (Maz 102:26 28 Mal 3:6 Yak 1:17). Di samping itu kalau Yesus bisa mengesampingkan sebagian / seluruh sifat sifat-Nya, itu berarti Ia berhenti menjadi Allah (‘he ceased to be God’).
(5) Ayat ini diartikan: Yesus bukannya tidak tahu, tetapi tidak boleh/ tidak mau memberi tahu tentang hari Tuhan! Tetapi, ay 36 itu menyatakan bahwa manusia, malaikat, maupun Anak, tidak tahu. Sehingga ketidaktahuan Yesus mestinya mempunyai arti yang sama dengan ketidaktahuan manusia dan malaikat, yaitu betul betul tidak tahu.
Lalu bagaimana penafsiran / penjelasan yang benar?
Setelah inkarnasi, Yesus adalah 1 pribadi yang mempunyai 2 hakekat, yaitu hakekat ilahi dan hakekat manusia. Yesus mempunyai sifat sifat ilahi, maupun sifat sifat manusia. Karena itu kita tidak perlu heran kalau membaca Alkitab adanya ayat ayat yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya (mis.: Mat 8:23 27), dan ayat ayat yang menunjukkan kelemahan-Nya (mis.: Yoh 4:6, ”… Yesus sangat letih oleh perjalanan…) atau adanya ayat ayat yang menunjukkan bahwa Ia maha tahu (mis.: Yoh 1:46 50, Mat 9:4, 12:25, 16:8, 17:27), dan adanya ayat ayat yang menunjukkan bahwa Ia tidak maha tahu (mis.: Mat 24:36 Luk 2:40,52).

Aplikasi:
Berdasarkan ay 32 tadi, maka jelaslah bahwa tidak mungkin ada orang yang bisa mengetahui kapan Yesus akan datang untuk kedua kalinya, baik dari penyelidikan Alkitab, maupun dari mimpi, nubuat, bahasa lidah, wahyu Tuhan dsb. Tuhan tidak mungkin akan memberitahukan kepada manusia apa yang dalam firmanNya dikatakan tidak mungkin diketahui oleh manusia.
Dari tanda tanda akhir jaman yang sudah banyak terjadi, kita hanya bisa berkata bahwa hari Tuhan sudah dekat. Tetapi saat kedatangan Yesus (hari, bulan, tahun, bahkan abadnya) tidak mungkin bisa diketahui! Oleh karena itu usaha untuk mengetahui hari Tuhan, sebagai ‘kesia siaan’, karena usaha itu tidak mungkin akan berhasil. Tetapi ia juga menyebutnya sebagai ‘keberdo¬saan’, karena usaha itu menunjukkan bahwa orang itu tidak percaya pada apa yang Yesus katakan.
Spekulasi mengenai saat kedatangan yang kedua itu tidak kurang dari suatu penghujatan, karena orang yang berspekulasi seperti itu merebut dari Allah rahasia yang hanya menjadi milik Allah. Bahkan Bapa Gereja John Calvin mengatakan bahwa orang yang segan untuk tunduk pada ketidaktahuan tentang hari Tuhan, adalah orang yang luar biasa gilanya!
2. Kita harus berjaga-jaga (ay. 33, 34, 35, 37)
13:33 “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah!” Ay. 34, ”…. memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga.” Ay. 35, ”Karena itu berjaga-jagalah,…” Ay 37, ”Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!”

Di hari pertama masuk kerja setelah lebaran kemarin, menteri Pendayagunaan Apartur negara, Taufik Effendi, melakukan “isdak” (inspeksi mendadak) ke kantor-kantor/instansi pemerintah. Dalam isdaknya tersebut, Taufik Effendi mendapati adanya PNS yang sudah masuk kerja, tetapi ada juga yang membolos kerja.
Para karyawan/PNS yang kedapatan membolos kerja ini tidak tahu bahwa Taufik Effendi akan datang mendadak hari itu. Demikian juga dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali nanti. Tuhan sendiri dalam Markus 13:34 dan 37 mengatakan, “Karena itu berjaga-jagalah,… Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!”
Bukan kewajiban dari siapapun untuk berspekulasi; kewajiban kita adalah untuk mempersiapkan diri sendiri dan berjaga jaga. Bagian kita adalah berjaga-jaga dan bukan mencampuri urusan Allah, dengan mengitung-hitung dan menetapkan kapan Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya. Urusan mengenai kapan Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya adalah privacy Allah sendiri, jangan kita mencampuri urusan Allah. Sekali lagi, bagian kita adalah berjaga-jaga sedangkan soal kapan Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya itu adalah urusan Allah. Jangan dibalik.
Lalu apakah arti berjaga-jaga di sini? Kata “berjaga-jaga” di sini dalam bahasa aslinya adalah “gregoreo” yang berarti : “tidak tidur” atau “waspada.” Jadi berjaga-jagalah searti dengan “jangan tertidur” atau seperti ungkapan Bang Napi, “waspadalah, waspadalah…”
Kata-kata ini juga dipakai di dalam peristiwa Getsemani dalam pasal berikutnya (ps. 14). Setelah tiba di taman Getsemani, Tuhan Yesus minta agar murid-murid-Nya menunggu sementara Ia berdoa. Lalu bersama 3 murid-Nya, Ia maju untuk berdoa sendirian. Tidak lama kemudian, Yesus minta kepada mereka: “Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah” (ay. 34). Setelah berdoa, Ia menyapa Petrus: “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? (ay. 37).
Sampai di sini, kata “berjaga-jaga” masih dipakai dalam arti biasa/harafiah yaitu : “tidak tidur.” Tetapi selanjutnya, Tuhan Yesus berkata, ”Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (ay. 48). Jadi, ”berjaga-jaga” itu bukan soal tidak tidur saja melainkan berdoa juga.
Berdasarkan penjelasan tadi, maka dapat disimpulkan bahwa kata ”berjaga-jagalah” dalam ayat 33, 34, 35 dan 37 dipakai dalam 2 (dua) arti, yaitu arti biasa/harafiah : ”tidak tidur” pada malam hari (seperti halnya perumpamaan para penjaga pintu dan di peristiwa Getsemani) dan arti kiasan, yaitu : ”berjaga (secara rohani/spiritual)”, tanpa dilarang tidur secara fisik.
Dan ketika kata ”berjaga-jaga” itu kemudian dikaitkan dengan kedatangan Tuhan yang kedua kali, maka arti kata berjaga-jaga selalu diartikan dalam arti kiasan: Bersiap-siap/waspada agar jangan kaget saat kedatangan Tuhan Yesus yang tidak terduga-duga, seperti cerita film animasi berikut ini.

Ilustrasi : Clip Film Rapture-Everyday life

Aplikasi:
Sdr. Ready or not Jesus coming. Dan bukannya tidak mungkin di dalam konteks zaman ini, kedatangan Tuhan Yesus itu terjadi seperti yang digambarkan di dalam film tadi. Tuhan Yesus datang ketika sebagian orang sedang menunggu angkutan/di dalam bus kota, sedang sibuk menelpon, sedang meeting di kantor, sedang ngopi di café. Pertanyaannya adalah: “Sudah siapkah kita menanti kedatangan Tuhan? Apakah yg sedang kita persiapkan untuk menanti kedatangan Tuhan yang kedua kali?”
Atau mungkin kita kedapatan seperti seorang lelaki yang kaget saat kedatangan Tuhan Yesus yang tidak terduga-duga, sambil berlari-lari dan berkata, “Wait… wait… wait…” saya belum siap.
Di dalam menantikan adven yang kedua, yaitu “the second coming” firman Tuhan memerintahkan setiap kita untuk berjaga-jaga; berjaga-jaga secara rohani/spiritual. Waktu Tuhan Yesus datang, bagaimana dengan kondisi/stamina kerohanian kita? Ingat spiritual condition tidak bisa dipersiapkan the last minute. Kita tidak bisa menjadi orang Kristen yang rohaninya baik dalam waktu singkat.
Bagaimana mungkin stamina/kerohanian kita baik, kalau baca Alkitab saja hanya seminggu sekali di gereja? Bagaimana mungkin stamina/kerohanian kita baik, kalau ibadah saja kita sering absen? Hari Minggu yang seharusnya menjadi Holy-Day (Hari yang kudus), justru kita dijadikan Holiday (Liburan keluarga).
Sebagai Majelis Jemaat, aktivis, maupun pengurus komisi, seandainya Tuhan mengadakan inspeksi mendadak, biarlah kita kedapatan sebagai hamba yang baik dan setia, bukan sebagai pelayan/hamba yang malas dan suka membolos/melalaikan pelayanan/tugas.

Penutup:
Sdr. Selama masa penantian akan adven yang kedua, yakni kedatangan Kristus yang kedua (the second coming), maka akan ada dua kemungkinan, yaitu: Tuhan Yesus yang lebih dahulu datang atau kematian yang lebih dahulu datang menjemput kita. Kita sama-sama tidak tahu.
Selama masa penantian akan datangnya adven yang kedua itu, yaitu kedatangan Kristus yang kedua kali tersebut, marilah kita menjaga stamina/kondisi kerohanian kita dan bukannya sibuk menghitung-hitung kapan Tuhan Yesus datang.